Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Kedatangan Furqon


__ADS_3

"Akhirnya sampai rumah juga, terima kasih ya, Dina karena mau nganterin aku sampai dirumah," ucapan yang selalu saja di katakan Witma saat di antar pulang oleh Dina. Padahal ini bukan yang pertama kalinya ia diantar sampai kontrakan seperti sekarang ini.


"Kembali kasih lagi kawan, aku heran kenapa seorang Witma tidak pernah bosan dalam hal mengucapkan terima kasih setiap hari," kata Dina membalas ucapan Witma. Karena ia menjadi sedikit gemas saat mendengar kalimat itu saja.


"Lantas apa yang harus aku ucapkan untuk sahabatku yang cantik dan super baik ini?" Witma menaik turunkan alisnya sambil tersenyum sehingga dua lesung di pipinya kelihatan sempurna. "Jawablah, agar kosakataku bertambah tidak itu-itu saja, kamu sendiri saja sampai bosan mendengarnya gimana dengan rumah ini yang menjadi saksi bisu." Detik itu juga Witma dan Dina langsung tertawa bersamaan gara-gara mendengar kata saksi bisu.


"Perutku sangat kram hanya mendengar kalimat candaanmu, bisa-bisanya kamu sampai kepikiran kesana. Mana ada rumah menjadi saksi bisu." Lagi-lagi Dina tertawa terbahak-bahak karena ia merasa lucu dengan apa yang ia katakan tadi. "Sudah kamu masuk saja ke dalam rumah kontrakan kamu yang sudah menjadi saksi bisu dua bulan belakangan ini." Dina kembali memakai helmnya. "Ingat jangan begadang, langsung istirahat supaya besok pagi tidak bangun kesiangan, dan juga biar tidak ketinggalan pesawat juga."


"Sip bos! Akan aku lakukan tidak begadang dan langsung bobo syantik," balas Witma yang melihat sudut mata Dina berair. "Jangan cengeng, aku pergi hanya buat liburan bukan tinggal disana selamanya. Sekarang pulanglah mumpung masih belum terlalu larut malam."


"Aku hanya kelipan tidak menangis kamu terlalu lebay, ya sudah aku pergi dulu. Assalamualikaum," ucapnya berkaitan.


Witma terdiam sejenak sebelum menjawab salam Dina. "Wa'alaikumussalam, kamu harus ingat hati-hati dalam mengendarai jangan ngebut-ngebut ingat ini sudah malam."


***

__ADS_1


"Kak, nanti Tami tinggal sama siapa kalau Kakak menikah?" pertanyaan itu langsung keluar begitu saja saat ia melihat Witma baru saja akan duduk di depan tv.


"Kamu akan tetap tinggal dengan Kakak Tami, karena tidak mungkin aku membiarkan kamu sendirian di sini," kata Witma menjawab pertanyaan Tami. Karena ia memang benar ingin mengajak Tami tinggal bersamanya meskipun Furqon sudah mengatakan kalau Tami akan dibawa ke Bali dan akan tinggal bersamanya. Namun, ia bersikukuh untuk mempertahankan Tami supaya tetap tinggal dengannya. "Pokoknya yang harus kamu pikirkan tentang belajar yang rajin, jangan sampai nilai kamu anjlok gara-gara pikiran kamu yang tidak menentu ini," sambungnya.


"Tapi, apa calon suami Kakak tidak akan keberatan jika Tami akan tinggal bersama kalian sampai waktu yang tidak bisa Tami tentukan?" Lagi-lagi Tami menanyakan hal yang membuat pikirannya sendiri terganggu.


Witma tahu saat ini Tami pasti sedang merasa takut jika saja calon suaminya nanti tidak akan setuju jika sang adik tinggal bersama mereka. "Tami sayang, bukankah kata Kak Furqon laki-laki yang akan menjadi suami Kakak itu laki-laki yang baik. Jadi, buat apa kamu takut kalau dia tidak setuju ataupun keberatan jika kamu tinggal bersama Kakak." Ia akan terus meyakinkan Tami sampai benar-benar percaya. "Dia bukan mas Reka, yang ketika kamu maupun almarhum Ibu datang dulu ke rumah ibu Endang akan di usir dan di sindir habis-habisan, padahal waktu itu kalian berdua cuma menginap satu malam itupun karena aku sakit," gumamnya lirih, ia menjadi mengingat lagi bagaimana dulu Reka menyindir sang ibu serta adiknya. Dan mengusir mereka secara terang-terangan.


