Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Malam Pertama yang Tertunda


__ADS_3

Sesaat setelah selesai menunaikan ibadah sholat isya dengan cara berjamaah di dalam kamarnya, Arash dan Wita saat ini lanjut berbincang-bincang membicarakan masalah yang masih saja terasa mengganjal di hati Witma.


"Bagaimana kalau mamanya kak Arash tidak akan pernah mau menerima aku sebagai menantunya?" tanya Witma sambil melipat mukena dan juga sejarahnya. "Aku takut, karena restu tanpa kedua orang tua itu yang dapat membuat hubungan rumah tangga kita tidak akan bertahan lama." Ia benar-benar takut jika saja pernikahannya yang kedua ini akan bernasib sama dengan yang pertama akibat terhalang restu.


"Witma, aku yakin Mama akan luluh seiring berjalannya waktu," jawab Arash menimpali Witma. "Dan satu lagi panggil Mama saja, karena sekarang Mamaku adalah mamamu juga," lanjutnya menjelaskan kepada Witma.


"Aku takut, jika mama akan berusaha untuk memisahkan kita seperti … ." Witma tidak melanjutkan kalimatnya karena wajah Endang yang sering marah-marah pada dirinya kini mulai terlihat jelas lagi di memori ingatannya. "Aku benar-benar takut kak," katanya lirih.


"Apa yang kamu pikirkan itu tidak akan pernah terjadi Witma, karena mau sampai kapanpun aku akan tetap mempertahan mu apa lagi sekarang kamu sudah sah menjadi istriku. Maka apapun yang mengganggu ketenangan seta pikiran istriku ini aku akan berusaha untuk mengatasi itu semua."


Arash memang tipe laki-laki idaman yang bisa membuat siapa saja akan cepat jatuh cinta kepadanya seperti Witma yang saat ini langsung bisa mencintai suaminya ini dan mulai bisa melupakan bayangan Reka sedikit demi sedikit. Maski itu akan membutuhkan waktu yang agak sedikit lama.


"Apa aku boleh minta sesuatu kepadamu?" Arash bertanya sambil menatap Witma.


"Boleh, asal jangan yang aneh-aneh kak, soalnya aku sedang datang bulan." Setelah menjawab itu Witma menunduk malu. Ia pikir kalau Arash akan meminta haknya malam ini makanya ia berkata demikian.


Arash mengulum senyum. "Bukan itu Witma, aku cuma ingin kamu mengganti nama panggilanmu ke aku. Tapi kamu kenapa malah berpikir sampai kesitu?"


Saat itu juga Witma rasanya mau menghilang saja dari dalam kamar itu, karena ia merasa sangat malu.


"Bisakah? Kamu mengganti nama panggilan itu untuk suamimu ini?"


Witma mencoba mengatur nafasnya dulu supaya ia tidak menjawab dengan gugup. "Hm, dengan nama panggilan apa? Mas atau abang?" Witma bertanya balik tentang nama panggilan yang akan ia berikan untuk Arash.


"Sayang, nama itu yang aku ingin dengar langsung dari mulutmu ini." Arash langsung saja menunjuk mulut Witma.


"Bagaimana apa kamu setuju?"

__ADS_1


"A-aku, a-aku …," jawab Witma terbata-bata. Saat itu juga suara ketukan pintu dari luar terdengar.


"Kak Witma, kak Arash. Makanan yang tadi kakak pesan itu sudah datang. Ayo makan malam dulu nanti makanannya keburu dingin." Suara Tami terdengar jelas sambil mengetuk pintu.


"Kak Arash, nanti kita bahas itu lagi. Sekarang kita makan malam dulu." Witma beranjak menuju pintu. Sambil berseru menimpali Tami. "Baik Tak, tunggu kami di ruang makan kami akan menyusul segera kesana."


Tami yang mengira kalau Arash dan Witma sedang melakukan bercocok tanam. Mengingyakan sang kakak dengan suara pelan. "Oke kak, Tami akan menunggu kakak di ruang makan!" sahut Tami.


***


Diruang makan.


