
Sarah masih menatap Alan, ia tak yakin jika Lea dan ibu tirinya tega melakukan ini padanya. Ia yang selalu berusaha ramah namun malah mendapat perlakuan yang kurang baik dari Lea dan juga ibu tirinya itu.
"Aku yakin kamu pasti bohong Lan? Jangan adu domba aku dengan keluargaku."
"Aku tidak mengadu domba, aku hanya memberi tahumu. Dan aku tak ingin putriku Salsha kenapa-napa."
Sarah mulai percaya dengan ucapan Alan, ibu tirinya dan Lea memang tak pernah suka denganya. Akhirnya mereka sampai jalan raya di mana tempat mobil Alan di parkir. Mereka turun dan mengucapkan terimakasih pada bapak-bapak yang memberikan mereka tumpangan. Dan kini mereka pindah ke mobil Alan, Alan membukakan pintu mobil untuk Sarah.
"Jadi ingat masalalu ya."
Sarah diam saja ia sedang tak ingin membahas masalalunya dengan Alan. Karena yang terpenting saat ini ia bisa bertemu dengan Salsha. Dan melihat keadaan putrinya itu. Sarah takut jika Lea dan ibu tirinya akan menyakiti Salsha, atau bahkan menghilangkan Salsha dari muka bumi ini. Seperti mereka berusaha untuk melenyapkannya.
"Kenapa hanya diam saja, bukanya indah waktu itu."
"Diamlah, dan bisakah lebih cepat?"
Alan mempercepat laju mobilnya agar cepat sampai rumah sakit tempat Salsha dirawat. Alan menyetel lagu kesukaan Sarah.
"Kamu masih ingat saja Lan." Batin Sarah.
Sarah yang masih tak mau mengakui di depan Alan jika dirinya masih mencintai Alan. Ia hanya bisa mencari alasan untuk tidak lagi bersama dengan Alan. Akhirnya mereka sampai rumah sakit. Sarah langsung melihat keadaan Salsha. Salsha yang masih tidur pulas begitu pula dengan Ken. Karena mereka datang ke rumah sakit tengah malam. Untung saja satpam rumah sakit kenal dengan Sarah jadi mereka bisa masuk ke dalam rumah sakit.
"Syukurlah kalian baik-baik saja."
Alan berada di luar ruangan, karena ia ingin bicara dengan Lea dan juga ibunya.
"Kenapa kalian kaget karena Sarah masih hidup? Apa kalian sangat terkejut. Tunggu jeruji besi akan segera kalian tempati."
Lea tertawa, dan kini ia menatap Alan mulai mendekati Alan. Alan hanya diam, dan menatap tajam Lea.
"Dengar ya Alan, aku dan ibuku tak akan mungkin masuk penjara ingat itu."
Lea meninggalkan Alan, begitu pula dengan ibu Lea. Alan masuk ke ruangan Salsha, Alan melihat betapa sayangnya Sarah ke Salsha. Ken terbangun dari tidurnya. Dan ia melihat Sarah dan juga Alan yang tengah menunggui Salsha.
"Syukurlah kamu selamat Rah."
"Kak Ken gimana keadaanya, dan kenapa bisa seperti ini?"
"Rem mobil kamu blong, padahal ku ingat kamu baru menservisnya kemarin kan?"
"Iya karena ini sabotase, Lea dan nyokap kamu."
Ken tak percaya dengan ucapan Alan, Ken menatap Sarah namun Sarah juga hanya diam saja. Salsha terbangun karena bising.
__ADS_1
"Mama.."
"Salsha.."
Sarah memeluk Salsha, begitu pula dengan Salsha mereka seperti tak bertemu dalam waktu yang lama. Alan juga ikut memeluk Salsha, mereka seperti keluarga bahagia saja.
Lea dan ibunya pergi dari rumah sakit, karena ia takut dengan ancaman Alan. Mereka pulang ke rumah untuk mandi agar otak mereka segar dan bisa berfikir bagaimana caranya untuk terlepas dari masalahnya. Dan bagimana cara agar tidak masuk penjara.
"Bagaimana ini bu, aku enggak mau masuk penjara."
"Tenang saja, pasti Sarah tidak akan tega untuk memenjarakan kita."
Pagi itu Sarah bangun dari tidurnya, ia meminta cuti pada pihak rumah sakit karena kondisinya belum fit. Dan juga Salsha butuh dirinya, Salsha sudah diperbolehkan pulang begitu pula dengan Ken. Alan yang mengantarkan kepulangan Ken dan juga Salsha.
