Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur
(64) Tes DNA


__ADS_3

Alan jadi bimbang, haruskah ia mencoba jatuh cinta pada Mia. Atau ia memilih untuk mempertahankan hubungannya dengan Sarah. Mencoba memperbaiki hubungan yang telah rusak dengan Sarah. Namun kini Alan memilih untuk fokus kekesehatannya saja. Karena sebentar lagi ia akan melakukan operasi donor mata. Alan sangat berharap operasi itu berhasil dan ia bisa melihat Sarah lagi.


Alan akan bisa memastikan sebenarnya apa yang terjadi dengan Sarah. Alan penasaran dengan raut wajah Sarah, apakah Sarah saat ini Sarah tengah bahagia atau menderita. Jujue saja Alan masih sangat mencintai Alan. Namun apa daya Alan, amarahnya pada Sarah jauh lebih besar. Ia tak terima karena Sarah meninggalkanya dan menikah dengan orang lain.


"Ketika rasa cintaku mulai pudar, dan ketika hatiku bimbang antra pergi atau kembali. Kini biarlah waktu yang menjawab semua. Menjawab tentang kisah cintaku dengan Sarah. Saling mencintai, memiliki buah hati namun tak bisa bersama. Mungkin ini adalah karma untukku dan Sarah karena telah melakukan hubungan diluar nikah." Batin Alan.


Alan yang kini mulai ingin mempertahankan Sarah, karena ia ingin menjadi ayah yang baik untuk Salsha. Menebus kesalahannya dimasalalu, dengan mengakui jika Salsha adalah anaknya. Namun jika ia tahu Sarah tengah hamil, mungkin saja Alan akan mengurungkan niatnya.


Malam itu suasana di rumah Danil sangat panas, hawa panas dipikiran Danil seperti ikut keluar. Sarah menyiapakan makan malam untuk suami dan juga anaknya itu. Sarah memasang wajah senyum selebar mungkin, namun Danil terus saja memasang wajah tegang. Sarah mengambilkan makanan untuk Danil dan juga Salsha.


"Tumben diam saja?" tanya Sarah.


"Sudahlah mari kita makan, dan aku ingin bicara sesuatu." jawab Danil.


"Katakan saja sekarang." ucap Sarah.


"Nanti saja, aku tak ingin Salsha mendengarnya." ucap Danil.


Sarah jadi cemas sebenarnya apa yang ingin dikatakan oleh Danil. Karena sepertinya adalah hal penting dan sepertinya juga Danil tengah menyimpan amarah. Sarah hanya bisa pasrah dan menunggu Danil selesai makan. Sarah menyuapi Salsha, Salsha juga merasa aneh dengan sikap Danil papa sambungnya itu.


Mereka sudah selesai makan, Sarah mengantarkan Salsha ke kamar Salsha. Sedangkan Danil masuk ke kamarnya, karena ia hendak mencuci tangan dan juga kakinya serta membasuh wajahnya.


"Jika bayi itu bukan anakku, lihat apa yang bisa ku lakukan padamu. Dan aku pasti tidak akan memaafkanmu." Batin Danil.


Sarah masuk kamarnya, ia melihat Danil tengah menunggunya. Danil berjalan mendekati pintu kamar, Danil menguci kamar. Sarah semakin bingung, dan kini ia hanya bisa menelan ludahnya. Ia hanya bisa berharap Danil tak berbuat nekat padanya.


"Ada apa?"


"Apa benar janin itu adalah anak Alan?"


"Kata siapa?"

__ADS_1


"Lea."


"Ini anak kamu percayalah."


"Aku tunggu sampai anak itu lahir dan kita tes DNA."


"Baiklah, aku tidak takut karena ini adalah anak kamu."


Sarah yang sebenarnya tidak yakin hanya bisa membela dirinya agar Danil tidak berbuat nekat. Danil mengela nafas panjang dan kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi.


Danil selesai mandi, ia menatap Sarah yang tengah berbaring di ranjang. Sarah juga balik menatap Danil, Sarah yang tadinya tidak merias wajahnya terlihat bibirnya berubah menjadi merona.


