
"Aku hanya melakukan ini karena orang tuaku, jadi jangan libatkan perasaan dalam hal ini. Kita sudah sama-sama dewasaka?"
Sarah hanya mengangguk saja, tinggal satu rumah dengan Danil dan harus pura-pura bahagia di depan Salsha. Tidur bersama dengan orang asing, dan tujuan ayah Sarah menikahkan Sarah dengan Danil karena bisnis. Perusahaan ayah Sarah hampir bangkrut dan ditolong oleh ayah Danil. Dan sebagai gantinya Sarah harus menikah dengan Danil.
Acara resepsi selesai Salsha nampak bahagia, Sarah dan Danil langsung ke rumah baru mereka. Bersama dengan Salsha tentunya. Sarah berkemas barangnya, ia ingat dengan Alan. Sarah jadi sedih karena tak bisa menikah dengan Alan. Dan sampai saat ini Alan juga belum kunjung sadar dari komanya.
Sarah telah memberesi barangnya dan juga Salsha, Ayah Sarah dan yang lainnya melepas kepergian Sarah. Ken sedikit sedih karena harus berpisah dengan Salsha dan juga Sarah. Sarah menatap rumah yang baru beberapa bulan ia tempati. Dan kemudian ia naik mobil bersama dengan Danil dan Salsha.
"Papa..kita mau ke rumah oma sama opa?"
"Tidak, kita ke rumah kita sendiri sayang."
"Jadi Salsha punya kamar sendiri dong Pa?"
"Iya nanti Salsha punya kamar sendiri."
Salsha senang karena ia akan punya kamar sendiri, mereka akhirnya sampai tujuan. Sebuah rumah mewah milik Danil. Sarah menurunkan barang bawaannya, sedangkan Danil menggendong Salsha masuk ke dalam rumah. Danil benar-benar kejam tak membantu Sarah membawa barang bawaan Sarah.
"Rumah papa besar sekali, ada kolam renangnya 2 lagi."
"Nanti kalau papa libur kerja kita renang bersama."
Danil menunjukan kamar Sarah dan juga Salsha, Sarah akan tidur bersama dengan Danil dan Salsha akan tidur sendiri. Danil menggantarkan Salsha ke kamar Salsha sedangkan Sarah merapikan kamarnya dan juga menatap barang bawaannya. Mereka belum memiliki asisten rumah tangga, makanya harus apa-apa sendiri dulu.
Tak ada tanda-tanda jika Alan akan sadar dari komanya. Mungkin tanpa alat bantu yang dipasang di tubuh Alan, pasti Alan telah tiada. Karena Alan orang kaya, orang tua Alan ingin menunggu Alan sadar. Meski itu membutuhkan waktu bertahun-tahun. Orang tua Alan akan tetap menunggu Alan bangun. Sampai mereka tak punya cukup uang untuk biaya rumah sakit Alan.
Sore itu Sarah memasak makan malam untuk suami dan juga anaknya. Asisten rumah tangga yang diambil dari yayasan baru akan datang esok hari. Jadi sore ini Sarah yang memasak. Terjebak dalam pernikahan palsu adalah hal yang sulit untuk Sarah. Apa lagi dengan laki-laki sepeti Danil.
Danil selsai mandi ia duduk di kursi meja makan bersama dengan Salsha. Sarah juga sudah selesai mandi, mereka kini makan malam bersama. Salsha nampak manja dengan Danil. Untung saja Danil mau melanggati manjanya Salsha. Selesai makan malam Sarah mengantar Salsha ke kamarnya. Dan membacakan buku untuk Salsha, setelah Salsha lelap barulah ia kembali ke kamarnya.
Di kamarnya ada Danil yang tengah tiduran di sana, Sarah bingung harus tidur di mana karena ada Danil di sana. Danil menatap Sarah, Sarah menundukan pandangannya ia tak ingin menatap Danil.
__ADS_1
"Kenapa? Tidurlah di sini, bukankah kita sudah resmi menjadi suami istri?"
"Apa yang kamu inginkan?"
"Lalukan kewajibanmu dan aku lakukan kewajibanku."
"Apa maksudmu."
