
"Terimakasih telah hadir kembali dihidupku, mari kita perbaiki semua ini. Mari kita buka lembaran baru, dan kita mulai dari hari ini." Batin Alan.
Alan seperti terlahir kembali, karena kini ada alasan untuk apa dirinya bertahan hidup. Untuk Sarah dan juga Salsha, dua wanita yang sangat ia sayangi. Meski saat ini Sarah masih berstatus istri orang, Alan akan sabar menunggu sampai Sarah berstatus janda. Dan mereka bisa menikah, seperti impian mereka. Seperti harapan Alan dan juga Sarah, namun apakah Salsha setuju itu masih menjadi tanda tanya. Karena sepertinya Salsha sudah nyaman dengan Danil sebagai papanya.
"Menurutmu Za, apakah saling cinta namun tak bisa bersama adalah hal yang wajar?"
"Gimana ya mas, saya enggak ngerti begituan. Lagian saya tidak percaya dengan cinta."
"Kenapa?"
"Karena cinta lama-lama pasti juga akan pudar, ketika rasa bosan menghampiri. Diputus kekasih hanya karena alasan bosan membuat saya tidak percaya dengan cinta."
"Tragis, setiap orang memiliki cerita cinta masing-masing."
"Apa yang mas maksud kisah cinta mas dengan dokter Sarah."
Alan hanya diam saja tak menjawab pertanyaan Reza, ia malah mengalihkan pembicaraan. Dengan menyuruh Reza untuk kembali menyuapinya dengan alasan masih lapar. Reza hanya menurut saja karena Alan adalah bosnya.
Danil berkunjung ke makam cantika, ia ternyata juga membelikan cincin untuk Cantika. Sama seperti cincin yang akan diberikan pada Sarah. Dan saat ini Danil tengah berada di depan makan Cantika. Danil memberi kado cincin dan juga surat yasin untuk Cantika.
"Hallo sayang, aku datang lagi. Kamu apa kabar, pasti kamu sudah tenang di sana. Aku bawakan kamu cincin, aku mau cerita. Jika ada wanita lain yang membuat jantungku berdegup kencang sama seperti saat aku bersamamu. Apa kamu merestui aku denganya?"
Danil meminta restu di depan makam Cantika, karena kini Danil sudah jatuh cinta dengan Sarah. Danil meninggalkan makam Cantika, ia meninggalkan kotak cicin di makam Cantikan dan juga satu buket bunga kesukaan Cantikan. Danil pamit dengan Cantik, baru ia kemudian pergi meninggalkan makam mantan istrinya itu.
Sarah tengah makan siang di kantin rumah sakit, mia bahagia karena Alan kini sudah bisa menerimanya. Tinggal bagaimana caranya ia bisa pisah dengan Danil. Dan saat ini ia juga tengah hamil, tak mungkin dalam keadaam hamil bisa pisah dengan Danil. Apa lagi sepertinya Danil mulai cinta dengan Sarah. Dan Danil juga tak ingin kehilangan Sarah.
"Terimakasih tuhan, kini semuanya sudah mulai jelas. Jalan hidupku sudah mulai terlihat kembali." Batin Sarah.
Sarah mulai menyuap makanan yang ada di hadapannya, dan lanjut memikirkan bagaimana caranya ia bisa pergi dari hidup Danil. Danil yang kini begitu manis dengannya. Apa lagi Salsha sepertinya juga sudah sangat dekat dan juga sayang dengan Danil. Hal itu yang akan membuatnya sulit berpisah dengan Danil.
"Mia, kamu wanita baik. Meski kamu suka sama mas Alan kamu memilih untuk pergi." Batin Reza.
Keluarga Lea dan juga Ken kini jatuh miskin karena ayah mereka bangkrut. Dan pastinya mereka akan merepotkan Sarah. Dan Sarah yang akan menjadi tulang punggung keluarga. Karena Sarah pasti sudah memiliki gaji yang cukup untuk membelikan rumah dan juga makan sementara untuk keluarga Lea.