"Kamu mau merayuku ya?"


"Tidak, merayu? Maksudnya?"


"Itu pakai gincu, biasanya juga natural."


"Bolehkah?"


"Apa?"


Tatapan Danil tak hilang bibir Sarah, seolah ingin ******* bibir Sarah. Danil mendekati Sarah, Dan Sarah hanya pasrah sambil memejamkan matanya. Bibir Danil menyentuh bibir Sarah, kini keduanya saling menikmati. Bagaikan adegan kissing di drama korea. Sarah terpaksa pasrah karena ia takut Danil akan berlaku kasar padanya.


Tangan Danil tak tinggal diam, mulai meraba area sensitif Sarah. Hingga Sarah menepis tangan Danil, tak mau Danil berbuat lebih padanya.


"Kenapa?"


"Aku tak ingin kamu melakukannya sampai anak ini lahir dan kamu yakin dia adalah buah hati kita."


"Maafkan aku meragukanmu."

__ADS_1


"Aku tetap ingin tes DNA itu agar kamu yakin, bari kita lakukan hal itu."


Danil kembali mengecup bibir Sarah, keduanya bermain lidah dan saling bertukar air liur. Meski tanpa cinta adegan mereka berdua tergolong cukup panas.


"Aku berbohong untuk melindungi diriku sendiri, meski aku tak yakin jika janin ini adalah anak Danil. Tapi ya sudahlah aku sudah terlanjur mengatakannya." Batin Sarah.


Sarah telelap dalam pelukan Danil, keduanya kini sudah tidur pulas. Sarah dengan mimpi indahnya begitu pula dengan Danil. Sarah berharap segera datang hari esok. Agar ia bisa melihat proses operasi Alan, ia sangat berharap Alan bisa sembuh dan dapat melihat lagi.


Alan masih belum bisa tidur karena ia memikirkan operasi besok. Reza sudah mencoba menyuruh Alan untuk tidur agar kondisinya esok menjadi fit. Namun Alan hanya diam saja ia masih sibuk dengan lamunanya itu. Setelah beberapa saat barulah Alan masuk ke kamarnya. Dan ia mencoba untuk menutup matanya dan tidur.


Alan tak sabar melihat seperti apa Mia, pasti Mia sangat cantik. Namun disisi lain ia juga sangat ingin melihat Sarah. Orang yang sampai saat ini masih saja ada di dalam hatinya meski ia sudah mencoba untuk menghapusnya. Cinta memang rumit bisa datang begitu saja namun tidak bisa pergi begitu saja.


Pagi itu Sarah bangun dari tidurnya ia tak melihat Danil ada di sampingnya. Sarah melihat ke kamar mandi, namun Danil tak ada juga di sana, entah sebenarnya di mana Danil. Sarah berjalan keluar kamar, dan menengok ke arah dapur ternyata Danil tengah memasak di sana. Sarah menghampiri Danil yang tengah memasak untuk Sarah.


"Kenapa kamu masak? Kan ada bibi."


"Spesial buat kamu."


"Kamu kan harus kerja, sudah biar diteruskan oleh bibi."


"Kamu takut aku kecapean ya? Makanya kalau malam sebelum tidur kamu pijitin aku."


"Apaan sih, udah mandi sana."


Danil pergi mandi, dan Sarah menyuruh pembantuny untuk meneruskan masakan Danil. Danil bisa memasak, tapi tak sepandai bibi dan juga Sarah.


"Kamu sangat manis, tapi aku malam menipumu." Batin Sarah.


Sarah merasa bersalah karena ia tak jujur dengan Danil akan apa yang sebenarnya terjadi. Sarah mulai takut jika sikap Danil akan berubah jika Danil tahu yang sebenarnya. Sarah tak ingin Danil jadi kasar padanya, apalagi sampai menyakitinya dan juga Salsha. Sarah tak mau hal itu terjadi, jadi ia menutupi semua itu dari Danil. Meski Sarah melihat jika Danil mulai mencintainya.


-Tbc-

__ADS_1


hai baruu on lagi maaf, lagi sekarat kouta.


__ADS_2