Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur
(39)Jatuh Ke jurang


__ADS_3

"Saat ini aku berada dalam pilihan mati saja lebih baik dari harus diperkosa 3 penculik. Tapi disisi lain ada penyemangatku yang tetap harus ku jaga, Salsha." Batin Sarah.


"Nona jangan takut, kita pelan-pelan."


"Nona sudah tidak perawan to, jadi tidak sakit."


Sarah seperti menolak, ia tak mau disetubuhi para penculik itu. Ia juga tidak tahu bagaimana caranya kabur dari tempat laknat itu. Sarah kehabisan cara dan hampir kehabisa energi. Penculik itu mendekati Sarah, hampir mencium kening Sarah. Dan ponsel penculik itu berdering, nyaris saja Sarah dicium. Namun kini ia bisa bernafas sedikit lega karena para penculik itu pergi meninggalkannya.


Sarah mencoba melepas ikatatnya, dengan teknik yang ia tahu akhirnya ikatan itu bisa lepas. Namun Sarah kembali memasukkan tangan ke ikatan tali karen penculik itu datang lagi. Penculik itu disuruh Lea untuk memindahkan Sarah, karena ada yang sudah tahu keberadan Sarah. Sarah dibawa paksa masuk ke dalam mobil. Kini Sarah hanya bisa pasrah saja, berpura-pura lemas.


Mobil sudah berjalan, Sarah melepaskan ikatanya dan memukul preman yang ada disampingnya. Sarah membuka pintu mobil dan melompat, para penculik itu menghentikan mobilnya. Karena hendak menangkap Sarah kembali, namun ketika mereka mundur mereka tidak mendapati Sarah. Dan mereka berfikir jika Sarah sudah jatuh ke jurang. Karena tempat Sarah melompay dari mobil ternyata jurang.


"Apa yang harus kita katakan pada bos?"


"Katakan saja yang sejujurnya."


Penculik itu menelfon Lea, dan mengabari jika Sarah melompat dari mobil dan jatuh ke jurang.


"Apa sudah kau pastikan dia mati? Kalau mati malah bagus."


"Saya tidak melihat jasadnya, tapi kecil kemungkinan dia selamat."


Alan mendatangi rumah Sarah, dan orang rumah mengatakan jika Sarah pamit ke rumah sakit karena ada operasi mendadak. Alan menuju rumah sakit, ia ingin memastikan apakah Sarah benar-benar ada di sama. Karena saat ini perasaan Alan menjadi tidak enak. Alan merasa ada apa-apa dengan Sarah, Alan mencemaskan keadaan Sarah.


Sampai di rumah sakit ia malah melihat Salsha, Ken dan seorang perempuan yang sepertinya kekasih Ken di bawa ke UGD. Alan mengikuti para perawat yang membawa mereka. Hingga Alan tak boleh masuk UGD karena mereka akan ditangani oleh para dokter.


"Apa anda keluarganya?"


"Tidak, tapi saya kenal dengan mereka."


"Ya sudah hubungi keluarga mereka."


Alan mengambari Lea, ibu Lea syok karena ia lupa jika mobil Sarah sudah ia sabotase dan malah digunakan oleh Ken. Lea dan ibunya ke rumah sakit untuk melihat keadaan Ken. Keadaan Salsha mulai menurun karena Salsha mehilangan darah. Ditambah golongan darah Salsha sangat susah yaitu AB positif. Alan yang golongan darahnya sama mendonorkan darahnya untuk putrinya itu.


Saat ini Alan memilih untuk menolong putrinya dulu, baru ia akan mencari Sarah lagi. Alan berharap Salsha segera membaik dan ia juga bisa segera menemukan Sarah.


"Dua wanitaku semoga mereka baik-baik saja, ayah lmencintaimu Salsha. Dan aku mencintaimu Sarah." Batin Alan.


Lea dan ibunya sampai di rumah sakit, kondisi Ken cukup stabil. Dan kondisi kekasihnya juga baik-baik saja, hanya Salsha yang kritis.

__ADS_1


"Buguslah, mudah-mudahan Salsha mati." Batin ibu Lea.


Sarah ternyata memang benar-benar jatuh ke jurang yang ternyata dibawahnya adalah sungai. Sarah terbawa oleh arus air sungai entah kemana.


Semesta..


Akan ku jaga, semesta abadi selamanya.


