
..."Ketika takdir kembali mempertemukan kita, tentang rasa yang masih sama. Namun dalam kondisi yang sudah berubah. Tentang luka yang dulu ada, yang kini sudah mulai kering dan tinggal bekasnya. Tak akan ku ulangi lagi kesalahan dimasa lalu."...
...-Sarah Shakilah-...
^^^"Aku tak pernah menyesal memilih meninggalkanmu dan mempertahankan Salsha. Aku yakin kamu yang akan menyesal nantinya dan akan memintaku untuk mempertemukanmu dengan Salsha. Namun semuanya sudah terlambat, tak ada maaf lagi untukmu." Batin Sarah.^^^
Lea akan mencari cara bagaimana cara mengusir Sarah dan juga Salsha. Karena ia tak ingin kasih sayang ayahnya juga Ken terbagi untuk Sarah. Selama ini Lea sudah bahagia dan tenang sebelum datangnya Sarah. Lea merasa Sarah hanya ingin mengusai harta ayahnya.
Sarah memasuki ruangan Alan, ia tak tahu jika pasien yang harus ia tangani adalah Alan. Sarah melihat Alan terbaring di rajang rumah sakit. Sedangkan Nayla keluar mencari makan. Sarah yakin kedua orang tua Alan sibuk sehingga tak bisa melihat kondisi anaknya. Kondisi Alan sudah membaik, darah beku di paru-paru Alan juga sudah bisa dicairkan. Sehingga sudah keadaan Alan mulai membaik.
Alan yang sadar menatap Sarah, ia tak yakin jika dokter yang tengah memeriksanya adalah Sarah. karena dokter itu mengenakan masker, yang Alan lihat hanyalah mata Sarah.
"Sarah!!"
Sarah masih diam ia masih memberikan suntikan di infus Alan. Sarah menatap Alan, ia membuka maskernya. Alan terkejut karena dokter yang menanganinya benar-benar Sarah.
"Iya ini aku, apa kamu kaget?"
"Kemana saja kamu selama ini."
"Bukan aku yang kemana, tapi kamu yang ke mana selama ini? Larikan?"
Belum sempat Alan menjawab datanglah Nayla, Nayla mengusir Sarah. Nayla menyuruh Sarah pergi, Nayla tak mau Sarah menganggu Alan. Karena Alan sudah bahagia tanpa hadirnya Sarah.
"Enggak usah diusir saya juga akan pergi, lagian tugas saya hanya memeriksa Alan dan tidak lebih dari itu."
Sarah meninggalkan ruangan Alan, karena ia tak mau membuat keribuatan di rumah sakit. Nayla menarik nafasnya, ia tak mau terlarut dalam emosinya.
"Kenapa kamu mengusirnya?"
"Dia itu hanya akan menyusahkanmu, jadi ku usir dia. Ini aku bawakan makanan, pasti kamu tak suka masakan rumah sakit yang hambar."
...Pertemuan singkat....
__ADS_1
...Dan berjalan sangat cepat....
...Tidak disangka, aku langsung terhipnotis olehnya....
...Setidaknya kamu sempat menjadi miliku....
...Meski pun tak lama hal itu, telah membuat ku bahagia....
...Dalam masalah besar yang dihadapi....
...Segitu saja perjuanganmu untukku....
Alunan lagu yang membuat Sarah ingat dengan hubungan dirinya dan Alan yang berjalan begitu singkat. Di tambah Alan lari dari masalah besar yang harus Alan hadapi. Alan yang memilih jalan singkat, dan menyakiti hati Sarah.
^^^"Aku rindu, dan akhirnya aku bisa melihat wajahmu. Inginku bertanya bagaimana kabarmu, dan juga buah hati kita. Tapi rasanya lidahku kaku, dan tak pantas menanyakan hal itu. Aku menyesal telah meninggalkanmu." Batin Alan.^^^
"Apa kamu sedang memikirkan Sarah?"
"Ingat Lan, hanya aku yang selalu ada untukmu. Dan hanya aku yang selalu menemanimu dalam suka maupun duka."
"Iya terimkasih."
Nayla menyuapi Alan, Nayla ingin Alan lekas sembuh agar Alan tak bertemu dengan Sarah. Karena Nayla tahu sampai saat ini Alan belum bisa moven on dari Sarah. Entah karena rasa bersalah atau rasa cinta, Nayla tak tahu yang Nayla tahu hanya Alan masih sering memikirkan Sarah.
