
Danil menemani makan Salsha, setelah selesai ia menyuruh Salsha ke kamar. Danil membawakan makanan untuk Sarah ke kamar. Danil akan membujuk Sarah, karena sepertinya Sarah tak yakin jika dirinya tidak terlibat dalam penarikan saham diperusahaan ayah Sarah. Danil sampai di kamar, ternyata Sarah tengah berbaring di ranjang.
"Makan dulu, marah tak akan menyembuhkan lapar. Jika perut lapar maka pikiran tak akan tenang." ucap Danil mencoba meluluhkan hati Sarah.
"Temui orang tuamu, dan coba tanya pada mereka apa yang sebenarnya terjadi?"
"Besok aku tanya, sekarang makan dulu aku suapi."
Danil menyuapi Sarah makan, Sarah hanya ikut saja. Danil tersenyum, ia kembali memberika cincin berlian yang ia beli pada Sarah.
"Pakailah, pasti akan terlihat cantik."
"Ini terlalu mewah, biar aku simpan nanti aku pakai diacara tertentu."
Danil mengangguk ia mencium kening Sarah, Sarah tersentuh. Danil begitu manis sekali, Sarah jadi ikut terhanyut dalam rayuan Danil. Danil sangat baik, namun Sarah tidak dapat mencintai Danil balik. Cinta Danil bertepuk sebelah tangan, Sarah masih mencintai Alan. Namun Sarah juga sedikit merasakan getaran saat berada di dekat Danil.
Danil menyuapi Sarah sampai habis, Sarah menyalakan televisi dan menonton drama. Karena tak baik setelah makan langsung rebahan. Bisa-bisa perut Sarah tambah buncit. Sarah yang tengah hamil muda sedikit tidak merasakan ngidam. Beda dengan ketika hamil Salsha, yang dulu Sarah selalu ngidam aneh-aneh dan Ken lah yang mencarikan itu semua. Sarah jadi merindukan Ken, dan esok hari ia berniat untuk menemui keluarganya
Setelah satu jam lebih Sarah mengantuk, ia pelan-pelan memejamkan matanya. Dan Sarah terlelap di sofa, Sarah tertidur pulas. Danil yang mengetahui akan hal itu, langsung mengangkat tubuh Sarah dan membawa Sarah ke kamar. Danil menyelimuti tubuh Sarah, dan barulah ia ikut berbaring di ranjang.
"Selamat tidur sayang, semoga semua baik-baik saja. Tidur yang nyanyak sayang." ucap Danil.
Danil menatap langit-langit, ia mulai memejamkan matanya. Dan ia akhirnya terlelap dalam tidurnya, mimpi indah bersama dengan Sarah. Danil memeluk Sarah dengan erat.
Pagi harinya Sarah dan Danil tengah sarapan, tak ada drama pagi hari ini. Karena Sarah terlihat hanya diam saja. Dan Danil juga tak mau mengusuli Sarah pagi ini karena suasana sedang tak baik. Sarah menyuapi Salsha, Salsha tau pasti mama dan papanya saat ini tengah bertengkar. Jadi suasananya jadi sepi dan hening seperti ini.
"Aku mau disuapin papa Danil aja."
"Ya udah sini papa suapin."
__ADS_1
Sarah membiarkan Danil yang menyuapi Salsha, sedangkan dirinya masih memikirkan nasib keluarganya. Bagaimana bisa keluarga Danil menarik semua sahamnya dari perusahaan ayahnya.
"Kamu masih marah Sarah?"
"Mama marah kenapa ma? Jangan marah dong sama papa."
"Enggak mama enggak marah kok."
Sarah tersenyum kearah Danil dan juga Salsha, karena tak seharusnya Danil bicara seperti itu di depan putri mereka. Selesai sarapan mereka mengantarkan Salsha terlebih dahulu. Dalam perjalanan hanya hening tak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Hingga pada akhirnya sampai juga di sekolahan Salsha. Danil membantu Salsha turun dan mengantarkan Salsha sampai pintu gerbang sekolahan.
"Da papa," ucap Salsha.
"Da da juga Salsha sayang." jawab Danil.
