
Sang mentari sudah memancarkan cahaya dari celah-celah jendela namun, Witma terlihat tampak enggan membuka matanya. Sedangkan Ratih yang melihatnya hanya bisa menghela nafas panjang karena ia merasa kasihan melihat putrinya.
"Witma, putri Ibu yang malang. Bersabarlah badai ini pasti akan berlalu. Dan Ibu yakin, kamu pasti akan menemukan kebahagian yang tiada bandingannya," kata Ratih. Yang kemudian pergi ke dapur ingin membuat sarapan untuk Witma.
Beberapa saat kemudian Witma yang merasa lapar, terpaksa membuka matanya. Ia dengan cepat bangun dan segera menuju dapur karena ia mendengar suara Ibu ratih serta adiknya.
Dikarenakan letak dapur dan kamarnya bersebelahan jadi, Witma tidak memerlukan waktu yang lama untuk sampai ke dapur.
"Witma sudah bangun, ini sarapannya Nak, sudah jadi." Ratih tersenyum saat melihat Witma berdiri di pintu dapur.
"Ibu seharusnya tidak usah repot-repot, Witma bisa buat sarapan sendiri." Witma membalas dengan tersenyum juga.
"Siapa bilang Ibu repot, Ibu malah senang bisa masak untuk putri Ibu yang cantik ini." Ratih berusaha terlihat biasa saja, padahal dadanya terasa sesak saat melihat mata Witma yang masih bengkak karena terlalu lama menangis.
"Seharusnya Ibu istirahat saja, maafkan Witma yang hanya bisa menjadi beban Ibu." Witma mendekat ke Ratih.
"Kamu ngomong apa sih Nak, Ibu tidak pernah merasa seperti itu." Lama memandang putrinya Ratih jadi teringat dengan kata-kata almarhum suaminya. Yang mengatakan kalau pernikahan Witma tidak akan berjalan lama, dan benar saja ucapan itu terbukti. "Witma sarapan dulu ya, Ibu ada urusan sebentar."
"Apa ibu sudah sarapan? Kalau belum sarapan dulu baru pergi." Witma memang selalu begini perhatian kepada Ratih.
"Ibu tadi sudah sarapan duluan, kalau begitu Ibu pergi dulu," pamit Ratih.
"Tunggu dulu Bu," ucapan Witma membuat Ratih menghentikan langkahnya. "Bukannya tadi Witma mendengar suara Tami, kemana anak itu?" tanyanya.
"Adik kamu Tami, sudah berangkat sekolah dari tadi," jawab Ratih. "Ibu pergi, kamu sarapan yang banyak."
Witma hanya bisa mengangguk. Dan setelah Ratih pergi Witma mengambil ponselnya yang layarnya retak itu, melihat beberapa fotonya bersama Reka tak terasa air matanya kembali jatuh mengingat bagaimana Reka menceraikannya hanya karena ia dituduh membuat Lisa celaka.
__ADS_1
Tiba-tiba saja perutnya yang tadinya terasa sangat lapar menjadi kenyang ketika mengingat perlakuan Reka dan Lisa pada dirinya ia juga tidak jadi sarapan.
*
*
Disisi lain Reka sedang berada di sebuah bar setelah ia membawa Lisa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Saat ini Reka bersama wanita-wanita yang belahan dadanya terlihat dan hanya memakai pakaian begitu terbuka. Namun, siapa sangka Lusi yang dari dulu tergila-gila pada Reka berada disana. BRAAAK … Lusi mendobrak meja.
"Minggir dasar murahan, dia ini calon suamiku singkirkan tangan kotor kalian!!" pekiknya tiba-tiba.
Reka yang dari tadi berusaha keras untuk tetap sadar meraih tangan Lusi. pandangannya yang buram malah mengira Lusi adalah Witma. "Sedang apa kamu disini, puas kamu sudah membuat bayiku m@ti!" Reka berteriak.
Para wanita yang di sana satu persatu pergi meninggalkan Reka dan Lusi, saat mendengar Reka teriak.
Iya, Lusi adalah cinta pertama Reka. Yang sekarang tiba-tiba saja hadir dalam kehidupan Reka lagi.
Reka memegang pergelangan tangan Lusi. "Sekarang kamu bisa tersenyum di atas penderitaanku." Setelah mengatakan itu Reka pingsan.
"Aku Lusi, bukan Witma ataupun Lisa wanita bodohmu Reka!" Lusi benar-benar geram. "Pelayan tolong bantu aku membawanya ke mobil," pinta Lusi.
*
*
Setelah sampai di halaman rumah Reka ternyata Endang sedang duduk di sebuah kursi.
__ADS_1
Endang begitu terkejut melihat Lusi salah satu mantan Reka yang dulu. "Eh … Nak Lusi Ibu kira siapa, kemana saja kenapa baru kesini?" Endang begitu senang ia juga sama sekali tidak tahu, kalau Reka ada di dalam mobil Lusi.
"Malam Bu, Lusi kesini. ma—" Kalimat Lusi terputus.
"Masuk dulu kita ngobrol-ngobrol di dalam, sudah Ibu tidak melihat Lusi." Endang terlihat antusias.
"Iya Bu, belakangan ini Lusi sangat sibuk, maka dari itu Lusi menghilang tanpa kabar," ucap Lusi.
"Kamu pasti cari Reka kan?" tanya Endang tiba-tiba.
"Hm … sebenarnya Mas Reka ada di mobil Bu dia pingsan," kata Lusi takut-takut.
Raut wajah Endang langsung berubah, namun dengan cepat dia mengembalikan senyum ramahnya. Dan ia langsung membatin, "Reka, kenapa anak itu bisa pingsan."
"Dimana kamu menemukannya Lusi?" tanya Endang.
"Teman Lusi yang kebetulan bekerja di bar, yang kasih tahu Bu," jawab Lusi jujur. "Karena Lusi sudah satu bulan ini kembali ke indonesia," sambungnya.
Endang memanggil adik-adik Reka dan Badrun. Untuk segera membawa Reka masuk karena ia tidak mau kalau sampai para tetangganya tahu kalau Reka sering mabuk-mabukan.
Sesaat setelah Lusi pergi Badrun dan anak-anaknya keluar karena mendengar suara Endang yang tadi memanggil mereka.
Dan tanpa banyak bicara Bandun yang mengerti arti tatapan Endang langsung saja membawa Reka masuk di bantu supir Lusi dan ketiga anaknya.
Setelah Reka di bawa masuk Lusi bersuara, "Kalau begitu Lusi pamit pulang dulu Bu," pamit Lusi sopan.
"Iya sudah, terima kasih karena sudah mau mengantar Reka pulang, kamu di jalan hati-hati ya." Endang kemudian melambaikan tangan saat mobil yang di kendarai Lusi pergi meninggalkan rumahnya.
__ADS_1