
"Aku hampir menyerah dalam hidup, namun aku tetap bertahan demi putriku." Suara hati Sarah.
Danil masih memojokan Sarah, Danil meminta Sarah untuk mengatakan yang sesunggunya dari siapa kalung itu.
"Aku jujur ini dari ayahku." Jawab Sarah gugup.
"Benarkah." jawab Danil.
Danil memundurkan badannya, ia menarik nafasnya pelan-pelan. Danil meminta maaf pada Sarah, Danil melihat Sarah begitu takut. Danil mengusap keringat di kening Sarah.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu Sarah. Aku hanya sedang cemburu. Kamu tahukan cemburu itu tanda cinta?" ucap Danil meyakinkan Sarah.
Sarah mengatur nafasnya pelan, ia merapikan pakaian dan juga rambutnya. Sarah duduk di kursinya, dan kini keduanya kembali saling berhadap-harapan. Danil memegang tangan Sarah, dingin Danil merasakan tangan Sarah begitu dingin.
"Jangan takut sayang, aku janji tidak akan seperti ini." ucap Danil.
Danil mengambilkan Sarah minuman, Danil menyuruh Sarah untuk minum dulu. Dan Sarah meminumnya, agar dirinya lebih tenang. Sarah sudah lebih tenang, ia tak pucat lagi.
"Aku takut Danil, jangan seperti itu lagi." Ucap Sarah.
Danil masih memegang tangan Sarah, menenangkan Sarah. Dan meyakinkan Sarah jika dirinya tak akan seperti ini lagi.
"Maaf aku khilaf, aku akan belajar mengontrol emosiku. Maafkan aku sayang." ucap Danil.
"Jangan diulangi aku takut." jawab Sarah.
"Aku janji sayang." ucap Danil.
Danil mengajak Sarah untuk makan siang, Danil memakaikan kalung yang ia belikam untuk Sarah. Dan kalung dari Alan disimpan oleh Sarah.
"Cantik sekali jika kamu pakai." ucap Danil.
"Terimakasih mas, pasti ini mahal ya?" tanya Sarah.
"Ahh..enggak kok." jawab Danil.
Mereka menuju parkiran mobil, keduanya akan makan siang bersama. Danil terlihat senang, sementara Sarah masih kepikiran dengan Alan. Jika Alan pamit, Alan akan kemana itu yang ada di fikiran Sarah. Meski ia bersama dengan Danil, Sarah masih sempat memikirkan Alan.
"Mau makan apa kamu sayang?" tanya Danil dengan senyumannya.
"Terserah kamu saja." ucap Sarah.
"Ke cafe biasa ya?" ucap Danil.
"Boleh." jawab Sarah.
Danil merasa Sarah tengah memikirkan sesuatu, apa itu karena ruangan Sarah pindah. Danil berfikir jika ada masalah di rumah sakit.
__ADS_1
"Apa ada masalah sayang? Kok ruangan kamu pindah?" tanya Danil yang matanya masih fokus menyetir.
"Ahh..itu anak baru sekarang yang nempati. Aku juga enggak tahu kenapa bisa langsung jadi dokter utama. Sementara aku jadi pengganti." ucap Sarah.
"Nanti aku tanyakan pada ayah, mungkin karena kamu hamil jadi ayah enggak mau kamu terlalu kecapeaan." ucap Danil mencoba menenangkan Sarah.
"Entahlah, aku juga tidak tahu." jawab Sarah.
Akhirnya mereka sampai di cafe, Danil memesankan makanan untuk Sarah. Mereka memulai kegiatan makan siang mereka.
"Apa kamu suka kalungnya?" tanya Danil.
"Ya aku suka." jawab Sarah.
"Lalu yang dari ayahmu?" tanya Danil.
"Ku simpan, karena itu dari ayah dan peninggalan ibuku." jawab Sarah.
Danil mencoba menyuapi Sarah, dengan alasan agar Sarah merasakan makanannya. Awalnya Sarah menolak, namun akhirnya ia mau juga.
"Enakkan?" tanya Danil.
"Iya enak." jawab Sarah sambil tersenyum.
Sarah dan Danil kembali saling pandang, keduanya nampak berbinar. Gejolak cinta mengampiri mereka berdua.