__ADS_1
Ponsel Sarah berdering, dan itu adalah telfon dari ayahnya. Sarah heran kenapa ayahnya tiba-tiba menelfonya. Padahal jarang sekali ayahnya menelfon bahkan hanya untuk menanyakan sekedar kabar saja tidak.
"Hallo, ada apa Yah?"
"Ayah bangkrut, ayah butuh uang untuk beli rumah tolong bantu ayah."
"Nanti aku transfer Ya, ayah tenang saja. Bukanya mas Danil sudah bantu ayah."
"Keluarga Danil berbohong, kamu pisah saja dengan Danil karena mereka malah mencabut semua saham yang mereka tanam di perusahaan ayah."
"Baiklah."
Telfon ditutup, Sarah tidak yakin jika Danil tahu semua ini. Mungkin orang tua Danilah yang mencabut semua itu. Sarah akan mempertanyakan semua itu pada Danil nanti sepulang dari rumah sakit.
"Ahh sial, kenapa ayah bisa bangkrut kan jadi gengsi minta tolong sama si Sarah." Batin Lea.
Lea nampak kesal dengan semuanya, kini mau tidak mau ia harus menerima bantuan dari Sarah. Sarah sudah mengirim sejumlah uang untuk ayahnya. Untuk masalah rumah Sarah sudah beli rumah, dan untuk sementara rumah itu bisa ditinggali keluarganya.
Sarah sampai rumah, ia melihat Danil dan juga Salsha telah menunggunya di meja makan. Salsha nampak girang begitu pula dengan Danil. Entah apa yang direncanakan Danil, karena meja makan terlihat indah. Karena ada hiasan bungan dan juga lilin, namun Sarah langsung pergi mandi. Karena ia tak mau jika ada virus yang menempel ditubuhnya menjangkiti Salsha.
"Mama mandi dulu ya, kalian tunggu mama."
"Iya ma, jangan lama-lama mandinya."
"Siap bos."
Sarah menuju kamar mandi, sementara Danil dan Salsha masih menunggu. Sarah mengguyur tubuhnya, ia memikirkan Alan. Karena Alan sudah pulang dan ia belum bertemu dengan Alan. Ingin sekali rasanya mengatakan pada Salsha jika Alan adalah ayah kandungnya. Impian Sarah hidup bahagia bersama dengan Alan dan Salsha.
Sarah selesai mandi, ia masih ganti baju dan kemudian merias wajahnya dengan make up natural. Dengan bedak tipis dan juga gincu ala korea. Sarah sudah duduk di depan Danil dan juga Salsha. Sarah mengambilkan nasi untuk Salsha dan juga Danil.
"Ada apa ini, kok jadi gini meja makannha jadi gini."
"Ya biar romantis aja, aku ada sesuatu buat kamu."
__ADS_1
"Apa?"
Sarah memperhatikan Danil, namun Danil malah hanya tersenyum. Danil menguluarkan kontak cincin entah dari mana.
"Buat kamu." ucap Danil sambil membuka kota yang berisi cincin itu.
"Pasti ini mahal? Suamiku kenapa buang-buang uang sih."
"Enggak mahal itu murah kok sayang."
"Iya murah karena kamu habis tarik saham dari perusahaan ayahkan?"
Danil bingung atas tuduhan Sarah itu, karena ia tak melakukan apa-apa.
"Apa maksudmu?"
"Ayahku bangkrut, keluargamu menarik semua sahamnya."
"Aku tidak tahu akan hal itu."
Sarah dan Danil saling pandang satu sama lain, Danil benar-benar tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Danil mengatakan akan menyelediki semua itu esok hari.
"Papa, mama jangan ribut."
"Kita enggak ribut kok sayang."
Sarah meninggalkan meja makan dan kemudian masuk ke kamar dengan alasan ia harus menelfon atasanya. Sarah bahkan tak menerima cincin pemberian dari Danil. Danil heran kenapa semuanya malah jadi begini. Dan kenapa keluarganya menarik saham dari perusahaan ayah Sarah.
---Bersambung yaaa-----
Nay datang lagi jangan lupa tinggalkan jejak yaaaaa
Like, Vote, komentar, rate dan jangan lupa favoritkan biar tidak ketinggalan upnya dari mahmud ini yaa.
__ADS_1