"Om Alan enggak jalan lagi sama tante Lea, kita ke mall lagi."
"Iya nanti kalau Salsha sudah benar-benar sembuh ya."
"Iya om."
"Tapi sama mamanya Salsha enggak sama tante Lea."
"Iya om."
Sampai di rumah Sarah, ayah Sarah ternyata juga sakit sehingga tak bisa menemani Salsha dan juga Ken. Dan juga tak bisa ikut mencari Sarah ketika Sarah hilang. Sarah melihat keadaan ayahnya, sementara yang lain masih di meja makan. Begitu pula dengan Lea dan ibunya, mereka bersikap seolah-olah tak terjadi apa-apa. Dan seolah-olah mereka tak tahu apa-apa, pintar sekali mereka bersandiwara.
"Cuma pusing saja, ayah enggak apa-apa kok. Gimana keadaan kamu, Ken sama Salsha."
"Aku baik yah, Salsha masih dalam tahap pemulihan begitu pula dengan Ken."
"Kamu jaga Salsha baik-baik ya, bimbing Lea juga."
"Iya yah, Aku ke depan dulu ya?"
"Iya."
Sarah kini ikut bergabung di meja makan, suasana jadi aneh. Lea nampak tegang dan juga ketakutan, pintu rumah di ketuk. Dan ternyata 2 orang polisi yang membawa surat penangkapan Lea dan juga ibunya. Dan Alan adalah pelapornya.
"Saudara Lea dan ibu Winda kalian kami tahan, atas dasar penculikan dan juga sabotase."
"Ini salah paham pak."
"Jelaskan semuanya nanti di kantor."
__ADS_1
Lea dan ibunya dibawa ke kantor polisi, Ken mengiba pada Sarah dan juga Alan untuk membebaskan ibunya dan juga Lea. Tentu saja Sarah akan menurut, karena Ken adalah orang yang paling menerima kehadiranya dibandingkan yang lain.
"Lan kamu apa-apaan sih, kenapa laporin mereka?"
"Orang jahat pantas dipenjata, biar mereka jera."
"Cabut tuntanmu Lan, atau aku tak akan mengizinkanmu bertemu Salsha."
"Kenapa Ma, kenapa om Alan enggak boleh ketemu aku Ma?"
"Enggak kok sayang."
Sarah mengajak Alan untuk bicara di luar sebentar karena ia tak ingin jiwa Salsha terganggu karena melihat dirinya dan Alan berdebat.
"Kenapa Rah kenapa kamu masih baik dengan mereka? Padahal mereka ingin melenyapkanmu dan juga Salsha."
"Dan kamu tahu kenapa aku masih mencintaimu meski kamu pernah mencoba untuk melenyapkan Salsha?"
Alan memeluk Sarah, kini ia benar-benar mendengar dari mulut Sarah yang bicara jika Sarah masih mencintainya. Diam-diam Sarah meneteskan air matanya entah itu tanda senang atau sedih. Alan memeluk Sarah erat-erat seperti ia tak ingin kehilangan Sarah untuk kedua kalinya.
"Aku juga masih sangat mencintaimu, kita mulai dari awal lagi."
Sarah melepas pelukan Alan, dan kini mereka saling pandang. Alan mencium kening Sarah, dan Sarah menikmati kemesraan bersama dengan Alan.
"Jadi pergilah dan cabut tuntutanmu demi aku."
"Tapi Rah, aku takut mereka akan lebih nekat, aku takut kehilanganmu dan juga Salsha."
"Bukankah kamu akan menjagaku dan juga Salsha?"
"Iya, aku pasti akan menjaga kalian."
Sarah memeluk Alan, Alan sebenarnya tak ikhlas untuk membebaskan Lea dan juga ibu Lea. Namun karena permintaan Sarah akhirnya ia mau.
..."**Semoga dengan bersamamu hidupku lebih tenang. Semoga kita memang ditakdirkan untuk bersama. Aku mencintaimu, untuk hari ini esok dan selamanya."...
...-Sarah**-...
-Bersambung-
Haii Nay hadir lagi ya kali ini hadir lebih awal ya.
Hujan gini rasanya rindu sama suami wkwk, pacaran 4 tahun ldr pula. Udah nikah masih aja LDR, Curcol lagi nih.
__ADS_1
Oh ya btw thankas yang sudah Vote, Rate, Like, komentar, Favorit dan yang sekedar view aja.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.