
Sore itu setelah berbagai masalah mengampiri Sarah, Sarah pulang dengan wajah muram dan juga lesu. Ia sangat pelan mengendarai mobilnya, ia juga memperhatatikan pedagang kaki lima dan juga stand jualan di pinggir jalan. Entah apa yang Sarah cari, namun sepertinya ia tengah lapar dan mencari sesuatu namun tak ketemu juga.
Sarah memutuskan tancam gas dan pulang saja, ia ingin segera sampai rumah dan mandi. Rasanya hari ini sangat melelahkan baginya, orang tua Alan sangat benci denganya. Ditambah ada orang yang menggantikannya di rumah sakit. Namun ini memang salah Sarah karena tak seharusnya Sarah mementingkan urusan pribadinya. Karena pekerjaanya menyangkut nyawa seseorang.
"Betapa bodohnya aku masih saja mencintaimu, tuhan bimbing aku untuk bisa cinta dengan Danil. Dan semoga saja janin ini anak kamu Nil." Batin Sarah.
Akhirnya Sarah sampai rumah, di depan pintu rumah Sarah dikejutkan oleh Danil yang berdiri di sana. Danil membawa bungan dan sebuah bingkisan di tangannya. Sarah berusaha tersenyum dan kemudian ia memeluk Danil.
"Apa kamu merindukanku?" tanya Danil.
"Aku sangat merindukanmu." jawab Sarah.
Sarah semakin erat memeluk Danil, seakan ia bahagia Danil sudah pulang. Danil melepas pelukan Sarah, Danil mengajak Sarah masuk ke dalam rumah. Danil memberikan bingkisan untuk Sarah.
"Apa ini mas?" tanya Sarah.
"Buka saja dan kamu pasti akan tahu apa isinya." jawab Danil.
Sarah membuka bingkisan itu, sebuah tas cantik dan mahal dan juga jam tangan mahal. Sarah tersenyum dan menatap Danil. Raut wajah Sarah kini berubah menjadi lebih ceria dari yang tadinya murung.
"Apa kamu suka sayang?" tanya Danil.
"Ya aku suka mas, makasih." jawab Sarah.
"Jadi terimkasih aja?" tanya Danil sedikit menggoda Sarah.
"Lha kamu minta apa mas?" tanya Sarah.
"Ciuman." bisik Danil ditelinga Sarah.
Pipi Sarah merona mendengar bisikan Danil, Sarah mengangguk tanda jika ia setuju untuk ciuman dengan Danil. Mereka sudah memposisikan untuk ciuman, bibir mereka sudah hampir dekat. Mungkin beberapa senti lagi akan sukses berciuman. Sarah merasakan getaran aneh, dan Danil merasa bahagia dan juga gejolak *****. Namun sebelum mereka berciuman Salsha datang. Dan dengan terpakasa Danil menjauhkan mukanya dari muka Sarah.
"Mama sudah pulang?" Tanya Salsha.
"Sudah sayang." ucap Sarah.
"Mana pesanan aku mah?" tanya Sarah.
"Ya ampun, mama lupa." jawab Sarah.
__ADS_1
Salsha terlihat kecewa, namun Danil mengusap kepala Salsha.
"Biar mama mandi dulu dan nanti kita beli bersama." ucap Danil.
"Horeee." Salsha nampak kegirangan.
Sarah menuju kamarnya dan bersiap untuk mandi, dan disusul oleh Danil. Sarah belum mandi ternyata masih renbahan di kasur.
"Hey kok belum mandi sih sayang? Are you ok? Apa ada masalah sayang?" tanya Danil.
"Tidak." jawab Sarah singkat.
"Atau ingin mandi bareng?" goda Danil.
"Apaan sih mas, enggak lah." jawab Sarah sambil melempar bantal kearah Danil.
"Ahh sayang, gimana kalau kita lanjutin yang tadi? Aku rindu sekali sama kamu." ucap Danil.
"Nanti ya mas, aku mandi dulu kasihan nanti Salsha nunggu lama." jawab Sarah.