Dani menarik nafasnya, lalu mengeluarkan lewat mulut secara perlahan. Sarah menatap Danil, sebenarnya ia tahu apa yang dimaksud oleh Danil. Namun ia pura-pura tak tahu, karena ia hanya ingin melakukan itu dengan orang yang ia cintai.
"Hubungan layaknya suami istri."
"Aku tidak bisa, karena aku tidak mencintaimu."
"Bagimana kalau kita lakukan tanpa cinta? Tapi dengan nafsu saja."
"Aku tidak bisa, jangan aneh-aneh atau aku akan berteriak."
Sarah hendak keluar dari kamarnya, namun dengan sigap Danil menangkap tubuh Sarah. Dan setelah itu Danil mengunci pintu. Dan menyembunyikan kuncinya agar Sarah tak bisa mengambilnya.
"Teriaklah, kamu mau bilang diperkosa suamimu sendiri? Pasti mereka akan tertawa."
Sarah terdiam, ia menjadi ketakutan ia tak tahu jika Danil menginginkan hal semacam itu. Padahal sepertinya Danil orangnya dingin dan tak bernafsu. Danil mendorong tubuh Sarah, hingga Sarah jatuh di kasur empuk. Sarah semakin ketakutan, setelah Danil mengeluarkan sebuah tali.
"Jangan lakukan itu ku mohon, aku belum siap."
Alan masih di sana, di ranjang rumah sakit dengan bunga aster dari Sarah yang sudah layu. Alan masih tetap terdiam, dan tak sadarkan diri. Sedangkan Sarah saat ini sedang bersama suaminya. Harapanya untuk bersama dengan Sarah kandas.
Kembali ke Sarah dan Danil, Danil hendak mengikat Sarah mengikuti apa maunya. Danil mendapatkan tangan Sarah, dan ia mingikat tangan Sarah ke ujung ranjang. Sarah berusaha meronta namun sia-sia saja, Danil jauh lebih kuat darinya.
"Lepaskan aku, dasar gila."
__ADS_1
"Heyy.. kau ini jal*ngku jadi menurutlah dan kita akan puas bersama."
"Aku bukan pelac*r, dan aku bukan jal*ngmu."
Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Sarah, Sarah menangis ia tak dapat menahan tanginya. Danil juga mengikat kaki Sarah. Hingga kini tangan dan kaki Sarah terikat tali disetiap ujung ranjang.
"Dasar bajing*n, Salsha tolong mama."
"Bertiriaklah, kamar ini ada peredam suaranya jadi Salsha atau siapapun tak akan mendengarnya."
"Lepaskan."
"Simpan tenagamu dan jangan melawan, atau kamu akan lemas nanti."
Danil mengecup kening Sarah, ia menganggap Sarah adalah Cantika. Entah mengapa ia bisa melihat Sarah seperti Cantika.
"Cantika sayang kenapa kau menangis? Bukanya kamu suka seperti ini."
"Sadarlah Danil, aku Sarah bukan Cantika."
Danil menatap Sarah, ia membelai lembut wajah Sarah yang masih ia kira Cantika. Sarah menjerit namun Danil menghiraukan teriakan dan juga jeritam Sarah. Danil berhasil melepas kancing baju atas Sarah. Sarah semakin ketakutan. Namun kini ia hanya bisa pasrah saja dengan apa yang akan dilakukan Danil.
Salsha keluar dari kamarnya karena ia haus, karena tak tahu di mana dapur dan tempat minumnya Salsha berjalan ke kamar mamanya. Namun belum sampai di kamar mamanya Salsha terjatuh. Ia terpeleset, dan berteriak namun Sarah tak kunjung datang.
Sarah masih disandra oleh Danil, kini Danil melepas bajunya sendiri. Terlihat dada bidang milik Danil, Sarah menutup matanya.
"Dengar Danil sadarlah aku bukan Cantika, dan aku lebih suka cara halus dari pada cara kasar seperti ini."
"Cara halus ya, sebentar aku lepaskan dan kita mulai dari awal lagi."
Sarah dan Danil saling pandang, entah apa yang ada difikiran Danil. Dan yang pasti Sarah tak ingin melakukan hal itu dengan Danil.
__ADS_1
Bersambung.
jngn lupa tinggalkn jejakk