Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur
(63) Terbongkar


__ADS_3

..."Tolong katakan padaku jika kamu masih mencintaiku, aku sedang tidak baik. Aku sedang tidak baik-baik saja, aku merindukan mu, aku rindu akan kisah kita berdua. Aku ingin impian kita jadi nyata." Batin Sarah....


Sarah telelap, Danil memeluk tubuh Sarah ketika Sarah tidur. Sarah yang tidur miring kiri dipeluk oleh Danil dari belakang. Sarah membiarkan posisi itu, karena ia kini juga tak punya alasan untuk menolak hal itu. Kenyamanan dari Danil sedikit membuatnya terlena. Danil yang baik, bahkan mencintai Salsha dengan tulus. Dan kini sangatlah susah mencari pasangan bisa mencintai anak tirinya.


"Biarkan aku memelukmu, jangan banyak gerak. Dan biarkan aku mengelus perutmu. Semua akan mudah pejamkan mata dan kita nikmati saja." Bisik Danil.


Sarah hanya diam seolah ia pura-pura tidur, atau memang tengah tidur pulas hingga dirinya tak menjawab kata-kata manis dari Danil. Danil mengelus lembut perut Sarah yang masih rata karena masih hamil muda. Danil kembali membayangkan jika Sarah adalah Cantika.


Pagi itu Alan sudah dibolehkan pulang, tinggal menunggu suster yang akan melepas infus Alan. Mia juga masih ada di sana. Mia masih setia menemani Alan. Alan sebentar lagi akan operasi donor mata. Sekitar 2 mingguan lagi, Alan dianjurkan untuk istirahat total dan menyiapkan mentalnya.


"Mia aku sudah tak sabar."


"Tak sabar untuk apa?"


"Melihat wajahmu."


"Nanti kamu akan kecewa, aku tidak secantik Sarah."


Alan diam saja, Mia mengambilkan makanan untum Alan. Dan mulai menyuapi Alan, masakan rumah sakit memang sedikit hambar karena mereka tidak menggunakan penyedap rasa. Alan tak mau makan, hingga Mia harus membujuk Alan dengan susah payah. Hingga pada akhirnya Alan mau makan juga.


"Rasanya beda dia tidak seperti Mia saat hujan-hujan dan saat makan mie ayam waktu itu." Batin Alan.


Sarah juga sudah sampai rumah sakit, Sarah melihat Mia menyuapi Alan. Mia terlihat begitu telaten menyuapi Alan. Sarah merasa jika Mia yang lebih pantas untuk Alan dan bukan dirinya. Tapi ia juga tak mau menyerah begitu saja. Karena Sarah yang Alan adalah cinta sejatinya bukan Danil.


"Seharusnya aku yang ada di sana, dan bukan dia. Seharusnya aku yang menyuapi Alan." Batin Sarah.


Suster yang bertugas untuk mencopot infus Alan sudah datang. Alan akan segera pulang, dalam masa pemulihan orang tua Alan ingin Mia dan Reza 24 jam menemani Alan. Karena Alan butuh teman dan juga ketenangan, orang tua Alan akan kembali ke luar negeri untuk sementara waktu.


"Tante sama om titip Alan ya? Masalah bayaran tenang saja pasti kita bayar tepat waktu dan lebih besar."


"Terimkasih om tante, saya akan menjaga mas Alan."


Sarah masih di ruanganya ia tak mau sakit hati ketika melihat Alan bersama dengan Mia. Apalagi saat ini ia tengah hamil muda dan tidak boleh terlalu stres dan mikir macam-macam. Sarah yakin jika janin yang ada di rahimnya adalah anak Alan. Namun ia juga belum bisa memastikan sebelum anaknya lahir.


"Aku cemburu, hatiku hancur saat ini. Kamu bersama dengan orang lain. Dan aku juga tidak bersamamu, kita saling cinta namun tidak bisa bersama." Batin Sarah.


..."Aku yakin orang yang bersamaku saat itu bukanlah Mia, tapi kamu. Dan aku yakin itu pasti kamu, Sarah!!" -Alan-...

__ADS_1


Alan sudah pulang, Sarah hanya melihat dari kejauhan kepulangan Alan. Sarah melihat Alan baik-baik saja, Alan masih bisa tersenyum. Senyum Alan membuat hati Sarah jadi tenang. Rasa bersalah Sarah mulai berkurang, karena kejadiaan itu bukan 100 pesen salahnya.