"Kak Arash, mau makan pakai lauk udang juga?" Tami bertanya begitu saat melihat piring Arash masih kosong. "Sini biar Tami yang isi piring kakak." Ia mengambil piring Arash tanpa memikirkan perasaan sang kakak. "Kak Arash kan, nggak pernah makan dari tadi siang maka dari itu Tami akan mengisi piring kakak dengan penuh." Ia begitu antusias saat mengisi piring Arash dengn tiga sendok nasi sampai full.


"Tam," panggil Arash saat melihat raut wajah Witma berubah.


Sedangkan Witma yang tahu apa yang akan Arash katakan dengan cepat menarik baju Arash dari bawah meja sambil menggeleng. Karena saat ini ia tidak mau merusak mood Tami, ia merasa ini hal yang wajar karena Tami juga sering melakukan yang sama pada Furqon. Oleh sebab itu, Ia tidak menjadikan itu masalah.


Witma menjawab dengan mencubit tangan Arash sambil menggeleng lagi.


"Apa Kak Witma mau Tami isiin piringnya?" Tami tiba-tiba bertanya pada Witma.


"Tidak usah Tam, dan juga satu lagi kak Arash alergi dengan udang." Witma ternyata masih mengingat kalau Arash alergi dengan udang meskipun mereka sudah cukup lama tidak bersua.


"Kenapa kak Arash diam saja, tidak bilang sama Tami?" Saat Tami menatap Arash jantungnya berdebar-debar.


"Tidak apa-apa, ini biar untuk Witma saja." Arash menukar piring Witma yang masih kosong dengan piringnya yang sudah terisi full. "Ini buat kamu saja, biar pipi kamu tambah berisi."

__ADS_1


Malam itu pun mereka menikmati makan malam dengan suasana yang terasa sangat berbeda karena mereka bertiga makan sambil bersenda gurau.


*


Saat Witma dan Arash sudah selesai makan malam mereka berdua sekarang masuk ke dalam kamar.


"Apa kamu sudah memikirkan nama panggilan buat aku?"


Witma mengangguk kecil. "Iya, aku akan memanggil kakak dengan sebutan abang," jawab Witma yang masih saja terkesan malu-malu tapi mau. "Apa abang tidak keberatan?"


"Untuk di luar tidak masalah tapi di dalam kamar panggil abang, dengan sebutan sayang." Arash mengulum senyum. Ia kemudian dengan cepat menutup dan langsung mengunci pintu kamarnya rapat-rapat, hingga keduanya saling berhadapan di depan pintu.


Pada saat itu juga Witma balas menatap Arash yang kini menggenggam kedua tangannya.


Pandangan bola mata hazel milik Arash itu terlihat begitu lembut dan menghanyutkan bahkan nafasnya juga sangat wangi, aroma mint yang terasa hangat saat menyapu wajah Witma sebab wajah mereka yang semakin dekat. Membuat tubuh Witma menegang dan jantungnya berdetak kencang saat berduaan dalam situasi seperti ini.


"Kak Arash, aku mau kekamar mandi dulu sebentar saja."


"Satu menit saja aku masih belum puas memandangmu," kata Arash sambil tangannya terulur menelusuri pipi Witma lalu merangkum wajah itu dengan kedua tangannya.


Membuat Witma saat itu juga memejamkan matanya merasakan tubuhnya menjadi semakin meremang.


"I love you …," gumamnya pelan tapi bisa didengar oleh Witma. Ia lalu mengecup kening Witma yang baru tadi pagi sudah sah menjadi istrinya. Tidak sampai di situ ia sekarang beralih mengecup kedua pipi Witma dengan penuh sayang. Rindu yang selama ini terpendam terobati sudah dengan cara memiliki witma seutuhnya.


"Abang, maaf saat ini aku sedang datang bulan. Jadi, aku tidak bisa menunikan kewajibanku." Witma mencoba mengingatkan Arash lagi. "Abang, tidak mempermasalahkan ini 'kan?"


Arash menggeleng dan langsung membawa Witma masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


...----------------...



__ADS_2