"Jangan tanya kenapa aku memilih pergi, karena kebahagiaanmu lebih penting dari pada sekedar egoku ini." Batin Alan.
Alan memutuskan untuk ke Bandung, ia akan menemui Mia. Mungkin dengan bertemu Mia, membuatnya lebih tenang. Apa lagi, Alan belum melihat langsung wajah Mia. Mia yang selama ini telah merawatnya ketika ia buta.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Sarah.
"Aku hanya kagum, mengagumi istri sendiri bukanlah hal yang salah kan?" tanya Danil.
"Tentu saja bukan hal yang salah mas." jawab Sarah.
Jam makan siang sebentar lagi berakhir, Sarah meminta Danil untuk mengantarkannya ke rumah sakit. Danil dan Sarah masuk ke dalam mobil, dan kini mobilnya melaju ke jalan raya. Danil tiba-tiba mengentikan mobilnya ditengab jalan.
"Loh kok berhenti mas?" tanya Sarah.
"Suttt." suara bibir Danil, dan tangan Danil menempel di bibir Sarah.
Danil mencium bibir Sarah, keduanya kini saling berciuma. Dan hal itu selesai beberapa menit, Sarah menatap Danil.
"Maaf." ucap Danil.
"Tidak apa-apa, aku ini kan istrimu." Jawab Sarah.
__ADS_1
Sarah tersenyum, keduanya kembali saling padang satu sama lain.
"Terimakasih." ucap Danil.
Danil mencium lembut kening Sarah, Sarah mengingatkan dirinya harus segera kembali ke rumah sakit. Danil kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
"Seperti ini terus tuhan, semoga bahagia ini tak sementara. Dan semoga Sarah tidak berbohong akan kalung itu. Meski firasatku mengatakan jika itu dari Alan." Batin Danil.
Akhirnya mereka sampai depan rumah sakit, Danil membukakkan pintu mobil untuk Sarah. Dan Sarah turun dari mobil.
"Tunggu sebentar." ucap Danil.
"Ada apa mas?" tanya Sarah.
Sebuah ciuman kembali mendarat di keninh Sarah.
"Hati-hati sayang, dan semangat kerjanya." ucap Danil.
"Terimakasih Mas." Jawab Sarah yang kemudian pergi meninggalkan Danil.
Sebelum sampai ruanganya Sarah dicegat oleh dokter baru itu. Nampak jelas jika Sarah tidak suka dengan dokter itu. Karena kedatangan dokter itu membuatnya jadi tersisihkan.
"Ada apa, apa yang kamu inginkan?" tanya Sarah.
"Aku hanya ingin memperlihatkanmu ini." ucap dokter muda itu.
Sarah melihat fotonya dan Alan tengah berpelukan tadi.
"Bagimana jika ini sampai di orang tua suamimu?" ucap dokter itu.
"Kenapa kamu melakukan itu, apa kamu punya masalah denganku?" tanya Sarah keheranan.
"Tidak." jawaban yang cukup singkat dari dokter itu.
"Lantas kenapa kamu melakukan ini?" tanya Sarah.
"Ya pokoknya menguntungkan saja buat saya." jawab dokter itu kemudian pergi.
Sarah nampak panik, bagaimana jika Danil melihat foto itu. Pasti Danil akan salah paham padanya, apa lagi kalung yang diberikan oleh Alan. Pasti itu akan tambah membuat Danil curiga.
"Dunia tidak adil, rasanya aku ingin mati saja." Batin Sarah.
Danil menyiapkan kejutan romantis untuk Sarah, Danil nampak memesan orang untuk menghias kamar mereka. Danil berharap Sarah mampu menerimanya, dan ia juga akan menerima Sarah yang meski bekas Alan. Dan sudah memiliki anak. Danil akan menerima Sarah seutuhnya jika Sarah mampu meninggalkan Alan selamanya.
"Hiduplah bersama denganku, dan lupakanlah cinta masalalumu. Dan aku akan menerimamu dengan segenap jiwaku. Semoga kamu juga mampu mencintaiku, dan kita coba hidup bersama." Batin Danil.
Danil sangat ingin Sarah juga membalas cintanya, meski ia mencintai Sarah. Namun Danil masih ragu, apakah sebesar itu juga Sarah mencintainya.
__ADS_1
-Tbc-