Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur
(25) Di Rumah Sakit


__ADS_3

...Haaii readersku, bantu rate bintang 5 ya...


...Dan jangan lupa Vote, Love, Like, dan juga komen....


...Terimakasih....


Alan sadar dari pingsanya, ia melihat Nayla memeluknya dengan tangis.


"Aku di mana? Sarah, sepertinya tadi aku melihat Sarah?"


"Kamu di rumah sakit, tak ada Sarah di sini. Ini sudah 5 tahun Lan, Sarah juga tak mencarimu mungkin saja dia telah menikah."


Nayla tak mau Alan tahu jika dalam pesawat Sarah yang menolongnya. Sarah yang kini berubah sangat cantik dan juga elegan. Alan sendiri sebelum pingsan seperti sempat melihat Sarah. Namun Nayla mematahkan ingatanya dan mengatakan jika tak ada Sarah.


"Tidak aku yakin tadi ada Sarah, dia yang menolongku."


"Stop Lan, di sini adanya aku Lan. Kapan sih kamu lihat kearah ku. Please look at me."


Alan hanya diam saja, ia masih benar-benar yakin jika tadi ia melihat Sarah. Dokter yang menangani Alan datang. Dokter itu menyuruh Nayla keluar, karena Alan harus banyak istirahat dulu. Dan tidak boleh banyak diajak bicara apalagi berdebat. Dokter menyuntikan obat tidur di infus Alan.


Di tempat lain Sarah tengah membacakan dongeng untuk Salsha. Sarah senang karena akhirnya ia dapat memeluk putri semata wayangnya itu.


"Ma, kapan Salsha ketemu sama ayah? Ayah di mana sih Ma?"


Sontak hati Sarah seperti dirobek-robek, karena Salsha menanyakan keberadaan ayahnya. Ayah yang tak menginginkan kehadiranya. Dan malah ingin Salsha mati dengan cara di aborsi. Sarah meneteskan air matanya, ia sedih.


"Loh kok mama nangis sih, maafin Sarah ya. Kata kakek ayah di surga. Surga itu di mana ma, Sarah mau ke sana."


"Sekarang Salsha bobok ya, mama ngantuk dan juga capek."


"Iya ma."

__ADS_1


^^^"Jika kamu tahu nak ayahmu tak menginginkan kehadiranmu, apakah kamu akan tetap mencarinya? Dia sama sekali tak pantas kamu sayang nak." Batin Sarah.^^^


Pagi itu Sarah menyiapkan sarapan untuk keluarganya karena asisten rumah tangga mereka tengah pulang kampung. Biasanya mereka pesan makanan online namu kini Sarah yang memasak. Sarah sudah menyiapkan semuanya di meja makan.


"Loh kok kamu yang masak, jangan repot-repot sayang api akan membuat kulitmu jadi rusak. Kalau enggak ada bibi mama biasa beli."


"Enggak apa-apa kok ma, lagian Sarah suka masak."


"Ya udah terserah kamu saja."


Kini keluarga besar kumpul di meja makan, ayah Sarah dan juga Kenzo memuji masakan Sarah yang lezat. Sedangkan Lea hanya diam saja, ia menyatap masakan Sarah yang sebenarnya memang terasa enak.


"Seharusnya selain jadi dokter kamu jadi koki juga bisa."


"Apaan sih Ken, kamu juga jago masak aku tahu itu."


"Hanya bisa buka jago."


"Tuh Lea kamu juga harus bisah masak kaya Ken dan Sarah."


Lea berangkat kuliah ia tak menghabiskan makananya, Sarah jadi merasa bersalah karena kehadiranya Lea jadi seperti itu. Sarah tak bermaksud mengambil perhatian ayahnya dan juga Kenzo.


"Sudah besok udah baik lagi kok tuh anak."


Sarah hanya mengangguk mendengar ucapan Kenzo, Sarah menyuapi Salsha. Salsha yang sudah rapi dan siap berangkat ke sekolah. Salsha saat ini masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Salsha sangat senang karena sekarang yang antar jemput dia mamanya bukan bibi lagi.


"Ken berangkat dulu ya,"


Ken mencium yangan mama dan juga ayahnya, sedangkan Sarah masih menyuapi Salsha. Dan setelah itu ia akan mengantarkan Salsha dan pergi ke rumah sakit. Dan hari ini adalah hari pertama Sarah praktek di rumah sakit. Sarah berharap semua lancar dan sesuai dengan apa yang ia inginkan.


