Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur
(61) Alan


__ADS_3

..."Dirimu bagaikan payung yang meneduhkan dikala hujan turun dengan derasnya, seperti pelagi ketika hadir setelah hujan. Kehadiranmu yang selalu ku tunggu, meski datangmu tanpa bilang dan pergimu juga begitu saja." -Alan....


Sarah tak bisa menjawab apa-apa ia hanya diam saja. Danil masih menunggu jawaban dari Sarah.


"Tentunya ini buah hati kita, darah dagingmu. Kamu yang melakukan paksa waktu itu."


"Syukurlah, kalau begitu tidurlah. Begadang tidak baik untuk kesehatanmu dan calon buah hati kita."


Danil mengecup kening Sarah, dan kemudian tidur di samping Sarah. Sarah membiarkan Danil tidur di sampingnya dengab guling sebagai pembatas.


"Maaf aku belum bisa merimamu, jujur saja perasaanku masih untuk Alan." Batin Sarah.


Alan berhasil melewati masa kritisnya, namun ia masih tetap harus dirawat di rumah sakit. Hampir saja Alan mendekati maut untuk ke dua kalinya. Reza tenang karena Alan sudah sadar, dan ia tak akan lagi meninggalkan Alan. Kecuali ada orang tua Alan di rumah.


"Kenapa tuhan memberiku begitu banyak kesempatan, namun mengapa juga hidupku hampa dan kosong seperti ini? Apakah ini adalah karma?" Batin Alan.


Alan hanya ditemani asisten rumah tangganya dan juga Reza. Kedua orang tua Alan masih dalam perjalanan dan belum juga sampai. Mia juga ikut menyusul Alan, ia sangat cemas dengan kondisi Alan, apalagi Alan dalam keadaan buta. Meski Alan pandai berenang namun akan sulit jika ia tak bisa melihat.


"Semoga kamu baik-baik saja mas Alan, kamu orang baik, seharusnya deritamu cepat usai." Batin Mia.


Mia masih berada dalam perjalanan menuju rumah sakit, untuk pertama kalinya ia begitu mencemaskan seseorang. Setelah 2 tahun lama ia tidak lagi ingin membuka hatinya setelah seseorang membuat patah hatinya. Luka yang dibuat oleh mantan kekasihnya sangatlah dalam. Mantan kekasihnya meninggalkanya dihari pertunangan mereka. Sungguh suatu hal yang memalukan dan membuat trauma saja.


"Aku tahu itu buah hati kita, jaga dengan baik." Bisik Danil di telinga Sarah.


"Andai kamu tahu jika aku belum yakin akan semua ini, apa kamu akan tetap di sampingku? Apa kamu akan tetap bersikap manis padaku? Jujur aku takur jika kamu kasar lagi." Batin Sarah.


"Tentu saja." jawab Sarah.


"Bisakah kita ulang lagi, aku ingin melakukannya lagi dengan halus dan penuh perasaan." ucap Danil.

__ADS_1


"Maaf, bukanya aku menolak tapi hubungan intim disaat hamil muda bukanlah hal yang baik." jawab Sarah dengan nada selembut mungkin.


"Benarkah?" tanya Danil.


"Iya aku inikan dokter, kalau tidak percaya tanya saja dengan dokter kandungan atau rekan kerjamu yang istrinya pernah hamil." jawab Sarah tegas.


"Baiklah, ayo tidur kalau begitu." ucap Danil.


Sarah tak bisa tidur tiba-tiba saja ia merasa gelisah, Sarah keluar kamar dengan alasan ingin melihat keadaan Salsha. Sarah berdalih ingin memastikan jika Salsha susah benar-benar tidur. Sarah menengok kamar Salsha dan ternyata Salsha sudah tidur pulas. Tiba-tiba saja ia kepikiran dengan Alan.


Mia sampai di rumah sakit, ketika melihat keadaan Alan ia jadi teringat dengan Sarah. Mia berfikir untuk memberitahu Sarah keadaan Alan. Tapi Mia berfikir 2 kali untuk apa ia memberitahu pada Sarah.


"Tapi Nona Sarah harus tahu, karena dia adalah penyemangat mas Alan." Batin Mia.


Mia mulai mengetik di ponselnya, ia akan mengabari Sarah tentang kondisi Alan. Dan pesan itu sudah berhasil dikirim oleh Mia. Di sisi lain ia tak ingin Sarah membuat Alan semakin sakit, namun ia juga tak bisa melihat Alan memendam rindu pada Sarah.