Danil meninggalkan sekolahan, dan kemudian ia masuk ke dalam mobil.
"Jangan cemburutin suami seperti itu, senyumlah." goda Danil.
Danil tiba-tiba saja mengecup kening Sarah, Sarah kaget namun ia juga tidak bisa marah. Karena Danil adalah suaminya sendiri. Danil membawa Sarah ke kantornya, Sarah sudah izin rumah sakit jika dirinya akan datang terlemabat.
"Dan kita akan segera tahu, kamu harus tenang demo anak kita." ucap Danil sambil mengelus perut Sarah.
Akhirnya mereka sampai kantor Danil, namun ayah Danil belum ada di kantor. Jadi mereka belum bisa meminta kejelasan pada ayah Danil. Di meja Danil, Sarah melihat foto dirinya di dampingkan dengan foto seorang wanita.
"Siapa Dia?" tanya Sarah sambil mengambil foto seorang wanita yang tak ia kenal.
"Cantika, dia mantan istriku. Dan dia sudah tenang di surga sana." jawab Danil.
"Ooo." Sarah lalu meletakan kembali foto itu di meja Danil.
__ADS_1
Sedangkan Alan kini masih dalam tahap pemulihan, bahkan perban matanya belum juga dilepas. Alan sangat berharap bisa melihat lagi. Karena ia ingin melihat Sarah dan juga putri kecilnya itu. Apalagi sekarang Mia sudah meninggalkannya, tak ada lagi pelampian dalam hidupnya. Dan kini ia benar-benar yakin jika dirinya masih sangat mencintai Sarah.
"Za, apa Mia akan kembali lagi?" tanya Alan.
"Saya rasa tidak mas, lupakan saja Mia. Dan mas fokus pada kesembuhan mas." jawab Reza.
"Apa aku bisa bersama dengan Sarah lagi?" tanya Alan.
"kalau itu saya tidak tahu mas, apalagi Sarah itu istri orang." jawab Reza.
"Tapi Salsha itu adalah putriku, buah cintaku dengan Sarah." ucap Alan.
Reza hanya diam saja karena ia juga tak tahu harus menjawab apa. Ia juga takut salah dalam menjawab pertanyaan Alan itu.
Akhirnya ayah Danil datang juga, ayah Danil nampak sudah tahu. Apa tujuan Danil dan Sarah datang menemuinya. Mereka berdua kini masuk ke ruangan ayah Danil.
"Kalian pasti ingin tanya tentang kenapa ayah menarik saham dari kantor bapak Sarah?"
Sarah dan Danil hanya mengangguk saja, ayah Danil menjelaskan semuanya.
"Karena ayah kamu korupsi, untung saja aku tidak melaporkannya ke polisi. Hanya menarik saham dari perusahaan ayah kamu Sarah."
Sarsah hanya bisa terdiam sambil menelan ludahnya, karena memang ternyata ayahnya itu bersalah. Sarah pamit ke rumah sakit, karena ada operasi dadakan yang harus ia tangani sekarang juga. Danil menawarkan untuk mengantarkan Sarah namun Sara menolak dan ingin naik taksi saja. Danil mengantarkan Sarah sampai lobi kantor, dan menunggu sampai taksi online pesanan Sarah datang. Setelah Sarah pergi barulah ia masuk lagi ke kantornya itu.
Dan ternyata Sarah tidak ke rumah sakit, ia malah menemui Alan. Sarah mengatakan pada Reza jika ia menunggu di taman. Alan dan Reza bergegas ke taman, meski ini termaksut skandal namun Reza hanya bisa diam saja. Karena ia hanyalah bawahan yang harus nurut dengan majikan. Jadi mau tidak mau ia hanya bisa nurut saja. Apalagi Alan saat ini tidak tahu jika Sarah tengah hamil.
"Aku tak tahu lagi harus berbuat apa, dan harus bagaimana. Jujur aku lelah dengan semua ini, namun aku juga tak bisa apa-apa. Aku ingin bersamamu Lan, tapi aku terjebak dalam situasi yang rumi." batin Sarah.
-Bersambung-
__ADS_1
Haii aku datang lagi, mahmud cantik ini hehe.
Adakah yang rinduuuuu