
Danil mengajak Sarah untuk pulang, setelah membayar bil mereka pergi meninggalkan restoran itu. Tak lupa membungkus makanan yang diminta oleh sang anak. Mereka masuk ke dalam mobil, dan kini mobil mereka melaju di jalan raya. Sarah nampak sedikit lupa masalahnya dengan Alan. Dan Sarah juga tidak memikirkan apa maksud pesan dari Alan.
"Apa kamu meninginginkan perpisahan Lan, baiklah kita akhiri semua ini. Mungkin kita memang tidak jodoh. Dan Danil adalah jodoh dari tuhan untukku." Batin Sarah.
"Kok melamun sayang? Kenapa?" tanya Danil.
"Tidak, aku hanya sangat bahagia hari ini." ucap Sarah sambil tersenyum.
Akhirnya mereka sampai rumah, karena lelah entah atau apa Salsha ketiduran. Danil membopong anaknya itu masuk ke dalam rumah. Dan meletakanya di kasur empuk yang ada di kamar Salsha. Sarah juga ikut mengantarkan Salsha, mereka mengucapkan selamat tidur untuk putri mereka.
Sarah dan Danil menuju kamar mereka, Sarah dan Danil rebahan di kasur. Sarah nampak kembali resah jika nanti posisinya di rumah sakit digantikan oleh anak baru itu.
"Ada apa sih sayang?" tanya Danil sambil mengusap lembut kening Sarah.
"Aku takut mas." jawab Sarah.
"Takut apa?" tanya Danil.
"Takut posisiku digantikan di rumah sakit." jawab Sarah.
Danil menatap Sarah, ia meyakinkan pada Sarah jika tidak ada yang akan menggantikan posisinya. Dan jika terganti juga tak apa, karena Danil masih bisa membiayai biaya hidup mereka meski hanya Danil yang bekerja.
"Tadi aku telat mas datang ke rumah sakit." ucap Sarah.
"Kok bisa telat sayang?" tanya Danil.
"Alan.." ucap Sarah.
"Kenapa Alan, apa dia menganggumu. Apa kamu janjian lagi dengan dia?" tanya Danil sedikit emosi.
"Aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Alan mas, aku sudah tak mau lagi berhungan dengannya."
"Baguslah." jawab Danil singkat.
__ADS_1
Karena membahas Alan, Danil jadi enggan untuk bermesraan dengan Sarah. Danil jadi ragu, dan ia kini memutuskan untuk tidur saja. Begitu pula dengan Sarah, tak ada lagi kata yang terucap diantara mereka. Dan kini mereka terlelap dalam mimpi masing-masing.
Ayah Danil kini tak sudi memiliki menantu seperti Sarah, Sarah yang seperti pelac*r karena masih sering bertemu dengan Alan. Ayah Danil berencana memisahkan Sarah dan juga Danil. Namun ayah Danil juga masih ragu jika nantinya Danil berpisah dengan Sarah akan membuat Danil menjadi gila seperti saat kepergian Cantika dulu.
Malam itu Alan masih gelisah, ia gelisah dengan keputusannya untuk meninggalkan Sarah dan memulai hidup baru. Meski dalam lubuk hatinya yang paling dalam masih sangat mencintai Sarah. Namun ternyata kisah cinta mereka memang tak ditakdirkan untuk bersama.
Pagi harinya Sarah menyiapkan sarapan untuk Danil dan juga Salsha. Sarah nampak sudah sedikit tenang, Salsha sudah siap pergin ke sekolah. Mereka sarapan bersama, nampak seperti keluarga bahagia. Keluarga bahagia yang sederhana itulah impian Danil.
"Enak juga masakan kamu sayang." ucap Danil.
"Jangan memujiku, nanti aku besar kepala." jawan Sarah.
"Tapi ini memang enak, benarkan Salsha masakan mama Sarah enak?" ucap Danil.
"Benar pa, seharusnya mama buka restoran saja bukan jadi dokter. Mama sibuk kalau jadi dokter." jawab Salsha.
"Mama janji akan atur waktu buat jalan-jalan sama Salsha." ucap Sarah.
"Janji ya ma." ucap Salsha.