Sarah mendapatkan informasi jika Alan masuk rumah sakit. Sarah sangat panik dengan kondisi Alan, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan rumah. Apalagi kondisi malam hari, Sarah mencari akal. Akhirnya Sarah dapat ide, ia akan mengatakan pada Danil jika ada operasi mendadak. Sarah mengecup kening Salsha dan meninggalkan Salsha menuju kamarnya.


"Sekarang? Malam ini juga?"


"Iya ini gawat."


"Baiklah aku antar."


"Tidak usah, lagian kamu jaga Salsha saja."


"Ya udah baiklah, hati-hati."


Sarah hendak pergi namun Danil mengatakan ada hal yang dilupakan oleh Sarah. Sarah nampak bingung karena ia tidak tahu apa maksud Danil.

__ADS_1


Sarah segera ke rumah sakit, setelah ia mencium punggung tangan Danil. Danil bahagia akhirnya Sarah tahu apa yang diinginkan olehnya. Sarah meninggalkan rumah, dan menuju rumah sakit. Ia sangat cemas dengan keadaan Alan. Ia tak ingin Alan kenapa-napa, karena Alan harus tetap hidup. Alan adalah alasan Sarah selain Salsha mampu bertahan sampai saat ini.


Mia mingintip keadaan Alan melalui kaca di pintu, Alan belum sadarkan diri. Meski kata dokter kondisi Alan sudah stabil dan baik-baik saja. Reza masih cemas, ia takut disalahkan oleh keluarga Alan karena meninggalkan Alan. Orang tua Alan juga baru saja sampai, ayah Alan sangat cemas sekali. Ayah Alan datang dengan membawa kabar baik, karena donor mata untuk Alan sudah ada.


Selang 15 menitan Sarah juga datang, namun kehadiran Sarah ditolak oleh ayah Alan. Keluarga Alan menganggap jika Sarah adalah penyebab dari kecelakaan Alan. Apa lagi Sarah menikah dengan orang lain dan meninggalkan Alan. Sarah meninggalkan Alan dalam kondisi Alan masih koma. Dan ia menikah dengan Danil seorang duda kaya.


"Om biarkan aku melihat Alan, aku hanya ingin melihatnya. Sebentar saja, ku mohon." ucap Sarah.


Ayah Alan tak bergeming, begitu pula dengan ibu Alan hanya diam saja. Rasa kecewa mereka pada sosok Sarah sangatlah besar. Tapi disisi lain kesalahan masalalu Alan pada Sarah juga sangat besar. Alan yang menyuruh Sarah untuk menggugurkan kandunganya itu. Dan cucu mereka kini masih hidup bersama dengan Sarah.


"Miaa..Mia.." Suara Alan lirih.


Alan tersadar dari pingsanya dan memanggil nama Mia. Ayah Alan menyuruh Mia untuk masuk dan menemui Alan. Mia akhirnya masuk, dengan jantung berdetak lebih kencang karena gugup. Ia tak tahu mengapa Alan memanggil namanya bukan Sarah. Sementara itu ayah Alan masih menatap tajam Sarah.


"Jauhi Alan, jangan muncul lagi dihadapan Alan karena Alan akan menikah dengan Mia." ucap Ayah Alan.


Bagai disambar petir dimalam hari, Sarah sedih namun ia juga tak bisa berbuat apa-apa lagi. Toh dirinya juga sudah menikah dengan Danil.


"Sekarang pergi dari sini, urusan Salsha cucuku akan saya kirimkan uang tiap bulannya untuknya jadi kamu tenang saja." ucap ayah Alan.


Ayah Alan meninggalkan Sarah, karena ia ingin melihat keadaan putranya itu. Sarah masih termenung di sana. Ia sedih karena Alan memanggil Mia bukan dirinya. Sarah berfikir jika Alan akan bahagia jika bersama dengan Mia.


"Apa rasamu untukku sudah pudar? Apa kamu jatuh cinta dengan orang lain? Jika iya lanjutkan saja, aku hanya berharap semoga kamu bahagia." Batin Sarah.


Sarah meninggalkan rumah sakit, ia kembali ke rumahnya. Mungkin Danil adalah yang terbaik untuknya, dan Alan bukanlah cinta sejatnya. Dalam perjalanan pulang Sarah menangis, ia masih sedih dengan ucapan ayah Alan. Ditambah Alan memanggil Mia bukan dirinya.


-Bersambung-


haii jarang on, author lagi enggak punya kouta hehe. kalah sama pempes baby

__ADS_1


ĺ


__ADS_2