
"Biarlah aku yang pergi, biarlah aku yang tersakiti untuk saat ini. Lebih baik sakit hati sekarang dari pada nanti. Karena pastinya cinta yang semakin dalam akan membuat luka yang dalam juga." Batin Mia.
Mia telah meninggalkan Alan, dan ia menitipkan surat perpisahannya pada Reza. Mia berpesan untuk memberikan surat itu ketika Alan sudah bisa melihat. Dan Mia juga berpesan pada Reza, jika dirinya pergi karena ada urusan di luar kota. Reza hanya bisa mengangguk ia tak bisa menahan Mia karena memang bukan haknya.
Sarah kini kembali disibukan oleh pisau bedahnya, ia harus menyingkirkan urusan pribadinya dengan dunia kerja. Karena satu kali saja tidak fokus akan berakibat fatal. Karena urusannya adalah dengan nyawa orang. Sarah menghilangkan sejenak Alan dari fikirannya. Alan yang sering kali datang menghantui fikiran Sarah.
Sementara itu Alan tengah berbaring di ranjang rumah sakit. Sebentar lagi ia diperbolehkan untik pulang, dan 2 minggu lagi barulah jadwal untuk melepas perban matanya. Dan ia akan tahu hasilnya apakah berhasil atau tidak. Alan masih kepikiran dengan Sarah, yang tadi bicara denganya memang Sarah atau hanya ilusinya semata saja. Alan bingung, namun ia yakin jika tadi benar-benar Sarah. Karena semuanya terasa sangatlah nyata.
Reza memasuki ruangan Alan, Reza mengatakan pada Alan jika Mia telah pergi. Alan terdiam sebentar, ia masih mencoba memahami apa maksud dari ucapan Reza.
"Pergi? Pergi gimana?"
"Pergi keluar kota, dan dia mengundurkan diri dari pekerjaannya. Katanya sih ada urusan penting gitu."
"Kenapa dia tidak pamit langsung padaku."
"Entahlah."
Reza memberikan surat dari Mia pada Alan.
"Apa ini?"
"Dari Mia, katanya Tuan bisa membacanya nanti jija tuan sudah bisa melihat."
"Ohhh..."
Reza pamit untuk keluar sebentar untuk mengurus kepulangan Alan. Alan yakin jika kepergian Mia pasti ada sebabnya. Karena tak mungkin Mia pergi begitu saja. Alan berfikir urusan sepenting apa yang membuat Mia pergi tanpa pamit seperti ini. Tapi hal ini juga memudahkan pilihan Alan, karena pilihan Alan kini tinggal kembali dengan Sarah. Karena Mia telah pergi dari hidupnya.
"Aku ingin mencoba jatuh cinta denganmu, namun kamu malah pergi. Mungkin takdir menyuruhku untuk kembali dengan Sarah. Menikmati hidup dengan Sarah dan juga Salsha buah hatiku. Hidup dengan mereka keluarga kecil yang sederhana." Batin Alan.
Di sisi lain Danil tengah menyiapkan kejutan untuk Sarah. Beda dengan Alan, Danil adalah tipe orang yang jika terlanjur romantis akan sangat romantis dan jika terlajur kejam akan sangan kejam. Beda dengan Alan yang hanya biasa-biasa saja, ingin yang sederhana. Hanya ingin seperti keluarga pada umumnya. Danil membelikan kalung emas dan juga perhiasan lainnya untuk Sarah.
Danil berharap Sarah suka dengan hadiah yang akan ia berikan pada Sarah. Dan semoga saja Sarah luluh, Danil tahu jika Sarah pasti saat ini ragu dengannya. Karena dirinya menuduh Sarah melakukan hubungan terlarang dengan Alan.
"Semoga saja kamu suka, pasti kamu akan terlihat cantik dengan ini." Batin Danil yang kemudiam meninggalkan toko mas.
Alan tengah bersama dengan Reza, bahkan orang tua Alan tidak datang dihari pentingnya itu. Hanya ada Reza, karena Mia juga meninggalkannya. Reza menyuapi makanan Alan.