"Enakkan? Makan yang banyak biar besok boleh pulang."
Nayla mengecup kening Alan, dan Alan hanya bisa diam saja karena kondisinya saat ini masih lemah. Akibat kecelakaan yang ia alami beberapa waktu lalu. Nayla masih cemas jika tiba-tiba saja Alan ingin kembali bersama dengan Sarah. Ditambah pasti ada anak Sarah, Nayla yakin jika anak Sarah dan Alan masih hidup. Dan itu kini menjadi tujuannya. Nayla akan mencari tahu apakah anak Alan dan Sarah masih hidup. Jika masih itu akan menjadi masalah besar untuknya.
Sarah masih merenung di sana, ia memikirkan Alan. Alan yang yang seharusnya tak ada dalam fikiranya itu. Alan yang seharusnya enyah dari otak dan juga hatinya. Namun semakin Sarah mencoba melupakan Alan, semakin susah ia melupakan pria yang telah menodainya di atas mobil. Kejadian yang benar-benar tak bisa dilupakan oleh Sarah.
Ia bahkan tak bisa menyalahkan Alan sepenuhnya, karena ia melakukan dosa besar itu atas nama cinta. Bahkan Alan juga tak memasksanya, jadi jika ia hamil itu adalah resikonya. Dan jika Alan tak mau tanggung jawab itu juga resiko Sarah. Menjadi perempuan memang harus berhati-hati, dan jika laki-laki yang kita cintai meminta melakukan dosa besar itu bukalah cinta hanya nafsu semata.
Ketika Nayla keluar Alan berjalan dari tempat tidurnya dan mencari Sarah. Alan ingin menanyakan keadaan anak mereka. Alan ingin tahu apakah anaknya masih hidup, dan seperti apa buah hatinya saat ini. Meski dalam hatinya ia tak layak tahu bagaimana keadaan ayahnya itu.
__ADS_1
Alan mencari Sarah ke setiap sudut rumah sakit, dan setelah berkeliling dengan susah payah akhirnya ia melihat Sarah. Alan berjalan mendekati Sarah, Sarah hendak pergi.
"Sarah." Teriak Alan, hingga sang pemilik nama menoleh kearahnya.
Sarah melihat Alan yang memanggilnya, awalnya ia tak ingi datang ke Alan. Namun karena Alan terjatuh Sarah mendatangi Alan. Sarah membantu Alan berdiri, dan menyuruh suster untuk mengambilkan kursi roda untuk Alan.
"Ternyata kamu masih peduli denganku."
"Ini hanya alasan kemanusia, sumpahku menjadi seorang dokter."
Suster yang mengambilkan kursi roda sudah datang dan kini Sarah membantu Alan duduk di kursi roda. Sarah mengantarkan Alan ke kamar rawat Alan.
"Bagimana kabarmu? Dan bagaimana kabar anak kita."
Sarah berhenti, ia tak lagi mendorong kuris roda Alan. Kini Sarah berjalan, dan menatap wajah Alan. Sarah terlihat kesal dengan Alan
"Kamu lihat aku baik-baik saja, anak kita?"
Sarah tertawa, karena Alan sama sekali tak pantas untuk menanyakan Salsha.
"Bukan anak kita, hanya anakku saja. Kemana saja kamu dulu. Sudah ku bilang padanya jika ayahnya telah mati ditelan bumi."
"Tolong aku ingin bertemu dengannya, ku mohon pertemukan aku denganya. Apa dia laki-laki atau perempuan."
"Kamu tak perlu tahu, urus saja apa yang jadi urusanmu."
Sarah mendorong kembali kursi roda Alan, di tengah perjalanan ia memanggil perawat untuk membantu Alan kembali ke kamarnya. Karena Sarah sudah tak sanggup mendengar ucapan Alan. Bahkan ia mulai tak sanggup melihat Alan. Luka itu kini semakin terasa saja, luka yang seharusnya sembuh kini mulai timbul lagi. Sarah hanya bisa berusaha menahan tangisnya itu.
-Bersambung-
Jangan lupa bantu Rate bintang 5 ya!!
vote, like dan juga komen
__ADS_1