Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur
(62)Tanya bidan


__ADS_3

"Apa sudah tidak ada aku dihatimu? Dan apa posisiku telah tergantikan? Mungkin ini salahku juga, aku sering berpura-pura menjadi Mia. Dan mungkin karena itu kamu memanggilnya, atau memang kini rasamu telah pudar." Batin Sarah.


Sarah penasaran dengan Alan yang memanggil nama Mia dan bukan dirinya. Meski wajar saja hal itu, Alan sendiri sudah tidak mau bertemu dengan Sarah. Rasa sakit hatinya pada Sarah tentang penghiatan Sarah masih sangat membekas dihati Alan. Namun Sarah masih sangat yakin jika Alan masih mencintainya. Jika cinta mereka akan kembali bersatu. Karena Sarah tyakin jika janin yang ada di kandunganya itu adalah buah cintanya dengan Alan.


Mia masuk ke ruangan Alan, dan melihat keadaan Alan. Mia menyentuh tangan Alan, dan Alan menggegam erat tangan Mia. Mia merasa gemetar, bukan karena ia lapar melainkan karena hatinya bergetar. Rasa kagumnya pada Alan meningkat menjadi rasa sayang. Alan tak melepaskan genggaman tanganya itu, malah kini semakin erat saja.


"Jangan tinggalkan aku, ku mohon tetaplah disini." Ucap Alan.


"Aku disini mas, tidak kemana-mana." jawab Mia.


"Baguslah jangan pergi, jangan tinggalkan aku. Aku ingin kamu tetap di sampingku." ucap Alan.


Kedua orang tua Alan merasa jika Mia adalah orang yang cocok untuk mendapampingi Alan. Mia nampak lugu dan jugna sangat baik, beda dengan Sarah yang meninggalkan Alan begitu saja. Meninggalkan Alan ketika Alan dalam kondisi koma.


Sarah sampai rumah, ia berusa menyamarkan mata sembabnya karena menangis di dalam taksi. Sarah begitu kecewa dengan Alan yang tak menyebut namanya. Malah Alan memanggil nama Mia. Danil menyapa kedatangan Sarah, Danil melihat Sarah sedih.


"Kamu kenapa apa yang terjadi?" Tanya Danil.


"Tidak, aku hanya tak bisa menyelamatkan pasien itu." Jawab Sarah.


"Tenanglah itu bukan salahmu, semua akan baik-baik saja." Danil memeluk Sarah.


Sarah kini berada didekapan Danil, Sarah menangis dalam pelukan Danil. Danil mengusap lembut rambut Sarah, dan juga punggung Sarah.


"Bersihkan tubuhmu, biar aku siapkan makanan. Salsha sudah tidur jadi tenanglah." ucap Danil.


Sarah menuju kamar mandi, sementara Danil membuatkan susu hanga untuk Sarah. Danil juga memanasi makanan, meski ada asisten rumah tangga namun Danil masih mau melakukan hal itu sendiri untuk Sarah.


Sarah membasuh mukanya, penolakan keluarga Alan dengan kehadiranya sungguh sangat menyakitkan baginya. Sarah ingat dulu ketika Alan menyelamatkannya dari ayahnya. Namun malah Alan yang menodainya atas dasar cinta. Ketika Alan menyuruhnya untuk aborsi, dan ketika Alan kembali malah dirinya yang pergi. Kisah cinta Alan dan Sarah memang sangat rumit.


"Aku mencintaimu, dan masih sangat mencintaimu. Ingin ku coba mencintai Danil namun tak bisa." Batin Sarah.


Sarah keluar dari kamar mandi, ia kini sudah memakai baju tidur. Danil sudah menunggu Sarah di meja makan. Sarah datang dan mengampiri Danil, Danil menawarkan susu yang ia buat, susu khusus ibu hamil yang akan membuat janin Sarah sehat.


"Dia begitu baik, tapi mengapa aku tak bisa mencintainya." Batin Sarah.


Sarah menyeruput susu buatan Danil, ia juga mengucapkan terimakasih pada suaminya itu. Danil melihat wajah Sarah masih musam.


"Sudahlah jangan bersedih, ini semua bukan salahmu. Kamu pasti sudah berusaha semaksimal mungkin." Ucap Danil, yang mengira jika Sara sedih karena gagal dalam ruang operasi.


"Aku baik-baik saja tenanglah." ucap Sarah.

