
"Bangunlah sayang, ku mohon kesempatan kita hanya kali ini saja." Batin Sarah.
Sarah mengambil air wudhu, ia sangat berharap Alan segera sadar. Karena ia tak mau menikah dengan Danil, cinta sejatinya adalah Alan. Sarah berdoa kepada tuhan agar Alan segera bangun dari komanya. Agar Alan dan dirinya bisa segera menikah.
Pagi itu Sarah ke rumah sakit, selain untuk bekerja Sarah juga ingin melihat keadaan Alan. Tak lupa Sarah membawa bunga untuk Alan. Dan sampai di sana keadaan Alan masih sama tak ada perubahan. Sarah hampir putus asa. Ia tak mau menikah dengan Danil, orang yang sama sekali tidak ia cintai. Menikah tanpa cinta bukanlah hal diinginkan oleh Sarah.
"Cepatlah bangun sayang, atau semua impian kita akan hancur." ucap Sarah.
Tak terasa air mata Sarah jatuh begitu saja, waktu Sarah telah habis. Sarah keluar dari ruangan Alan karena ia ada jadwal operasi. Menyelamatkan orang sebisa mungkin. Alan masih setia memejamkan matanya dan berbaring di ranjang rumah sakit.
Sementara itu Danil yang disuruh oleh orang tuanya untuk membeli cincin mampir ke makan istrinya. Danil bercerita kepada istrinya jika ia akan menikah lagi.
"Cantika sayang, aku akan menikah dengan seorang gadis tapi memiliki anak dia bukan janda. Tapi tenang sayang cintaku hanya untukmu. Dan aku jadikan ini hanya sebuah formalitas saja." ucap Danil di depan makam istrinya.
Ia mencabut rumput liar yang tumbuh di makam istrinya itu. Danil menaruh bungan mawar putih kesukaan istrinya. Air matanya jatuh, priaa yang kelihatanya dingin dan cuek ternyata bisa menangis juga. Danil meninggalkan makam istrinya, ia lanjut ke toko emas untuk membeli cincin.
Sarah pergi ke bengkel Fandy, ia ingin menceritakan kisahnya pada Fandy. Mungkin dengan sedikit cerita akan membuatnya lega. Sampailah ia di bengkel Fandy, Fandy menyambut Sarah dengan senyuman termanisnya. Fandy menyuruh montirnya membuatkan minuman untuk Sarah.
"Cokelat panas kan nona?"
Sarah hanya mengangguk saja, mereka kini duduk berdua.
"Ada apa katakan? Apa Alan menyakitimu?"
"Tidak bahkan dia tidak bisa menyentuh atau biacara padaku."
"Kenapa dengan Alan?"
"Dia koma."
__ADS_1
"Ya ampun, bagaimana bisa?"
"Alan kecelakaan, ketika dalam perjalanan ke rumahku."
"Yangv sabar ya, Alan pasti bangun."
"Bukan itu yang jadi masalah "
"Lantas apa?"
Sarah terdiam ia mengatur nafasnya, ia menarik nafasnya panjang lalu ia keluarkan lagi.
"Aku dijohin sama duda, ganteng sih tapi aku tidak mencintainya."
Fandy terdiam, bagaimana bisa Sarah dijodohkan dengan duda. Jika ayahnya tidak suka dengan Alankan bisa dijodohkan dengan dirinya.
"Sabar, mungkin ini adalah jalan yang terbaik."
Sarah pamit pulang karena ia merasa lelah dan sangat pusing. Sarah ingin istirahat sejenak dari semua rasa dan sakit yang ia rasakan saat ini. Seakan di dunia ini tak ada yang mengerti dirinya. Tak ada yang mengerti apa yang ia inginkan. Dunia terasa kejam baginya, sejak kecil selalu saja hidup kurang menyenangkan.
"Tuhan izinkan aku untuk meminta selama ini aku ikhlas semua takdirmu, kini aku memintaadamu tuhan izinkan aku bersama dengan Alan." Batin Sarah.
