Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur
(59) Getaran itu


__ADS_3

Sarah kembali ke rumah sakit, ia hanya bisa bertemu dengan Alan sebentar saja. Karena Alan langsung ingin pulang dan tak mau jalan-jalan. Bagi Sarah itu sudah cukup untuk mengobati rasa rindunya. Sarah sampai rumah sakit, dan ia kembali melakukan rutinitasny sebagai dokter bedah.


"Andai kamu tahu Lan, betapa aku masih sangat mencintaimu. Aku yang sampai saat ini masih berharap selalu bisa bersama denganmu. Jika waktu dapat diputar maukah kamu lari bersama denganku. Ke tempat yang tidak seorang pun mengenal kita."


Alan dan Mia juga sampai di rumah, Alan menyuruh Mia untuk pulang karena tugasnya sudah selesai. Dam tugasnya akan digantikan oleh Reza, Mia pamit pulang sebelum pulang Alan memberikan hadiah untuk Mia. Sebuah kotak cicin, Mia penasaran dengan isinya. Mia membuka kotak cincin itu yang berisi sepasang cincin.


"Apa maksudnya Mas?"


"Bukan apa-apa, lumayan bisa jadi uang kalau dijual. Lagian cincin itu sudah tak gunanya."


"Terimakasih."


Mia meninggalkan rumah Alan, Mia kira Alan tadi akan menyatakan cinta padanya ternyata tidak. Dan ternyata itu hanya angan-angan Mia saja. Mia juga yakin jika sampai saat ini Alan masih cinta dengan Sarah. Kisah cinta Sarah dengan Alan yang penuh dengan liku-liku. Saling mencintai namun tak bisa bersama.


Alan ke kamarnya di bantu pembantunya karena


Reza belum datang. Alan memilih untuk berbaring di ranjangnya. Ia yakin jika orang yang makan mie ayam dengannya tadi bukalah Mia melainkan Sarah.


"Aku bahkan ingat bentuk jari-jarimu, meskipun mataku tak bisa melihat seperti ini." Batin Alan.


Sarah pulang dari rumah sakit, ia masih menunggu jemputan dari Danil. Karena Danil mengatakan jika ia akan menjemput Sarah. Sarah masih menunggu di lorong rumah sakit. Sudah hampir setengah jam Sarah menunggu Danil namun Danil tak kunjung datang juga. Sarah menelfon Danil, namun nomor Danil tidak aktif. Karena lapar Sarah memutuskan untuk makan di cafe seberang jalan, atau depan rumah sakit.


"Aku takut membuatmu kecewa, jadi aku menunggumu di sini. Mungkin dengan mencoba membuka hati adalah hal yang terbaik." Batin Sarah.


Sedangkan Danil sudah berada di rumah, ia sengaja tak menjemput Sarah. Danil ingin Sarah merasakan apa yang ia rasakan. Danil ingin berbagi rasa kecewa yang ia rasakan saat ini. Hari mulai gelap, Salsha terus saja bertanya di mana mamanya. Danil mulai cemas karena Sarah tak kunjung datang juga. Sarah tak pulang dengan naik taksi.


"Apa kamu menungguku, apa kamu masih di sana Sarah?" Batin Danil.


Danil mulai cemas dengan keadaan Sarah, apa lagi saat ini Sarah tengah mengandung buah hatinya. Danil menyusul Sarah, ia pamit Salsha dan Danil menyuruh Salsha untuk tidur di kamar ditemani asisten rumah tangganya. Danil tancap gas menuju rumah sakit tempat Sarah bekerja. Pikiranya kini mulai tak karuan, Danil takut jika terjadi apa-apa dengan Sarah.


Meskipun Sarah masih bertemu dengan Alan, itu adalah hak Sarah. Karena itu adalah resiko dari menikah tanpa cinta. Apa lagi menikah dalam perjodohan banyak yang gagal meski ada beberapa yang berhasil juga. Dalam perjalanan Danil masih memikirkan Sarah.


Malam itu Alan makan malam dengan Reza, kedua orang tuanya sibuk berkerja. Reza yang sebentar lagi juga harus pulang. Dan Alan juga akan kembali kesepian. Reza menemani Alan makan, Sedangkan Alan masih melamun memikirkan Sarah. Ia masih berfikir tentang separuh hatinya yang masih tertinggal.