Sarah mengantarkan Salsha sekolah, tentu saja di antar supir. Meski Sarah sudah bisa menyetir mobil, namun ayahnya menyuruh supir untuk mengantarkan Sarah dan juga Salsha. Sampailah di sekolahan Salsha, Sarah mengantarkan Salsha sampai masuk sekolahan. Dan barulah ia meninggalkan putri kecilnya dan menuju rumah sakit.

__ADS_1


Sarah kembali teringat dengan Alan, ia cemas dengan keadaan Alan. Sarah cemas dengan keadaan orang yang harusnya ia benci saat ini. Orang yang mencampakanya setelah berbuat dosa besar padanya. Sarah sampai di rumah sakit, ia disambut oleh staf rumah sakit. Lulusan luar negeri memang tak diragukan keahlianya. Sarah langsung masuk ke dalam ruanganya yang sebelumnya telah ditunjukan.


Sementara itu kini Rendi dan juga Intan sudah menikah, dan mereka memiliki seorang putra yang masih berumur 2 tahun. Intan menjebak Rendi hingga mau tak mau Rendi harus menikah dengan Intan. Rendi juga berusa mencintai Intan, meski masih ada sisa cintanya untuk Sarah. Tapi demi Arkhana ia berusaha mencintai Intan dan hidup layaknya pasangan biasa lainnya. Arkhana adalah putra sematawayang Rendi dan Intan.


Sedangkan Fandy kini ia memiliki bengkel yang cukup besar berkat bantuan dana dari Sarah. Kehidupan Fandy sudah mulai membaik. Sarah yang banyak berhutang budi pada Fandy membantu Fandy dalam hal keuangan. Sarah ingin Fandy sukses dan hidupnya bisa berubah.


Sarah hendak memeriksa pasien namun langkahnya terhenti ketika melihat Nayla dan Alan. Nayla yang tengah membawa Alan jalan-jalan di taman rumah sakit dengan kursi roda. Alan nampak masih pucat, Nayla tengah menyuapi Alan. Dan Sarah kini yakin jika Alan dan Nayla memiliki hubungan lebih. Karena dari dulu Nayla memang suka dengan Alan.


Entah kenapa kini Sarah kesal, karena selama hampir 5 tahun Alan sama sekali tak pernah mencoba mencarinya. Bahkan Alan seperti tak ingin tahu apakah bayinya masiu hidup atau tidak. Sarah melanjutkan jalanya ia tak mau terlalu lama merasakan sakir hati. Maka ia segera pergi dan memeriksa pasien yang harus ia periksa.


Sarah nampak serius memeriksa pasien pertamanya, hari pertama menjadi seorang dokter. Motivasi Sarah adalah menyembuhkan orang, karena dulu ketika ia masih miskin ketika ibunya sakit dan ia tak memiliki cukup uang pihak rumah sakit tidak mau menangani ibunya yang tengah sakit parah.


Sarah berpapasan dengan Nayla yang hendak ke tolilet, Nayla menyetop Sarah. Keduanya kini saling tatap menatap. Sarah tak lagi menghidari tatap Nayla, Sarah sudah cukup berani untuk menatap Nayla balik.


"Untuk apa kamu kembali, jangan pernah kamu datang lagi di kehidupan Alan. Alan adalah miliki, dan sebentar lagi kami akan menikah."


"Siapa juga yang mau kembali sama orang seperti Alan, laki-laki bajing*n yang tak mau bertanggung jawb atas apa yang telah ia lakukan."


"Jaga mulut kamu ya."


Nayla hendak menampar Sarah, namun dengan singap tangan Sarah menghadang tangan Nayla. Sarah tersenyum, sedangkan Nayla terlihat emosi.


"Orang terpelajar tidak akan menggunakan otot tapi otak, oh ya kalau kamu tak mau Alan pergi darimu rantai saja dia."


Sarah meninggalkan Nayla, ia tak mau terlalu lama berdebat dengan Nayla. Karena ia melihat Alan kepanasan di taman menunggu kehadiran Nayla.


^^^"Dan bagiku kisah kita sudah usai, hanya tersisa puing-puing akan rasa ingin mengulang kembali kenangan indah kita dulu." Batin Sarah.^^^


Nayla yang kesal dengan kelakukan Sarah yang kini sudah mulai berani padanya. Nayla akan membuat perhitungan dengan Sarah. Ia tak akan membiarkan Alan bertemu dengan Sarah. Karena pastinya Alan akan kembali mengejar Sarah.


..."Awas Sarah lihat apa yang bisa aku lakukan padamu, jangan macam-macam denganku. Karena kamu pasti akan menyesal nantinya." Batin Nayla....

__ADS_1


-Bersambung-


Jangan lupa Rate 5, Vote, Like dan komentar karena itu adalah penyemangat Author. Dan jangan lupa bernafas ya!!1!


__ADS_2