Sarah kemudian mencari handuk dan masuk ke dalam kamar mandi. Danil nampak kecewa, namun tak apa tengah malam nanti pasti masih bisa. Danil meyipakan pakaian untuk Sarah.
selain tas dan jam tangan Danil juga membelikan dres untuk Sarah. Sarah selesai mandi, dan masih pakai handuk. Sarah hendak memcaru baju ganti namun Danil sudah menyiapkanya. Sambil menunggu Sarah ganti baju kini giliran Danil yang mandi. Karena Sarah lama kalau merias wajah jadi Danil memutuskan untuk mandi lagi. Sekadar ingin menikmati sensasi segar karena guyuran air.
Sementara itu Alan masih tak bisa membuat orang tuanya menyetujui hubunganya dengan Sarah.
"Sarah itu istri orang, dan sampai kapanmu ayah enggak izinkan kamu sama Sarah." kata-kata ayah Alan masih saja terngiang di telinga Alan.
Dan kini Alan hanya bisa pasrah, kalau dibilang cinta Alan memang masih sangat mencintai Sarah. Namum kini ia juga mulai lelah memperjuangkan Sarah. Karena pada kenyataannya ia dan Sarah sulit sekali untuk bersama. Meski mereka saling mencintai satu sama lain, dan cinta saja ternyata tidak cukup restu orang tua juga penting ternyata.
"Aku mencintaimu Sarah, ini bukan berarti aku menyerah. Namun kenyataanya sangat sulit sekali untuk kita bisa bersama." Batin Alan.
Alan meneguk alkohol yang ada di depanya, mabuk mungkin bisa membuatnya lupa sesaat akan masalahnya. Namun sama sekali tak menyelesaikan masalahnya, jika saja masih ada Mia pasti alkohol itu sudah di buanh Mia.
Sarah selesai merias wajahnya, Danil juga sudah siap mereka ke kamar Salsha. Dan ternyata Salsha sudah menunggu mereka. Mereka bertiga berangkat mencari martabak dan juga makan malam bersama.
"Makasih papa udah ajak aku dan mama jalan-jalan." ucap Salsha.
"Jalan-jalanya hari minggu sayang, ini kita cari martabak dan makan." jawab Danil.
__ADS_1
Mereka sudah di jalan menuju restoran, Danil mengenggam tangan Sarah. Sarah kaget namun kemudian ia tersenyum.
"Apa kamu bahagia sayang?" tanya Danil.
"Iya aku bahagia." jawab Sarah.
Sampai juga akhirnya mereka memesan makanan dan menikmati suasana romansa di restoran. Sudah lama mereka tak seperti ini ketika Danil di luar kota.
"Papa nanti bungkus ya." ucap Salsha.
"Tumben sayang, apa masih kurang?" tanya Danil.
"Buat adek bayi, sepertinya mama sangat suka papa sama makanan ini." jawab Salsha.
Sarah tertawa, karena bukanya ia sangat suka tapi jujur saja Sarah memang sangat lapar. Segala masalah yang ia hadapi tadi ternyata membuatnya begitu lapar. Dan sangat lahap makan, dan membuat Salsha mengira jika mamanya sangat suka. Dan itu berarti adik bayi juga suka itu menurut Salsha.
"Iya nanti ayah bungkuskan untuk mama." jawab Danil.
Mereka nampak seperti keluaega bahagia saja, apalagi Salsha yang sudah menganggap sosok Danil adalah papa sambung yang sangat baik. Papa sambung yang sangat menyayanginya.
"Makasih papa." ucap Salsha.
"Sama-sama sayang, anak papa yang paling manis." jawab Danil.
Mereka kini melanjutkan makan, Danil nampak memperhatikan Sarah. Karena Sarah telah habis memakan makanya itu.
"Mau lagi sayang?" tanya Danil.
"Aku sudah kenyang." jawab Sarah.
Sarah izin ke kamar mandi, dan kini Sarah sudah sampai kamar mandi.
"Danil kamu begitu baik, apalagi kamu bisa menerima Salsha dan menyayangi Salsha seperti ini. Maaf karena aku masih sering bertemu dengan Alan. Ini salahku, dan akan ku perbaiki. Ayo kita pergi dan buka lembaran baru bersama." batin Sarah.
Sarah mendapatkan pesan dari Alan.
"Sarah sayang, sepertinya kita harus benar-benar pisah." isi pesan Alan.
-Bersambung-
__ADS_1
Ahhh mahmud datang lagi nih