Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Di Talak


__ADS_3

Kini pernikahan Reka dan Lisa sudah berjalan tiga bulan. Selama itu juga Witma tinggal di rumah Lisa dan sampai saat ini ibunya Witma tidak tahu kalau ternyata putri yang ia sayangi dimadu.


"Ganti seprai di kamarku!" ucapan Lisa membuat Witma yang sedang mengepel menghentikan kegiatannya. "Kotor, soalnya tadi malam Mas Reka habis jenguk dedek bayi." Lisa sengaja mengatakan itu karena ia tahu Reka tidak pernah menyentuh Witma lagi setelah mereka menikah.


"Ya Allah, perluas lagi rasa sabarku." Witma membatin, ternyata selama ini ia hanya dijadikan pembantu oleh Lisa.


Lisa merasa puas setelah melihat raut wajah Witma yang sedih. "Masih tetap mau bertahan sebagai istri Mas Reka?" Lisa mengelus perutnya yang terlihat sudah membesar. "Meski tubuhmu sudah tidak di inginkan oleh Mas Reka," kata Lisa yang semakin membuat Witma merasa bersedih. "Mulutku memang jago dalam hal apapun termasuk melukai hati orang."


"Lisa, jika bukan karena Mas Reka. Aku tidak mau di jadikan babu di rumahmu ini. Dan satu hal lagi, yang kamu kandung itu bukan darah daging Mas Reka. Jadi, berhenti membangkakan diri kamu di depanku." Entah dapat keberanian dari mana Witma berani mengatakan itu semua di depan Lisa.


"Bilang saja kamu iri, dasar mandul!" Lisa marah mendengar ucapan Witma yang tadi. "Mas Reka masih mempertahankan kamu karena dia kasihan, mengingat kamu terlahir dari keluarga yang tidak mampu." Lisa mendorong dada Witma. "Makanya kalau mandul jangan belagu."


Witma yang tidak tahan karena selalu saja mendengar kata mandul membuka suara. "Aku tidak mandul Lisa, yang mandul itu Mas Re—"


"Cukup!! Jangan kamu memutar balikan fakta Witma. Yang mandul itu kamu. Mau sampai kapanpun pokoknya kamu lah yang mandul," potong Lisa. Ia sebenarnya tahu kalau Reka mandul tapi demi menjaga rahasianya ia rela melakukan segala cara termsuk menyalahkan Witma yang mandul bukan Reka.

__ADS_1


"Kebenaran akan terungkap, suatu hari nanti aku harap kamu tidak menyesali apa yang telah kamu lakukan padaku dan juga Mas Reka." Witma pergi setelah mengatakan itu, karena ia takut Reka melihatnya dengan Lisa sedang adu mulut bisa-bisa ia yang akan kena marah. Karena sampai detik ini Reka lebih memihak kepada Lisa.


"Si Mandul yang iri, ternyata ada ya manusia kayak kamu!" seru Lisa karena Witma sudah menaiki anak tangga. "Awas saja, aku akan buat Mas Reka menceraikan kamu secepatnya." Lisa tersenyum licik karena di otaknya sudah ada rencana yang tersusun rapi. "Ya, sebentar lagi Mas Reka akan menjadi milikku seutuhnya. Tanpa berbagi dengan Witma wanita yang mandul," desis Lisa.


*


*


Reka yang baru saja pulang entah dari mana melihat Lisa yang sedang menangis histeris di bawah anak tangga sambil memegang perut.


"Mas, tolong perutku sangat sakit sekali," kata Lisa sambil meringis. "


"Ini semua gara-gara istri mandul kamu Mas, bisa-bisanya dia ngepel sebecek ini." Lisa tiba-tiba saja menyalahkan Witma padahal tadi dia sendiri yang menumpah isi air ember itu. Niatnya mau membuat Witma terpeleset supaya jatuh. Namun, malah dirinya yang terkena jebakan sendiri.


Reka yang mendengar itu langsung marah. "Witma! Sini kamu." Reka memanggil Witma yang masih di atas kamar Lisa. "Witma! Jangan pura-pura tuli kamu!" Reka semakin terlihat marah gara-gara tidak mendengar sahutan Witma. "Kurang ajar, dimana wanita mandul itu."

__ADS_1


Tidak lama Witma terlihat menuruni anak tangga dengan membawa banyak sekali cucian. Ia tidak tahu saja tatapan Reka saat ini seperti akan menelan orang secara hidup-hidup.


"Witma, berani-beraninya kamu ingin membunuh bayiku!" terik Reka sambil mengelus perut Lisa.


Karena pandangan Witma terbatas karena membawa cucian bak gunung ia jadi tidak bisa melihat Lisa yang sedang duduk di lantai kesakitan. "Ada apa Mas Reka teriak-teriak? Malu sama tetangg—"


Tangan Reka dengan kasar mendorong Witma sehingga ucapan Witma menggantung. Cucian kotor yang begitu banyak menjadi berserakan karena Witma didorong sampai terjatuh di dekat Lisa.


"Apa kamu mau melenyapkan darah dagingku?" Reka menarik rambut Witma. "Jahat sekali kamu, ingin membu*uh bayi yang tidak berdosa." Reka tanpa aba-aba menampar pipi Witma kiri dan kanan dengan sangat kasar.


"Mas, apa yang kamu lakukan. Aku tidak sejahat itu." Witma membela dirinya sambil memegang tangan Reka supaya tidak menamparnya lagi.


"Tutup mulutmu Witma, kau telah menumpah air pel yang ada di ember itu makanya, Lisa jadi terpeleset." Reka beralih mencekik leher Witma.


"Aku sama sekali tidak pernah menumpah semua air di dalam ember itu, kenapa Mas tiba-tiba menuduh A—" Suara Witma terputus karena Reka mencekik leher Witma semakin kuat.

__ADS_1


Sedangkan Lisa yang melihat itu merasa puas. "Tidak apa-apa gagal membuatmu celaka, yang penting kamu sekarang akan mati di tangan Reka." Lisa membatin.


"Mulai detik dan saat ini aku talak kamu Witma!" seru Reka dan langsung melempar Witma ke tembok.


__ADS_2