Danil mengantarkan Salsha dan juga Sarah, Danil hari ini masih libur kerja. Karena Danil diberi kelonggaran dari kantor untuk istirahat terlebih dahulu. Sampai juga di sekolahan Salsha, Salsha turun dari mobil dan masuk ke dalam sekolahan. Dan kini Danil mengantarkan Sarah ke rumah sakit.
"Jangan cemas sayang, semua akan baik-baik saja." ucap Danil sambil mencium kening Sarah sebelum melajukan mobilnya.
Sarah tersanjung, Sarah merasa semangat ia sangat berharap janin yang ada di kandungannya adalah anak Danil. Karena jika itu anak Alan, semuanya akan menjadi semakin rumit saja. Danil memacu mobilnya, dan setelah beberapa menit mereka sampai di rumah sakit tempat Sarah berkerja.
"Semangat Sayang, jangan nakal ya anak papa." ucap Danil sambil mengelus perut Sarah.
Danil yakin jika itu adalah anaknya, Sarah tersenyum dan kemudian ia berjalan meninggalkan Danil. Sementara Danil masih menatap kepergian Sarah, hingga matanya tidak dapat lagi melihat punggung Sarah. Barulah Danil meninggalkan rumah sakit, Danil telah meninggalkan rumah sakit.
Sementara itu Alan menuju rumah sakit untuk menemui Sarah. Ia sudah memantapkan hatinya untuk pamitan dan minta maaf pada Sarah. Alan ingin mengakhiri kisah cintanya dengan Sarah yang begitu rumit ini. Alan lelah, apa lagi kedua orang tuanya tidak merestui hubunganya dengan Sarah. Alan mampir ke toko perhiasan, ia ingin membelikan hadiah kenang-kenangan untuk Sarah.
Sarah berada di ruanganya, dokter muda yang menggantikan Sarah ternyata juga menggantikan ruanganya. Sarah di suruh pindah ruangan, dan Sarah kini hanya jadi dokter cadangan saja. Hati Sarah begitu hancur, namun apa dayanya Sarah kini pindah ruangan. Dengan wajah muram, sedangkan dokter muda itu begitu ceria.
__ADS_1
"Saya yang akan menggantikan anda ketika nanti ada cuti melahirkan, dan agar terbiasa kepala rumah sakit menyuruh saya untuk menempati ruangan ini." ucap dokter muda itu.
"Ya, saya mengerti." jawab Sarah meninggalkan ruanganya dan pindah ke ruangan yang telah disediakan.
Sarah begitu kesal mengapa tidak dokter baru itu yang ada di ruangan baru ini. Kenapa dirinya yang harus pindah, ah rasanya tidak adil itulah yang dirasakan oleh Sarah saat ini.
Alan sampai di rumah sakit, ia menanyakan pada resepsionis apakah dokter Sarah ada di ruanganya. Dan ternyata Sarah sudah pindah ruangan. Alan menuju rungan baru Sarah. Sampai di depan pintu ruangan Sarah, Alan mengetuk pintu, dan Sarah mempersilakan masuk. Ketika melihat yang datang adalah Alan, jatung Sarah sedikit berdebar, entah takut atau apa yang pasti Sarah merasa sedikit syok.
"Silakan duduk, ada apa kamu kemari?" tanya Sarah.
"Aku mau minta maaf, dan aku mau memberikanmu ini." ucap Alan sambil menyodorkan kotak perhiasan yang berisi kalung.
"Apa ini?" tanya Sarah.
"Lihat saja nanti, kedatanganku kemari ingin mengakhiri hubungan kita." ucap Alan.
"Kurasa memang seharusnya seperti ini." jawab Sarah.
"Ya hubungan kita menang tidak seharusnya, semoga kamu bahagia dengan Danil." ucap Alan.
Sarah berdiri, dan Alan memeluk Sarah.
"Aku masih sangat mencintaimu, semoga kamu bahagia dengan Danil. Aku titipe Salsha, terimakasih untuk kisah kita selama ini." ucap Alan.
Mereka berpelukan cukup lama hingga dokter baru itu melihatnya dan memfoto adegan pelukan Sarah dan juga Alan.
"Ini bisa jadi bahan, pasti Ayah Danil akan senang." Batin dokter muda itu.
-Bersambung-
Hay jangan lupa beri like
Apalagi komentranya sangat ditunggu hehe.
__ADS_1
Semoga bisa up setiap hari yaa hehhe.
Votenya janga lupa, apalagi koinya hahha.