
Alan meninggalkan rumah Sarah, sebelum pergi Alan mengecup kening Sarah. Sarah malu karena Alan mengecup keningnya di depan rumah.
"Aku pergi dulu, kamu istirahat biar cepat fit lagi."
"Iya, kamu hati-hati di jalan."
Alan menuju kantor polisi untuk mencabut laporanya, sebenarnya Alan tidak ingin mencabut laporan itu. Karena Lea dan ibu Lea pasti akan menyakiti Sarah dan juga Salsha. Namun karena itu adalah permintaan Sarah, akhirnya Alan mau mencabut laporanya.
"Aku masih tidak yakin jika kalian para bidadariku tidak akan baik-baik saja jika masih berada di dekat Lea dan juga ibunya itu." Batin Alan.
Sarah masuk ke kamarnya bersama dengan Salsha, Sarah ingin istirahat. Dan Salsha juga perlu istirahat karena ia masih dalam tahap pemulihan. Diam-diam Lea menguping pembicaraan Alan dan Sarah tadi.
"Benar bu, Alan akan mencabut laporanya dan kita tidak akan dipenjara. Sarah itu terlalu naif, bisa-bisanya dia melepaskan kita."
"Kamu harus tahu Sarah itu lemah."
Lea senang begitu pula dengan ibunya, sebenarnya Sarah juga ingin Lea dan ibu tirinya mendekam di penjara agar jera. Namun karena permintaan Ken, Sarah meminta Alan untuk mencabut laporanya itu. Karena memang Ken yang selama ini ada untuknya, bahkan ketika ia masih di luar negeri dulu.
Malam itu Alan mengajak Sarah untuk bertemu dan makan malam bersama. Sarah menyuruh Alan untuk tidak menjemputnya, dan mereka akan ketemuan di cafe yang telah mereka tentukan. Sarah tak mau Lea semakin panas karena melihat Alan menjemputnya. Karena setelah Alan mencabut laporannya, dan Lea serta ibunya bebas dan sudah berada di rumah.
Sarah bersiap-siap, ia hanya tampil biasa saja karena takur ada yang bertanya ia akan kemana. Salsha sudah tidur, jadi Sarah tak sempat berpamitan dengan Salsha. Sarah yakin jika Alan pasti akan mengucapkan kata-kata romantis untuknya. Sama seperti dulu, namun Sarah tak mau melakukan kesalahan yang sama untuk ke dua kalinya.
Sampailah Sarah di cafe tempat mereka kencan, dan Alan sudah ada di sana. Alan juga sudah memesankan makanan untuk Sarah. Karena Alan tahu kesukaan Sarah.
"Masih ingat aja."
"Iya ingatlah, tak akan ku lupakan. Dan memang tak bisa ingi ku lupakan."
Alan memengang tangan Sarah, mereka saling tatap satu sama lain. Alan tersenyum begitu juga dengan Sarah, kedua bola mata mereka beradu. Mereka tengah merasakan hangatnya sebuah hubungan.
"Aku mencintaimu, dari dulu sampai saat ini."
"Aku juga masih mencintaimu."
Alan mengambil kotak perhiasan yang ada di sakunya, Alan memberikan cincin untuk Sarah. Sarah terkejut karena Alan memberikan cincin untuknya. Cincin yang indah, dan sepertinya Alan ingin melamarnya.
"Maukah kamu menikah denganku?"
Senyum Sarah mengembang, karena Alan kini melamarnya. Hal yang seharusnya Alan lakukan dulu ketika tahu Sarah hamil. Namun tak ada kata terlambat, pintu maaf Sarah untuk Alan kini terbuka. Sarah tersenyum, dan kini Alan memakaikan cincin itu di jari manis Sarah.
"Aku mau kamu menjadi ayah Salsha seutuhnya, dan kita mulai dari awal lagi."
__ADS_1
Alan senang sekali, ia mengecup jari-jari tangan Sarah. Sarah juga nampak bahagia karena ia mengakui perasaanya dan tidak lagi menutupinya. Atau berpura-pura jika rasa itu telah hilang. Hanya karena ia takut Alan akan melakukan hal yang sama seperti dulu.
Alan berdiri dan beranjak ke panggung cafe itu, Alan menyanyikan lagu untuk Sarah. Sebuah puisi yang dilantunkan untuk Sarah.
