Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Pindah Rumah Lagi


__ADS_3

"Kita harus pergi jauh dari sini," kata Arash secara tiba-tiba ketika ia baru saja sampai di rumahnya.


Witma yang mendengar itu langsung merasa heran karena tidak mengerti dengan Arash yang baru datang langsung mengajaknya pergi padahal baru kemarin sore Arash mengajaknya ke rumah yang ada di puncak ini. "Abang tenang dulu, sebenarnya apa yang telah terjadi?" Witma berbicara lemah lembut dan dengan tatapan sayunya ketika ia tidak sengaja melihat pipi sang suami ada bekas merah. Tangannya perlahan meraba pipi yang memerah itu seketika ia lagi-lagi mengingat tentang Reka yang sering menamparnya dan meninggalkan jejak seperti yang ada di pipi Arash. "Abang, siapa yang melakukan ini?" Netranya mulai berkaca-kaca.


"Sayang, untuk saat ini jangan tanyakan tentang hal apapun dulu, lebih baik kita segera pergi dari sini." Arash menurunkan tangan Witma yang masih ada di pipinya. "Ayo, kita jemput Tami juga ke sekolahnya, nanti di dalam mobil abang akan ceritakan semuanya." Ia meraih pergelangan tangan Witma. "Sayang, ayo," ajaknya sekali lagi ketika melihat Witma hanya diam saja.


"Abang, apa ini bekas tamp*ran orang tua aba–"


"Sayang, kita pergi dulu dari sini, abang janji nanti akan menceritakan semuanya di dalam mobil." Arash memotong ucapan Witma.


Witma mengangguk kecil dan pada akhirnya ia mau mendengarkan perkataan Arash dengan cara mengikuti langkah sang suami untuk pergi dari rumah itu tanpa mengucapkan sepatah kata.

__ADS_1


***


"Kita mau kemana Kak?" tanya Tami saat melihat mobil yang Arash kemudikan masuk ke gang-gang kecil yang rupanya muat hanya satu mobil saja.


"Kakak juga tidak tahu, kita lebih baik diam saja," jawab Witma pelan karena ia tahu suasana hati sang suami sedang tidak karuan. Maka dari itu ia memilih diam saja di sepanjang perjalanan karena posisinya duduk saat ini ada di belakang bersama Tami dan membiarkan Arash duduk sendiri di depan.


"Kakak bertengkar dengan kak Arash?"


Tami hanya bisa mengangguk kecil tanda mengerti.


Tidak berselang lama mobil yang Arash kemudikan berhenti di sebuah rumah minimalis namun terlihat sangat elegan. "Kita sudah sampai, sekarang ayo turun." Arash melirik ke belakang di mana Witma dan Tami saat ini sedang saling melirik. "Ayo kita turun," ajaknya sekali lagi ketika melihat Witma dan Tami hanya diam saja.

__ADS_1


"Tam, kamu turun duluan Kakak mau bicara sebentar dengan kak Arash," bisik Witma di telinga Tami.


Tami mengangguk sambil membuka pintu mobil kemudian ia turun dan langsung berlari kecil menuju rumah yang diwarnai dengan cat abu-abu cerah.


"Abang, kenapa memilih tempat tinggal yang jauh dari ibu kota?" tanya Witma sesaat setelah Tami keluar dari mobil.


"Nanti malam kita bahas ini lagi sayang, sekarang lebih baik kita turun," jawab Arash sambil tersenyum di saat menatap raut wajah cemas Witma.


"Ini semua salahku, makanya abang dan keluarga abang bertengkar begini." Witma menunduk sambil meremas ujung jilbabnya. "Maafkan aku, ini semua terjadi karena salahku." Ia terus saja menyalahkan dirinya sendiri.


"Tidak ada yang bersalah dalam hal ini, percayalah semua akan baik-baik saja." Tangan Arash terulur dan mengelus kepala Witma. "Sayang, abang mencintaimu lebih dari abang mencintai diri abang sendiri."

__ADS_1


__ADS_2