Alan dan Sarah saat ini berada di dalam mobil, Reza yang menyetir. Sedangkan Mia dan Alan duduk di bangku belakang. Mia memandangi Alan, ia mulai berfikir pantaskan dirinya untuk Alan. Mia masih bertanya-tanya, apakah Alan benar-benar suka denganya atau hanya menjadikannya pelarian saja. Mia mulai delima ataa perlalukan Alan padanya. Ia hanya takut patah hati nantinya.


"Mia.."


"Iya mas Alan."


"Apa waktu di taman itu bukan kamu? waktu hujan-hujan itu juga."


Deg...Mia jadi takut, karena memang itu bukanlah dirinya itu adalah Sarah. Sarah mengantikan posisinya dan ia mendapat imbalan dari Sarah.


"Tentu..saja itu aku mas." jawab Mia dengan nada gugup.


Alan yakin jika saat ini Mia berbohong, dari jawaban Mia yang terdengar putus-putus. Diam-diam Reza mendengarkan percakapan antara Mia dan Alan. Reza sebenarnya adalah mata-mata dari Lea.


"Kamu yakin sedang tidak berbohonh Mia?"


"Tidak mas, siapa lagi kalau bukan aku."


"Itu Sarah." Batin Alan.


Ken mendatangi rumah Sarah, karena ia rindu dengan Salsha. Ken juga merasa kasihan pada Sarah yang harus menjalani hidup dengan penuh liku-liku. Sarah tidak bisa dengan Alan dan malah menikah dengan Danil. Sebenarnya ia tak setuju akan perjodohan Sarah dengan Danil.


Lea mendatangi kantor Danil, Lea ingin mengatakan sesuatu tentang Sarah. Dan yang pasti akan membuat hubungan Sarah dengan Danil yang tadinya baik-baik saja akan menjadi runyam. Lea masih menunggu Danil di ruang tunggu. Dan akhirnya Danil datang juga, dan kini mereka makan di kantin kantor.


"Apa yang mau kamu bicarakan, aku tidak punya cukup waktu."


"Sabar tuan Danil, aku akan bawa kabar mengejutkan."


"Kabar apa?"


"Bagaimana kalau kita makan dulu saja."


Danil menuruti kemauan Lea dan ia memesankan makanan untuk Lea. Danil tahu pasti Lea akan mengatakan perihal Sarah padanya. Danil sangat ingin tahu makanya ia menututi kemauan Lea.


Mia dan Alan sampai di rumah Alan, Mia mengantarkan Alan ke kamarnya. Mia ingin jujur jika memang bukan dirinya waktu itu. Mia ingin semuanya jelas, Alan jatuh cinta padanya dengan sungguh-sungguh, atau hanya karena Sarah yang menyamar sebagai dirinya.

__ADS_1


"Mas..Aku ingin jujur."


"Jujur apa Mia?".


"Memang bukan aku waktu itu, saat hujan-hujan dan makan mie ayam dan yang lainnya itu bukan aku."


"Lantas siapa?"


"Sarahh.."


Alan terdiam ia terpaku, karena ia jatuh cinta lagi Sarah. Bahkan ketika kedua matanya tak bisa melihat ia masih jatuh cinta dengan Sarah.


Lea dan Danil sudah selesai makan, Danil menatap Lea yang saat ini tengah mengelap bekas makan di bibir Lea.


"Jadi apa yang mau kamu katakan, jangan bertele-tele seperti ini, katakan saja." ucap Danil.


Lea menatap Danil, Danil sedikit risih dengan tatapan Lea.


"Tapi kamu jangan syok atau apa ya, kan repot aku nantinya."


"Iya, katakan saja sekarang."


"Janin yang ada di rahim Sarah bukanlah anak kamu."


"Maksud kamu?"


"Sebelum Sarah menikah denganmu, dia main gila dengan Alan."


Danil melongo, ia masih tak percaya akan apa yang diucapkan oleh Lea.


-Bersambung.-


Terimakasih untuk komentarnya..


Jangan lupa tinggalkan jejak ya.


Dan jangan lupa Vote, Rate, Like, Komentar dan favoritkan agar tidak ketinggalan.

__ADS_1


Salam dari mahmud kece ini


__ADS_2