Terimakasih tuhan,
Terimakasih telah memberikanku kesempatan kedua untuk bersamanya.
Dia yang ku cintai, dan dia yang ku sayangi.
Dia yang sempurna dan aku yang biasa.
Dia yang suci dan aku yang pendosa.
Aku mencintainya lebih dari aku mencintai.
Dan aku berjanji akan selalu ada untukmu.
Jadi maukah kamu jadi permaisuriku?
Alan mengulurkan tangannya, dan Sarah ikut naik ke keatas panggung. Para pengunjung cafe, menyoraki mereka, Sarah mengangguk dan Alan memeluk Sarah. Begitu pula dengan Sarah yang memeluk erat Alan.
Hari semakin malam, Alan mengantarkan Sarah pulang dan ia tak lupa membelikan martabak untuk Salsha dan juga kue untuk ayah Sarah. Sarah tak bisa mengunggukapkan betapa bahagianya ia saat ini. Sarah menatap Alan, ketika mereka masih mengantri saat membeli martabak.
"Apaan sih, ngombal terus kamu. Sekarang bucin ya?"
"Karna kamu."
Sarah dan Alan menuju rumah Sarah, karena Salsha pasti sudah menunggu Sarah. Mereka sampai rumah, Alan hanya mengantarkan Sarah sampai depan rumah saja. Karena Sarah menolak diantarkan sampai depan dalam.
"Besok aku datang untuk melamarmu."
"Aku tunggu."
Ketika hendak masuk rumah Ken menghentikan Sarah, Sarah menatap Ken begitu pula dengan Sarah.
"Ada apa?"
"Kenapa kamu jalan dengan Alan? Aku tahu Alan adalah ayah Salsha, tapi kamu tahu kan Alan itu dekat dengan Lea."
"Aku hanya ingin Salsha memiliki seorang ayah, dan aku ingin Salsha bersama dengan ayah kandungnya."
__ADS_1
Ken tak bisa bicara lagi, Ken marah karena Alan telah melaporkan ibunya dan Lea. Meski Alan sudah mencabut tuntutannya.
"Tapi kamu tahukan Lea suka dengan Alan."
"Aku hanya ingin bahagia Kak."
Sarah sedih dan hampir meneteskan air matanya, Sarah pergi meninggalkan Ken dan menuju kamarnya. Ia menaruh kue dari Alan untuk ayahnya di meja, dan membawa martabaknya ke kamar. Ken menjadi aneh dan menjadi tak suka jika Sarah bersama dengan Alan. Sarah sedih karena Ken tak suka hubungannya dengan Alan. Ken takut jika nanti Alan akan menyia-nyiakan Sarah seperti dulu.
"Ma..mama, mama baru pulang?"
"Iya ini mama bawain martabak, mau makan sekarang atau taruh kulkas dulu?"
"Sekarang suapin ya ma."
Sarah menyuapi Salsha martabak manis, Salsha yang sangat suka dengan martabak sama seperti Alan.
"Ma..kapan Salsha ketemu ayah?"
"Kenapa? Salsha enggak seneng cuma sama mama?"
Salsha menggelengkan kepalannya, ia bingunh harus menjawab apa.
"Sayang kenapa diam?"
"Di sekolah aku diejek enggak punya ayah, kapan Salsha punya ayah?
"Sebentar lagi, Salsha sabar ya?"
Salsha mengangguk, Sarah melanjutkan menyuapi Salsha martabak. Ponsel Sarah berbunyi, sebuah pesa dari Alan.
"Hai bidadariku jangan lupa sholat, makan , bacain dongeng Salsha, minum, ngopi, ngeteh, coklat panas. Tapi yang paling penting jangan lupa mencintaiku."
Sarah tertawa membaca pesan Alan yang terdengar lucu itu. Baginya kini Alan sudah jauh lebih baik, dan dewasa. Sarah tidur, ia berharap tak terjadi apa-apa esok hari ketika Alan melamarnya. Dan meminya izin ayahnya untuk menikah.
"Aku bahagia memilikimu terimakasih telah hadir dihidupku. Aku mencintaimu, dan aku tidak pernah lupa akan hal itu."
Jawaban pesan singkat dari Sarah untuk Alan.
_Bersambung-
Nay datang lagii meski agak telat
__ADS_1
love you readers