Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur
(56)Dua garis biru


__ADS_3

Sarah sedang menangani pasien ia teelihat pucat, suster bertanya apa dokter Sarah tak makan siang tadi. Sarah menjawab jika ia sudah makan siang. Sarah semakin cemas, karena tanda-tanda kehamilnya semaki terlihat. Sarah hanya bisa pasra jika nanti bayinya lahir baru ia akan tahu itu anak Danil atau Alan. Tanda cintanya dengan Alan, atau perlakukan Danil.


"Aku tidak apa-apa jangan cemas."


Suster mengelap keringat Sarah, Sarah tengah menangani operasi. Keringat terus bercucuran dari dahinya, suster juga terus mengelap keringat Sarah.


"Operasi berhasil."


Sarah segera keluar dari ruang operasi, ia lalu istirahat sejenak di ruangannya. Sungguh ia merasa pusing dan juga mual. Sarah belum berani tespack karena ia tak mau hamil. Apa lagi jika nanti ia hamil anak Danil, tapi apa dayanya jika ia hamil Sarah pasti juga akan sangat menyangi anaknya itu.


"Aku hujan-hujan dengan Mia, namun aku merasa itu adalah Sarah. Entah bagaiamana aku bisa merasakan jika itu kamu. Padahal itu adalah Mia, orang asing yang bahkan aku tidak rupanya." Batin Alan.


Alan mengira Mia adalah Sarah, memang ketika hujan-hujanan tadi yang bersama Alan bukanlah Mia tapi Sarah. Meski mata Alan tak dapat melihat namun hati Alan tahu jika cinta sejatinya ada di dekatnya. Jika Sarah selalu bersama dengannya di hatinya.


Alan duduk di teras rumahnya menikmati sore hari dingin karena gerimis. Kali ini Reza tak datang karena Alan bilang ia akan seharian di rumah saja. Jika nanti Alan ingin pergi baru ia akan menghubungi Reza.


"Jika sore ini bersamamu pasti akan terasa sangat menarik, dan hariku tak sesepi ini. Kedua mataku yang tak bisa melihat menambah duka sepi ini." Bati Alan


Sarah sudah sampai di rumah, ia melihat Salsha tengah bermain dengan asistem rumah tangganya. Sarah masuk ke kamarnya untuk melepas penat. Sarah mengambil tespack yang ia beli tadi. Namun Sarah kembali meletakkannya karena ia ragu. Ia masih belum siap jika harus tahu kenyataanya dia hamil.


"Jika itu tanda cintamu, dan kita mengulang kesalahan yang sama. Dan kini bukan kamu yang meninggalkanku tapi aku yang meninggalkanmu. Sungguh ini bukan inginku, dan aku juga tak ada niatan untuk balas dendam denganmu. Karena aku masih sangat mencintaimu." Batin Sarah.


Sarah melucuti pakaiannya, ia mandi air hangat, mungkin dengan berendam bisa membuat fikiranya kembali segar. Benar saja Sarah menjadi tenang, ia tak ingin memikirkan hal-hal yang membuatnya pusing.


Danil pulang dari kantor, ia melihat sepatu Sarah sudah ada di tempatnya. Danil tahu jika Sarah sudah pulang, mungkin saat ini Sarah tengah mandi. Danil istrirahat sejenak. Ia membanting tubuhnya ke kasur rasa penat setelah seharian berkerja di kantor. Pekerjaam yang menguras pikiran juga membuat badan ikut pegal.


"Sarah..apa masih lama? Aku juga mau mandi."

__ADS_1


Danil memanggil Sarah, namun tak ada jawaban dari Sarah. Danil membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak dikunci. Dan ternyata Sarah ketiduran saat berendam. Danil tak tega membangunkan Sarah yang sepertinya menikmati tidurnya itu. Danil memilih untuk mandi di kamar mandi lain saja.


Makan malah, Sarah nampak tak nafsu makan selera makannya hilang. Dan Sarah juga masih mual-mual, Danil yang melihat gerak-gerik Sarah berfikir jika Sarah hamil. Sarah ke kamar mandi karena mual yang sangat yang ia rasakan.