__ADS_1


Diantara rasa benci dan juga rasa sayang yang masih tertinggal. Ia benci dengan Sarah yang meninggalkannya dalam kondisinya saat ini. Meski kebenaranya Sarah menunggunya sadar, dan sampai batas yang ditentukan oleh ayah Sarah namun Alan belum siuman juga. Dan terpaksa Sarah harus menikah dengan Danil, seorang duda kaya yang tergolong pria tampan.


Danil sampai di rumah sakit tempat Sarah berkerja nampak suasana sudah sepi. Hanya ada beberapa suster jaga dan dokter. Danil mencari Sarah, namun ia tak menemukan di mana Sarah. Danil bertanya kepada seorang suster.


"Sus, lihat dokter Sarah?"


"Bukannya sudah pulang dari sore ya pak?"


Danil mulai berfikir jika Sarah pasti tengah di rumah Alan. Danil mengepalkan jari-jarinya tanda jika ia tengah emosi. Danil keluar dari area rumah sakit, dan tak sengaja ia melihat Sarah di cafe seberang jalan nampak menunggunya. Dalam kondisi kedinginan karena hujan. Danil langsung menuju ke tempat Sarah.


Sarah dan Danil saling padang satu sama lain, Sarah terlihat kesal dengan Danil yang terlambat hampir 3 jam menjemputnya. Danil memeluk Sarah erat, ia merasa sangat bersalah karena telah membuat Sarah menunggu.


"Dari mana saja kamu?"


"Maaf aku lupa."


"Dan kenapa ponselmu sulit dihubungi? Apa kamu sengaja?"


Danil melepas peluknya, ia mengambil payung dari mobil. Danil membiarkan tubuhnya kehujanan, ia memayungi Sarah masuk ke dalam mobil.


"Kenapa hujan-hujan nanti kamu sakit."


"Perhatiannya, hujan hanya air."


"Jangan geer, aku ini seorang dokter jadi biasa saja berkata seperti itu."


"Tapi aku kan bukan pasienmu."


"Kalau ngobrol terus kapan kita pulangnya?"


Danil menyetater mobilnya dan melaju di jalanan, mereka menuju rumah. Dalam perjalanan Danil terus saja menawani Sarah aneka kuliner. Namun nampaknya Sarah tidak selera makan. Karena terlanjur kecewa dengan Danil yang lupa menjemputnya.


"Danil memeluku erat? Apa benar ia ingin mulai hidup baru bersama denganku. Namun bagaimana kalau ini hanya keprobadian gandanya yang kambuh?" Batin Sarah.

__ADS_1


"Sarah apa kamu suka hujan?"


"Tidak hujan itu menyakitkan, jadi untuk apa disukai? Hanya membuat masuk angin saja."


"Hujan itu rahmat."


"Iya aku tahu."


Akhirnya mereka sampai di rumah, Sarah menyuruh Danil untuk mandi dulu karena Danil kehujanan. Sementara menunggu Danil selesai mandi, Sarah membuatkan teh hangat untuk Danil. Sarah kembali teringat dengan Alan.


"Apakah kamu kesepian di rumahmu Lan? Apa neraka yang namanya kesepian kembali menerpamu. Maafkan aku, aku ingin kembali denganmu, namun takdir berkata lain." Batin Sarah.


"Mama aku kemarin ketemu sama om Alan, tapi om Alan enggak bisa melihat."


"Ketemu di mana?"


"Di sekolahan mama, om Alan ngasih aku kalung ini. Cantikan kalungnya?"


"Iya cantik."


Sarah memperhatikan kalung Salsha, andai saja ia bisa memberitahu Salsha kalau Alan adalah ayah kandungnya. Namun kenyataanya tak bisa ia katakan.


Danil selesai mandi, ia melihat Sarah membuatkan teh untuknya. Kini giliran Sarah untuk mandi, Danil juga sudah menyiapkan air hangat untuk Sarah. Danil membopong Sarah menuju kamar mandi, karena tiba-tiba jadi Sarah tak bisa menolaknya. Sarah dan Danil saling pandang, meski tak saling mencintai tiba-tiba getaran aneh muncul diantara mereka.


-Bersambung-


Haii kalian semua apa kabarnya?


Mahmud datang lagi, tentuhnya dengan kehaluaanya.


Jangan lupa Vote, Like, rate, komentar, dan tekan tombol love.


Semoga kalian selalu sehat

__ADS_1


__ADS_2