"Maafkan Tami, gara-gara pertanyan Tami yang tadi membuat Kakak menjadi sedih," ucap Tami yang lalu memeluk Witma sesaat setelah mengatakan itu, karena ia ingin memberikan kekuatan kepada sang kakak dan juga berharap Witma tidak bersedih lagi.


*


*


Ternyata Furqon sudah datang sendiri tanpa membawa Fatimah dan juga kedua anaknya. "Bagaimana Witma apa kamu sudah siap untuk melepas masa kesendirianmu selama ini?" tanya Furqon hanya untuk sekedar memastikan kalau ini semua tidak ada dasar keterpaksaan darinya. "Kalau kamu benar-benar belum siap kita boleh menundanya dulu."

__ADS_1


"InsyaAllah, aku sudah siap Kak ini semua juga kan, demi kebaikanku sendiri," jawab Witma meyakinkan dirinya sendiri berharap rasa takut dan was-was pada hatinya menjadi sedikit berkurang. "Dan juga bukankah Kakak sendiri yang pernah mengatakan, jangan pernah menunda niat baik karena itu tidak boleh," lanjutnya lagi.


Furqon tersenyum saat mendengar jawaban Witma karena ia tidak pernah menyangka kalau Witma akan berkata demikian. "Masya Allah, kamu benar-benar adik Kakak yang dulu Witma, dimana kamu akan selalu menerima setiap keputusan yang Kakak berikan." Ia benar-benar merasa kalau Witma sudah berubah karena mau menerima lamaran laki-laki misterius itu. "Meski calon suami kamu umurnya sedikit tua, tapi percayalah dia akan mampu membawa kamu ke jalan yang telah di ridhoi Allah SWT."


"Boleh aku tahu siapa nama calon suami aku itu, Kak?" tanya Witma hanya ingin tahu nama calon suaminya supaya ia tidak terus-menerus penasaran.


"Besok pagi Witma, kamu akan tahu namanya saat kalian sudah sah menjadi suami istri, Kakak juga berharap kamu tidak kecewa saat melihat wajah dan bentuk tubuh calon suamimu." Furqon hanya ingin melihat bagaimana ekspresi wajah Witma saat ia mengatakan itu tadi.


"Aku mau mencintai calon suamiku karena Allah. Jadi, bagaimanapun bentuk fisik calon suamiku itu aku akan menerimanya apa adanya. Maka Kakak jangan mengkhawatirkan masalah itu lagi." Lain di mulut lain di hati itu yang saat ini Witma katakan. Di hatinya masih sedikit ragu tapi mulutnya malah mengucapkan itu semua.


"Karena sungguh aku sangat yakin bahwa pilihan Kakak tidak akan pernah salah."


Furqon memberikan Witma selembar kertas. "Kalau begitu tanda tangan disini dulu, supaya Kakak bisa langsung mengantarnya ke KUA. Kebetulan calon suami kamu itu maunya kalian menikah di KUA saja yang penting kalian menikah sah secara agama dan negara." Furqon menjelaskan lagi kepada Witma supaya tahu kalau pernikahan ini tidak ada acara maupun resepsi.


Dengan mengucap basmalah Witma mengambil bolpoin dan langsung menandatangani kertas itu. "Semoga ini menjadi pernikahan yang kedua dan terakhir bagiku, semoga juga hanya kain putih yang menjadi kata pisah untuk kami," ucapnya berdoa dengan penuh sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Witma, paper bag yang tadi Kakak taruh di atas ranjang itu adalah satu set baju kebaya yang berbentuk gamis lengkap dengan cadar tolong kamu pakai itu besok. Karena sepertinya calon kamu ini benar-benar paham tentang agama dimana aurat harus dijaga." Furqon tidak sadar kalau ucapannya semakin membuat Witma penasaran dengan sosok laki-laki itu.


__ADS_2