"Papa, apa mama sakit? Mama kenapa?"


"Salsha pengen punya adik bayi enggak?"


"Pengen, biar aku ada temannya Pa. Jadi enggak kesepian kalau mama sama papa pergi."


Danil mendekati Sarah, ia memijit leher belakang Sarah. Sarah membiarkam Danil menyentuh tubuhnyan, karena mual yang ia rasakan sangatlah parah.


"Udah tes?"


"Tes apa?"


Sarah tediam, ia akan melakukan tes itu esok hari, karena urine dipagi hari adalah yang paling akurat untuk tes kehamilan. Danil membantu Sarah masuk ke kamar, Sarah yang tak nafsu makan memilih untuk tidur saja.


Danil tidur di samping Sarah ia sangat berharap Sarah hamil. Karena jujur saja Danil ingin seorang anak darah dagingnya. Danil terlelap dalam mimpi indahnya, mimpi yang mungkin ia tengah bertemu dengan Cantika.


Pagi itu Sarah bangun tidur, ia ke kamar mandi untuk buang air kecil dan memastikan apakah ia hamil atau hanya masuk angin. Sementara itu Danil menunggu Sarah dengam harapan Sarah hamil. Sarah meneteskan urinya ke alat tes kehamilan. Selang beberapa menit munculah dua garis biru. Sarah hamil, ia kini tak tahu harus senang atau sedih.


Sarah keluar dari kamar mandi, Danil bertanya bagaimana hasilnya. Sarah menunjukan tespack yang ia bawa. Danil senang karena ternyata Sarah hamil, dan itu tandanya ia akan jadi bapak. Danil tiba-tiba memeluk Sarah, Sarah hanya diam karena ia masih syok setelaj tahu kenyataannya dia hamil. Ia ragu jika janin yang ada dalam kandungannya adalah anak Danil.


Mia membawa kabar gembira untuk Alan, karena sudah ada donor mata untuk Alan. Dan operasi akan dilakukam sekitar 2 minggu lagi. Dan Alan harus menyiapkan fisik dan juga mentalnya. Karena merasa sangat senang Alan tak sengaja memeluk Mia.


"Maaf, aku terlalu senang."

__ADS_1


"Enggak apa-apa kok Mas, aku tahu."


Sebentar lagi Alan bisa melihat, dan orang yang pertama kali ingin Alan lihat adalah Salsha dan juga Sarah. Mia mengajak Alan jalan-jalan, agar Alan tidak bosan dan juga stres di rumah saja. Dan agar Alan tak merasa sendirian atau kesepian.


"Lepaskan jangan peluk aku, ini hanya kecelakaan. Kehamilan yang tak ku inginkan."


"Jangan bicara seperti itu, dia adalah calon jagoan kita."


"Kamu yang telah menodaiku."


"Kamu adalah istriku, dan itu kewajibanmu."


"Apa kamu lupa kita menikah karena terpaksa."


"Aku ingat, tapi kenapa tidak kita coba jalani saja."


Sarah dan Danil saling pandang, Danip sudah memberi sinyal jika ia membuka hatinya untuk Sarah. Namun Sarah sam sekali tak berminat, karena hatinya masih untuk Alan.


"Aku tidak bisa."


Sarah masuk ke kamar mandi, dan meninggalkan Danil yang masih memegang hasil tespack itu. Sarah mengguyur rambutnya ia membasah' seluruh tubuhnya. Ia merasa hina karena bisa hamil dengan Danil. Namu ia juga belum yakin jika itu adalah anak Danil. Karena Alan juga memberinya tanda cinta sebelum kecelakaan itu


Danil menatap tespack itu dan tersenyum, ia akan berusaha membuat Sarah jatuh cinta padanya. Dan mereka bisa mulai semua dari awal dengan cinta.


"Aku yakin suatu hari nanti kamu akan mencintaiku, dan cintaku dan juga cintamu tumbuh dan berkembang. Batin Danil.


-Bersambung-

__ADS_1


Haii datang lagii, alhamdulillah masih bisa menyalurkan hobi sambil momong dedek bayi yang pinter dan enggak rewel.


__ADS_2