__ADS_1
"Menurutmu apa benar Mia pergi ada urusan penting? Atau mungkin kamu tahu ada hal lain?" Tanya Alan.
Reza terdiam sejenak ia seperti tengah berfikir, Reza yakin jika Mia pergi karena tak mau menjadi orang ke tiga diantara hubungan Alan dan Sarah.
"Maaf mas, saya juga tidak tahu. Tapi mungkin memang ada urusan penting yang tidak dapat ditinggalkan." jawab Reza sambil menyuapi Alan.
Sarah masuk ke ruangan tempat Alan di rawat, ia berpura-pura jadi dokter yang akan memeriksa Alan. Reza yang tahu dokter datang langsung pamit keluar. Sarah mendekati Alan, Alan hanya diam saja, Sarah seolah mengecek suhu badan dan juga tensi Alan.
"Normal kan dok?"
"Iya normal kok."
"Sarah!."
"Kok kamu tahu." Batin Sarah.
"Pasti ini kamu kan? Aku yakin."
"Iya ini aku Sarah."
"Apa kamu sudah tidak marah padaku? Aku tidak pernah meninggalkanmu percayalah."
"Tapi kenapa kamu menikah dengan pria itu?"
"Aku tak ada pilihan waktu itu, jika kamu dalam 2 minggu tak sadar aku harus menikah dengan Danil. Dan kamu tak kunjung sadar dari koma, maafkan aku."
Alan terdiam, ia tak bisa berkata apa-apa lagi. Sarah menteskan ait matanya, Sarah menatap Alan, ia tak tega melihat kondisi Alan.
"Maaf karenaku kamu jadi seperti ini."
"Ini bukan salahmu, tapi ini takdir. Jangan menangis, semua akan baik-baik saja."
"Sekali lagi aku minta maaf." ucap Sarah.
Sarah memeluk Alan, ia melepas rasa rindu yang selama ini terpendam. Namun Alan seperti hendak menolak pelukan Sarah.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Kamu adalah istri orang, tak seharusnya seperti ini."
"Tapi aku mencintaimu, itu hanya hitam di atas putih."
"Tetap saja kamu adalah istri orang, kita sudah banyak melakukan dosa. Mari saatnya kita untuk bertaubat agar hidup kita tenang."
Sarah melepaskan pelukanya, mungkin omongan Alan ada benarnya itulah yang difikirkan oleh Sarah. Karena selama ini ia banyak menumpuk dosa. Dan mungkin juga hidupnya tak bahagia karena karma dari dosa-dosanya.
"Tunggu aku dan kita perbaiki semua, aku ingin di jalan yang benar."
"Aku pasti akan menunggumu, karena ada Salsha buah hati kita."
Sarah pamit pergi karena ada jadwal operasi yang harus ia lakukan. Sarah meninggalkan ruangan Alan, ketika Sarah keluar Reza terlihat heran karena dokter begitu lama memeriksa. Reza masuk kembali ke dalam ruangan Alan.
"Mas baik-baik saja, kok lama sekali dokternya keluar?"
"Saya baik-baik saja."
"Apa mas mau lanjut makan?"
"Tidak, saya sudah kenyang, istirahatlah."
Alan meratapi nasib kisah cintanya dengan Sarah, dulu saling benci bersaingan jadi cinta. Dan kini saling cinta namun tak bisa bersama. Sangatlah rumit dan juga melelahkan. Karena bukan seperti kisah cinta pada umumnya.
"Semoga kita segera dipersatukan, dan semoga kita bisa segera bersama. Keluarga kecil yang sederhana, itulah yang ku inginkan. Karena punya banyak uang tidaklah menjamin kebahagian." Batin Alan.
"Aku berharap semua berjalan seperti rencanaku, aku dan kamu bisa segera bersama. Kisah cinta kita harus dipersatukan." Batin Sarah.
-Bersamabung-
Haii kembali lagiiii, aku kembaliii lagiiiii
jangan lupa like, vote, komen, rate dan juga tekan tombol love agar tidak ketinggalan up dari mahmud ini.
Dari pada gibah mending mengetik novel hehe, biar kalian semua terhiburr..
wkwkwk
__ADS_1