
"Tami tenang dulu, ini kayaknya kamu sudah salah paham," kata Rangga yang mengajak Tami ke luar dari ruangan Witma. Karena mereka semua takut Witma akan terganggu dengan suara obrolan mereka. "Ini memang hasil USG Witma, tapi bukan Witma kakakmu yang aku maksud." Rangga memberikan Tami selembar foto yang berukuran 2r. "Ini Witma yang aku maksud salah satu pasienku." Dan Rangga mulai menjelaskannya kepada Tami mulai dari A sampai Z. "Apa sekarang kamu sudah paham?"
Tami mengangguk setelah mendengar penjelasan Rangga, ia merasa malu sendiri karena sudah berprasangka buruk kepada Arash. "Kak Arash maafkan Tami, karena sudah salah paham." Nada suara Tami menjadi lembut tidak seperti yang tadi terkesan keras dan membentak Arash.
"Tidak apa-apa, namanya juga kita manusia yang tidak luput dari kata salah." Arash menimpali Tami. "Apa kamu sudah makan?" Ia tahu pasti Tami belum makan makanya ia bertanya. "Kalau belum pergi makan dulu, di sana ada kantin." Ia menunjukkan letak kantin yang ada di rumah sakit itu. Sambil memberikan Tami selembar uang yang berwarna merah. "Pakai ini saja, usahakan jangan lama-lama karena sebentar lagi Witma pasti sadar. Dikarenakan efek obat tidurnya akan habis tinggal beberapa menit lagi."
Tami mendorong tangan Arash. "Tidak usah kak, Tami ada uang kok." Ia menolak karena Arash sudah terlalu banyak membantu dirinya dan Witma. "Tami pergi dulu ke kantin, dan akan mengusahakan makan dengan cepat-cepat." Ia tersenyum saat mengatakan itu.
"Aku tidak menerima penolakan Tami, ambil dan cepatlah pergi ke kantin. Sepertinya Dokter Rangga juga saat ini belum makan." Arash mencolek lengan Rangga. "Iya kan, Bro?"
"Ah, ya. Kebetulan aku belum makan siang juga. Kalau begitu ayo Tam, kita pergi saja sekarang ke kantin," ajak Rangga dengan nada suara yang sedikit gugup.
*
Di kantin.
"Kamu sudah kelas berapa?" tanya Rangga saat mereka masih menunggu pesanannya datang.
"Tami baru kelas 2 dok," jawab Tami yang sedang menyempatkan diri membaca novel dengan judul "PENYESALAN BALAS DENDAM" Author Ayuza.
Rangga berdehem beberapa kali karena sepertinya ia mulai sedikit tertarik dengan gadis yang ada di depannya saat ini. "Apa Tami udah punya pacar?" Sebenarnya Rangga takut untuk menanyakan soal itu tapi karena ia penasaran maka dari itu rasa takutnya ia taruh di belakang dulu.
__ADS_1
Tami langsung melepas ponselnya ia kemudian melihat Rangga. "Tami belum cukup umur buat pacaran dan juga kata Kak Witma, Tami harus sekolah yang benar jangan main cinta-cintaan dulu supaya bisa membanggakan almarhum Ibu," jawab Tami dengan polos. "Kalau Dokter apa sudah punya istri?" Sekarang giliran Tami yang bertanya kepada Rangga.
"Benar kata kakak kamu, kalau kamu jangan main cinta-cintaan dulu," balas Rangga yang sedang memikirkan jawaban yang akan ia berikan ke Tami tentang statusnya saat ini. "Dan untuk statusku saat ini aku duda tapi masih perjaka," katanya menjawab pertanyaan Tami.
"Duda tapi masih perjaka apa maksudnya?" Sambil menebak-nebak di dalam benaknya Tami berusaha untuk mencerna kata-kata Rangga.
"Iya aku menceraikan mantan istriku ketika malam pertama, dimana ternyata dia sudah tidak virgin lagi dan juga dia sudah hamil dua bulan." Rangga biasanya selalu merahasiakan ini dari orang-orang lalu kenapa? Kepada Tami ia berkata begini mengungkapkan kebenaran yang selama ini tidak ada orang lain yang tahu. "Aku tahu, karena aku salah satu dokter kandungan jadi, kamu tidak perlu heran aku bisa tahu itu semua dari mana."
"Maaf karena pertanyaan Tami yang tadi membuat Dokter jadi mengingat masa lalu lagi." Tami menjadi merasa tidak enak dengan Rangga. "Semoga jodoh Dokter yang akan datang ini tidak seperti yang pertama," katanya menghibur Rangga.
"Amin, semoga doa Tami di ijabah sama Allah SWT." Rangga tersenyum saat melihat mata Tami yang begitu memancarkan keteduhan.
*
*
"Nggak perlu, aku kesini cuma mau melihat keadaan Witma saja!" ketus Reka. Ya ternyata itu Reka yang datang ke rumah sakit.
"Apa salahnya mengucap salam, apa mulut Anda merasa sangat berat? Sehingga kata Assalamualaikum saja sulit sekali Anda ucapkan?"
"Sudah Arash, aku tidak ada waktu untuk berdebat denganmu." Reka lalu mendekat ke arah bed dimana Witma masih memejamkan mata. "Kamu bisa kan, keluar dulu dari sini? Soalnya aku mau berduaan dengan Witma."
__ADS_1
Arash menutup Al-Qur'an yang tadi sempat ia baca untuk Witma. "Silahkan saja, saya tidak akan mengganggu Anda." Bukannya pergi Arash hanya menggeser sedikit posisi kursi tempatnya duduk. "Bicaralah toh Witma juga masih belum sadar, dan tenang saja saya akan memakai ini." Arash mengeluarkan airphone. "Jadi, tidak usah takut untuk di dengar."
Reka yang sangat mudah emosian memelototi Arash. "Aku mau berdua dengan Witma tanpa ada kamu!" Reka yang kesal menunjuk wajah Arash.
"Dikarenakan sistem di Noveltoon sudah berubah, saya mohon selaku Author yang mendapatkan pendapatan hanya dari komen dan Like, saya berharap para pembaca memberikan saya dukungan dengan cara Like dan Komen. Saya tidak minta hadiah maupun Vote itu saja sudah cukup bagi saya ๐๐"
......................
Sembari menunggu si Witma Up ayo kakak-kakak jangan lupa mampir ke karya temanku ya, di jamin tidak kalah serunya kok.
Ada di bawah sini๐๐
Dengan judul: Menikah dengan Musuhku : Luka dalam Pernikahan
Author: R. Angela
Blurb
Tujuan hidup Rain LaLuka hanya satu, membalas dendam. Demi mewujudkan rencananya, dia terpaksa menikahi gadis yang menjadi penyebab adiknya bunuh diri. Siapa sangka ketika hari dimana dia menikah dengan Dara, saat itu pula dia bertemu dengan wanita yang sudah meninggalkan ayah, adik dan juga dirinya bertahun-tahun lalu, yang tidak lain adalah ibunya.
__ADS_1
Mendapati dirinya dan Dara adalah saudara, Rain bimbang sesaat apakah ingin melanjutkan pernikahan itu, tapi demi balas dendam, dia pun menikahi gadis yang ternyata putri dari ibu kandungnya sendiri.