Sarah sampai rumah malam hari dan ternyata ia mampir ke rumah Intan. Sudah lama ia tak menemui Intan. Ia bercerita dengan Intan akan kisah hidupnya, Sarah tak seberuntung Intan yang bisa bersama dengan Rendi. Intan mendukung Sarah dengan Alan, karena Alan adalah cinta sejati Sarah. Karena memang cinta penuh dengan perjuangan.
Sarah tak nafsu makan malam bersama keluarganya, meski Salsha menunggunya di meja makan. Sarah seperti kehilangan selera makan dan juga semangat hidup. Rasanya dunia begitu kejam dan terus saja menghakimi hidupnya. Sarah sudah sangat lelah sekali dengan cobaan yang tak ada hentinya.
Satu minggu kemudian, Sarah sudah mengenakan kebaya dan siap untuk akad nikah dengan Danil. Karena Alan belum juga bangun dari komanya, keluarga Alan juga menyarankan Sarah untuk menikah dengan orang lain saja. Karena mereka tak tahu kapan Alan akan bangun lagi. Dan apakah Alan akan bangun lagi, Sarah hanya bisa pasrah dengan keadaan. Ia berharap Alan sadar dari komanya sebelum ijan kabulnya dengan Danil.
"Pengantin kok sedih." ucap MUA pernikahan Sarah.
__ADS_1
"Enggak kok mbak, saking bahagianya mungkin." jawab Sarah.
Andai saja ia menikahnya dengan Alan pasti ia akan sangat bahagia. Dan ini ia menikah dengan Danil, sosok laki-laki yang tak ia kenal dan asing baginya. Bahkan ia tak tahu apa makanan kesukaan Danil apa yang membuat Danil senang.
"Lan bangunlah, ku mohon cepat bangun atau semua akan terlambat. Dan kita tidak bida bersama, atau mungkin kita tidak ditakdirkan untuk bersama." Batin Sarah.
"Nona Sarag pengantin pria sudah datang."
Sarah keluar dari kamarnya, dengan riasan adat jawa Sarah terlihat sangat cantik meski air matanya hampir saja jatuh. Danil menatap Sarah, meski Sarah lebih cantik dari pada mantan istrinya yang telah meninggal. Namun tetap saja tak akan ada yang bisa menggantikan Cantika di hati Danil. Meski Sarah sekai pun tak akan bisa.
Sarah duduk di samping Danil, jujur saja Sarah terlihat sangat sedih. Dan Danil hanya pasang muka lempeng-lempeng saja. Tak ada perasaan senang atau grogi diantara kedunya. Menikah tanpa dasar cinta memang tak mudah. Karena cinta bagaikan pondasi jika pondasi kropos maka diatasnya juga akan ikut roboh.
"Apa kalian sudah siap?"
Danil mengangguk, dan kini Danil menjabat tangan penghulu. Akad nikah selesai dan mereka resmi menjadi suami istri. Alan belum sadar dari komanya, mau tak mau Sarah mengecup punggung tangan Danil. Dan kini mereka tukar cincin. Danil tersenyum seperti mengisyaratkan pada Sarah untuk pura-pura bahagia sebagai formalitas saja.
"Kalian sudah resmi menjadi suami istri, janji kalian bukan hanya di hadapan kami. Tapi di hadapan allah swt juga."
Acara dilanjutkan dengan makan-makan dan juga foto-foto. Mana bisa Sarah bahagia meskipun hanya pura-pura saja. Karena Alan masih terbaring di rumah sakit. Dan jika nanti Alan bangun apa yang akan Sarah katakan pada Alan. Calon istrinya menikah dengan orang lain hati Alan pasti akan hancur lebur.
"Jangan kira aku senyum karena aku suka dengan semua ini, aku hanya tak ingin terlihat menyedihkan."
"Ya aku tahu, aku juga tak bahagia pasti kamu tahu itu. Karena orang yang akan nikah denganku....." ucapan Sarah terputus. Dan Danil seperti menunggu kelanjutan ucapan Sarah.
"Ya kamu tahukan kisahku, calon suamiku yang sebenarnya terbaring di rumah sakit."
Sarah dan Danil saling pandang satu sama lain.
-Bersambung-
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak