Aku Bukan Pelacur

Aku Bukan Pelacur
(73)Aku Bukan Pelacur


__ADS_3

"Kamu tidak datang Sarah, kamu kemana? Apa kamu sibuk, sesibuk itukah kamu sampai lupa hari ini. Sampai lupa jadwalku lepas perban. Apa kamu tak ingin ku lihat, padahal kamu orang yang ingin ku lihat pertama kali." Batin Alan.


Sarah yang telat menemui Alan, ia langsung pergi dan mencari dokter yang tadi melepas perban Alan. Sarah ingin tahu apakah Alan bisa melihat lagi atau tidak.


"Bagaimana dengan hasil operasi Alan dok?" tanya Sarah setelah bertemu dokter yang melepas perban mata Alan.


"Alan bisa melihat lagi." jawab dokter itu.


"Syukurlah, alhamdullilah." ucap Sarah yang kemudian pergi.


Sarah hendak keluar rumah sakit, namun seorang perawat mengingatkanya jika ada pasien yang harus ditangani. Mau tidak mau Sarah harus kembali, ia yang ingin menemui Alan mengurungkan niatanya. Karena ia sudah disumpah untuk memetingkan nyawa orang dari pada masalah pribadi. Sarah mengikuti suster itu ke ruang operasi.


"Maafkan aku, aku tidak bisa datang. Tapi aku akan datang nanti tunggulah." Batin Sarah.


Alan sampai di dalam rumah, ia menunggu kedatangan Sarah. Alan sangat ingin bertemu dengan Sarah, namun Sarah tak kunjung datang. Dan Sarah juga sama sekali tidak memberi kabar apa-apa padanya.


"Sepertinya kamu cemas Lan ada apa?" ucap ibu Alan.


"Tidak bu, tidak apa-apa." Jawab Alan singkat.


"Jangan bilang kamu masih mengharapkan pelac*r itu ya?" ucap ibu Alan.


"Dia bukan pelac*r, jangan sekali lagi ibu katakan hal itu." ucap Alan.


"Tapi benarkan, bahkan dia meninggalkanmu nak, dan memilih duda itu. Dan dia masih berhubungan denganmu. Apa namanya itu kalau bukan pelacur?" ucap ibu Alan.


"Sudah diamlah bu, aku sedang tak ingin berdebat." jawan Alan.


Sarah masih disibukan di ruangan operasi, karena sumpahnya ia harus menolong nyawa orang terlebih dahulu. Dan Sarah juga masih fokus dengan pasiennya itu, dan menyampingkan Alan terlebih dahulu. Sarah hanya berharap Alan bisa mengerti jika dirinya tak bisa begitu saja meninggalkan rumah sakit.


Alan masih menunggu Sarah meski kedua orang tuanya tidak setuju hubungannya dengan Sarah. Karena Sarah saat ini adalah istri orang. Dan tak seharusnya Alan mendekati Sarah dan main gila dengan Sarah. Reza tahu jika Alan tengah memikirkan Sarah.


"Aku merindukanmu, cepatlah ke sini. Aku ingin bertemu denganmu." Batin Alan

__ADS_1


Danil sudah sampai ditempat tujuannya, dan sebenarnya tujuan ayahnya mengirimnya keluar kota agar Alan pisah dari Sarah. Ayah Danil tahu jika Sarah masih sering berhubungan dengan Alan. Ayah Danil memang mengirim mata-mata untuk memata-matai Sarah. Dan ternyata Sarah masih selingkuh, dan sering bertemu Alan.


Danil ingin segera menyelesaikan pekerjaanya itu, ia ingin di samping Sarah. Ia ingin menemani Sarah saat Sarah tengah hamil. Danil tak tega jika Sarah ngidam dan tak ada yang mencarikanya.


Sarah yang telah selesai dengan tugasnya, langsung berjalan menuju ruangannya. Ia melepas jas putihnya dan berjalan pergi. Ia ingin menemui Alan saat ini juga karena jadwal tugas operasinya masih nanti sore. Sarah tak sabar melihat Alan, tak sabar saling tatap dan pandang satu sama lain. Mobil Sarah kini tengah melaju di jalanan. Sarah mengendarai mobilnya dengan santai karena tak mau terjadi apa-apa.


Setelah beberapa menit sampailah Sarah di depan rumah Alan. Sarah hendak memecet bel rumah Alan, namun ia nampak ragu. Sarah memberanikan diri untuk memencet bel rumah Alan. Dan akhirnya Alan yang datang, Sarah tak percaya Alan ada di depannya. Alan bisa melihatnya dan yang pasti saat ini Alan menunggunya.


"Alan.." ucap Sarah.


"Iya Sarah, aku bisa melihatmu." ucap Alan.


Alan memeluk Sarah, mereka mengeluarkan air mata bahagia. Sarah meneteska air mata marena akhirnya datang juga. Begitu pula dengan Alan ia juga meneteskan air mata karena sangat bahagia sekali. Mereka saling peluk erat satu sama lain.


"Aku merindukanmu." ucap Alan.


"Aku juga sangat merindukanmu." jawab Sarah.


Alan melepaskan pelukanya itu, ia menatap Sarah melihat wajah Sarah. Wajah Sarah yang ternyata masih sama. Bahkan jauh lebih cantik dari dulu, itulah yang dilihat Alan.


"Kamu juga masih tetap tampan." ucap Sarah.


Mereka kembali berpelukan untuk beberapa saat, dan kemudian Alan menyuruh Sarah untuk masuk. Kini mereka berdua duduk di ruang tamu, Alan menyuruh Reza untuk membuatkan minuman untuk Sarah dan dirinya. Reza ke dapur dan menyuruh pembantu Alan untuk membuatkan minuman. Dan Reza yang akan mengantarkan minuman itu.


Sarah dan Alan saling berbincang satu sama lain, mereka melepas rindu. Sarah dan Alan makan cemilan menikamati setiap detik kebersamaan mereka. Reza datang membawakan minuman dan cemilan lagi untuk Sarah dan Alan.


"Bagaimana dengan suamimu? Kenapa kamu menikah dengannya?" ucap Alan.


"Aku terpaksa, saat itu aku menunggu kamu sadar dari koma dan aku hanya diberi waktu 2 minggu saja. Dan kamu tidak bangun-bangun, maka mau tidak mau aku harus menikah dengan Danil." jawab Sarah.


"Apa kamu bahagia dengannya? Lalu apa Salsha bisa dekat dengan Danil?" ucap Alan.


"Aku tidak begitu bahagia, karena aku terjebak cinta masalalu denganmu, namun Salsha dekat dengan Danil. Danil menyayangi Salsha, begitu pula dengan Salsha." jawab Sarah.

__ADS_1


"Posisiku sebagai ayah diabil oleh pria itu." ucap Alan.


"Tenanglah selama Danil di luar kota kamu bisa mencoba mendekati Salsha lagi, bukankah kalian dulu bisa dekat." ucap Sarah.


"Baiklah, akan ku coba." jawab Alan.


Tiba-tiba saja kedua orang tua Alan datang, Alan menyambut kedatangan orang tuanya itu dengan ramah. Namun terlihat jelaa jika kedua orang tua Alan tidak suka akan hadirnya Sarah di sana. Alan mencium punggung tangan orang tuanya itu. Dan ketika Sarah juga akan mencium punggung tangan orang tua Alan malah menolak.


"Kenapa dia ada di sini? Kamu tahu kan Lan, dia ini istri orang. Dan dia juga telah meninggalkanmu." ucap ibu Alan.


"Aku dan Sarah saling mencintai, jadi apa salahnya bu?" ucap Alan.


"Dia itu Jal*ng, pelac*r kamu harus pisah dari dia, dia tak pantas untukmu." ucap ayah Alan.


Air mata Sarah sudah hampir jatuh, Alan memeluk Sarah erat. Alan menguatkan Sarah, agar Sarah tetap bertahan dengannya.


"Saya bukan pelac*r, ingat hal itu baik-baik ya Pak." ucap Sarah.


"Apa namanya bukan pelac*r , kalau kamu mau dengan Alan anak saya, dan kamu juga mau sama Danil." ucap Ayah Alan.


Sarah meninggalkan rumah Alan, dan Alan mengejar Sarah, namun tak ke buru karena Sarah sudah masuk ke dalam mobil.


-Bersambung-


Datang lagiii


Jangan lupa hadiahnya.


Votenya..


Like nya.


Komenya

__ADS_1


tinggalkan jejak.


Salam dari mahmud iniii.


__ADS_2