Dan aku takkan pergi dan melepasmu, dengan sadarku ku masih mau menuju tujuku.


Dan ku berjanji kan selalu ada.


Karena semestaku ada pada kamu.


Alunan musik yang terdengar merdu, Alan selesai donor darah ia kembali mencari Sarah. Alan menyusuri kota namun tak menemukan Sarah.


"Aku harap kamu baik-baik saja, semestaku...."


Ken sadar dari pingsanya, ia menyebut nama Salsha. Ken melihat keadaan Salsha yang belum sadarkan diri sementara kekasinya sudah sadarkan diri.


"Kenapa sih kak segitunya sayang sama Salsha, dia kan ancaman buat kita."


"Harta ayahlah."


"Sampai segitunya pikiranmu?"


"Iyalah kak, Salsha dan Sarah adalah ancaman buat kita."


Ken hanya diam saja ia malah melihat keadaan Salsha, ia tak mau berdebat dengan Lea. Karena menurutnya harta hanyalah titipan. Dan harta juga tidak bisa dibawa mati. Ken menatap Salsha ia berharap Salsha cepat pulih.


Alan tak menemukan Sarah, ia putus asa dan memilih kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan putrinya. Alan tahu pasti semua ini adalah ulah Lea, hanya Lea yang benci dengan Sarah. Apalagi Lea marah besar ketika melihat dirinya memilih bersama dengan Sarah.


Alan sampai rumah sakit, ia menemui Lea. Alan marah-marah dengan Lea. Alan menuding Lea untuk yang telah membuat Sarah hilang.


"Katakan di mana Sarah? Pasti kamu yang menyembunyikan Sarah?"


"Apaan sih kamu? Aku tak mungkin sefrustasi itu, ketika aku tahu Salsha adalah anak kamu dan Sarah."


"Apa Salsha anak Alan dan Sarah, gimana ceritanya?"

__ADS_1


"Kak Ken, Alan dan Salsha dulu itu pacaran. Dan Sarah hamil duluan."


"Sudah, katakan di mana Sarah?"


Lea masih tak mengaku di mana keberadaan Sarah, karena ia juga tidak tahu keberadaan Sarah. Karena Sarah jatuh dari mobil, dan para suruhannya itu tidak tahu di mana keberadaan Sarah.


Alan meninggalkan rumah sakit, karena ia ingin mencari Sarah. Alan yakin semua ini ada hubungannya dengan Lea dan juga ibu Lea.


"Harus kemana aku mencarimu, tuhan berikan aku kesempatan kedua untuk bersamanya. Dan menebus kesalahanku padanya." Batin Alan.


Alan tak menemukan jejak Sarah, namun melalui mata-matanya sudah dapat kabar akan penculikan Sarah. Alan menuju tempat yang dimaksud oleh para orang suruhannya itu. Namun sampai tempat itu Sarah tidak ada, sepertinya sudah dipindahkan oleh para penculik itu. Alan juga sudah tahu jika itu adalah ulah Lea dan juga ibunya itu.


"Kamu di mana tolong munculah, aku mencintaimu." batin Alan.


Salsha sudah melewati masa kritisnya, ia sudah siuman dan kini mencari mamanya. Lea yang menunggu Salsha mengatakan jika mamanya meninggal. Salsha berteriak-teriak, hingga Ken yang masih menggunakan infus mendatangi ruangan Salsha.


"Salsha kenapa sayang?"


"Kata tante Lea mama udah enggak ada, om Ken mama di mana? Kenapa mama enggak ada?"


"Mama masih kerja sayang tunggu nanti pasti mama datang."


Ken mengajak Lea keluar sebentar, ia berdebat dengan Lea. Ken memarahi Lea karena Lea mengatakan hal buruk pada Salsha.


"Enggak seharusnya kamu bicara begitu dek."


"Terus aja belain Sarah, yang adik kadung kakak siapa aku atau Sarah?"


"PLAK..."


Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Lea, tidak terlalu kencang. Namun tamparan itu membuat Lea sakit hati. Lea meninggalkan kakanya itu, ia benar-benar kecewa dengan Ken.


-Bersambung-


**Haii aku datang lagii yaa, mahmud yang suka nulis ini. Alhamdullilah sudah berangsur sembuh setelah tidak bamyak gerak hehe. Curcol ceritanya.


Semoga kalian suka, jangan lupa tinggalkan jejak!!


I love you, para readers setia**

__ADS_1


__ADS_2