__ADS_1


Sarah makan malam bersama dengan Danil, meski ia tidak lapar tapi mau tidak mau ia harus makan. Karena kini ia sedang mengandung, dan janinnya butuh nutrisi dari apa yang ia makan. Danil terus memperhatikan Sarah, ia terlihat tersenyum ketika menatap Sarah.


"Jantuh cinta untuk kedua kalinya, tapi tenanglah Cantika kamu juga masih ada dihatiku." Batin Danil.


"Jangan menatapku seperti itu, aku jadi malu." ucap Sarah.


"Nah gitu dong senyum." Danil mencubit hidung Sarah.


"Aku mencintaimu? Apa kamu merasakan hal yang sama?" tanya Danil.


Sarah hanya diam saja, ia tak tahu harus menjawab apa. Karena ia memang masih cinta dengan Alan, akan tetapi ia juga ingin mencoba cinta dengan Danil. Namun Sarah masih ragu apakah ia bisa mencintai Danil sama seperti ia cinta dengan Alan.


Sementara itu Alan sudah dipindahkan diruang inap biasa. Mia juga masih di sana menunggu Alan, karena Alan tak ingin Mia pergi.


"Mas Alan, bahagaimana keadaan Mas sekarang? Apa yang mas rasakan?" tanya Mia.


"Aku baik-baik saja selama ada kamu di sini." ucap Alan.


Alan akan segera melakukan operasi donor mata, Alan sangat berharap operasinya akan berjalan dengan lancar. Dan ia bisa melihat seperti apa Mia, dan tentuhnya ia juga bisa melihat Sarah.


"Mia.." ucap Alan.


"Bolehkah aku menyentuh wajahmu, aku ingin tahu seperti apa kamu." ucap Alan.


Mia masih terdiam, ia seperti tengah berfikir harus menjawab apa.


"Boleh." jawab Mia singkat.


Mia menuntun tangan Alan untuk meraba wajahnya, Alan meraba wajah Mia dari dahi sampai dagu.


"Pasti kamu cantik." ucap Alan.


Namun Mia hanya diam saja, ia malah pamit ke kamar mandi. Mia ke kamar mandi, ia tidak yakin dengan apa yang diucapkan Alan. Mia takut jika Alan hanya membayangkan dirinya sebagai Sarah. Karena Mia yakin Alan masih sangat cinta dengan Sarah.


"Aku mungkin jatuh cinta denganmu Lan, tapi aku takut nantinya hatiku akan patah karenamu. Kisah cintamu dengan Sarah memang sangat rumit." Batin Mia.


Kembali pada Sarah yang tak mampu menjawab pertanyaan Danil.


"Bagimana Sarah? Apa kamu mencintaiku juga? Apa kamu mau mencoba cinta denganku? Lupakan saja Alan, karena kamu telah mengandung anakku. Buah hati kita, bukankah itu cukup untuk menumbuhkan rasa cinta?"


"Maaf untuk saat ini aku belum mencintaimu, tapi aku mencoba untuk mencintaimu. Bersabarlah dan tunggulah sampai cinta itu benar-benar datang."

__ADS_1


"Mengapa? Apa kamu masih mencintainya?"


"Siapa?"


"Alan."


"Aku tidak yakin, toh dia tidak menginginkanku untuk kembali."


Danil mendekati Sarah, dan keduanya kini saling pandang satu sama lain. Danil hendak mencium bibir Sarah, dan sudah bersentuhan namun Sarah yang tersadar jika itu adalah Danil langsung memalingkan wajahnya.


"Kenapa aku seperti ini seperti wanita murahan saja, masih cinta dengan Alan. Namun mau bermesraan dengan Danil." Batin Sarah.


"Kenapa?"


"Aku takut mual jika berciuman."


"Ohh...aku sudah pakai obat kumur tadi."


"Tetap saja, ayo tidur aku mengantuk."


"Ayo."


Danil nampak bersemangat, karena ia baru saja konsultasi dengan bidan jika boleh berhungan badan ketika hamil muda. Namun hanya boleh pelan-pelan saja.


"Aku ingin.."


"Ingin apa?"


"Kewajibanmu."


"Bukankah aku sudah bilang tidak boleh."


"Aku sudah tanya bidan kamu katanya boleh, dengan halus."


Mereka hanya saling pandang satu sama lain, kali ini Sarah kehabisa ide untuk menolak ajakan Danil.


-Bersambung-


Haii jangan lupa Like, komentar, vote, kasih hadiah, favoritkan dan juga Rate ya.


Semoga tidak molor up part berkutnya.

__ADS_1


__ADS_2