Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Di Usir Warga


__ADS_3

Lisa yang merasa Reka mulai mengabaikannya merasa khawatir karena ia takut Reka akan menceraikannya, ia juga mengingat kata Endang yang mengatakan kalau Reka mau rujuk dengan Witma. Maka dari itu ia segera mengambil tindakan dengan cara mendatangi mbah Imah supaya Reka seperti dulu lagi dimana selalu mendengar ucapannya tanpa me,mbantah.


"Pokoknya aku harus meminta jampi-jampi seperti yang dulu kepada mbah Imah, jangan sampai Reka kembali seperti dulu lagi bisa-bisa dia akan mencampakkan aku seperti dia mencampakkan Witma," ucap Lisa berbicara pada dirinya sendiri sambil terus berjalan menuju kediaman Imah. Namun, baru saja ia hampir sampai di rumah Imah langkah kakinya terhenti saat melihat banyak sekali warga yang berkumpul di sana. "Sedang apa mereka di sana? Pakai acara bawa obor segala." Lisa mundur beberapa langkah dan langsung saja bersembunyi dibalik pohon yang ukurannya begitu besar.


Tidak lama terdengar suara para warga berteriak, "Bakar ...! Bakar ...! Bakar ...!"


"Rusak ... rusak ... rusak!!"


"Jangan biarkan dukun itu lolos ...!"


"Seret dukun itu ke polisi ...!"


Seruan, makian, dan kecaman riuh bersahut-sahutan. Saling menimpali dan beradu lengkingan wajah-wajah sangar dan beringas para warga seolah-olah ingin menerkam dan menikam karena hati di dalam dada sudah kalut dan tersulut. Ayunan langkah-langkah dan pijakan kaki-kaki seperti badai yang mengamuk. Salah satu warga mendobrak pintu kayu yang sudah terlihat rapuh itu.


"Hai, Imah dukun s*alan, keluar kau!!" Slamet salah satu warga terlihat begitu marah sehingga wajahnya berubah menjadi merah padam. "Apa setelah kau membuat salah satu warga disini meninggal kau mau kabur? Tidak semudah itu Imah. Kau keluarlah dan segera mempertanggung jawabkan ini semua."


"Betul, tanggung jawab kau Imah, setelah pak Anton meminum ramuan yang kau racik beliau langsung kejang-kejang lalu meninggal," balas salah satu warga menimpali Slamet.


Lisa yang masih bersembunyi di balik pohon menutup mulutnya yang terbuka lebar karena ia tidak menyangka ternyata Imah dukun yang sering ia datangi adalah dukun gadungan. "S*alan, selama ini aku telah tertipu," gumam Lisa pelan sambil terus mengintip, ingin melihat apa yang akan para warga lakukan pada Imah. "Jangan sampai mereka memb*nuh mbah Imah bisa-bisa, aku tidak akan bisa mendapatkan uangku kem—"


Tiba-tiba suara teriakan Imah dari dalam rumahnya membuat kalimat Lisa terputus.

__ADS_1


"Menjauhlah kalian dari rumahku! Sebelum aku mengutuk satu keturunan kalian!" seru Imah berteriak sambil melangkah keluar dari dalam rumahnya. "Pergi kalian semua dari sini, ini tanah nenek moyangku jadi, kalian tidak memiliki hak untuk mengusirku." Imah terus saja berusaha untuk membela dirinya. "Pergi kalian semua!"


Bukannya pergi para warga malah semakin mendekat ke arah Imah yang saat ini berdiri sambil memegang tongkat.


"Dukun penipu! Seret dia sekarang ke kantor polisi!" seru Slamet yang menjadi paling depan. Detik itu juga ia sendiri yang menyeret Imah supaya menjauh dari rumah tempatnya selama ini menjadi dukun gadungan. "Bakar sekarang!!" teriaknya lagi kepada warga yang membawa obor. Dan tidak membutuhkan waktu lama para warga melempar obor yang mereka bawa satu persatu sesuai yang diperintahkan Slamet.


Imah semakin berteriak histeris saat melihat rumahnya begitu cepat di lalap si jago merah. "Kalian semua penjahat, telah tega membakar rumahku." Imah berjongkok memungut pasir setelah itu ia kembali berdiri sambil menggenggam segenggam pasir tersebut ia kemudian berbalik melempar pasir itu ke arah wajah Selamat. "Rasakan dasar pecundang!"


Saat orang-orang fokus kepada Selamet yang mengerang kesakitan karena pasir itu masuk ke matanya. Imah menggunakan kesempatan itu untuk segera kabur supaya ia tidak dibawa ke kantor polisi. Namun, siapa sangka salah satu warga yang ternyata membawa senjata api malah melepaskan tembakan sehingga satu peluru bersarang sempurna di paha Imah.


Lisa yang melihat itu semua menjadi takut, dan pada akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari sana. Sebelum para warga


menyadari kalau dirinya ada di sana dan sedang mengintip.


*


*


Suara Reka membuat Lisa mematung karena saat ini tidak ada lagi yang diharapkan untuk membuat Reka kembali bertekuk lutut di kakinya. Meninggal Imah dukun andalannya sudah di grebek warga dan akan di bawa ke kantor polisi.


"M-mas, aku habis dari rumah teman," kata Lisa berbohong. "Sekarang dimana Lire?" Lisa berbasa basi dengan cara menanyakan Lire.

__ADS_1


"Aku sudah menitipkannya kepada Witma," jawab Reka tanpa merasa berdosa.


"Apa! Witma katamu mas?" Lisa sangat terkejut mendengar jawaban yang diberikan Reka. "Bisa-bisanya mas membawa Lire ke wanita yang mandul dan b*doh itu!" geram Lisa ia ternyata tidak terima Reka membawa Lire kepada Witma.


Reka yang malas meladeni Lisa pergi begitu saja sambil berkata, "Dari pada aku buang bayi har@mmu, lebih baik aku menitipkannya saja kepada Witma."


Dua jam sebelum Lisa pulang.


Reka yang baru saja sampai dirumah setelah dari pabrik menemukan Lire sudah menangis kejar dan juga ia tidak menemukan keberadaan Lisa di sana. Pada akhirnya Ia yang tidak punya pilihan lain terpaksa menggendong Lire. "Kurang ajar! Pergi kemana Lisa membiarkan bayi ini sendirian disini." Reka mondar mandir menggendong Lire. Berharap tangis bayi itu mereda namun apa yang terjadi Lire semakin membesarkan volumenya untuk menangis.


Sehingga Reka yang tidak tahan mendengar suara tangisan Lire berniat ingin membuang bayi yang tidak berdosa itu. "M@mpus kau Lisa, aku akan membuang bayi ini." Reka membawa Lire berjalan ke arah mobil. "Dari pada kau terus saja menangis, lebih baik aku buang saja kau supaya cepat m@ti," desis Reka. Yang kini membuka pintu mobil dan segera meletakkan Lire di sebelahnya sambil memberikannya botol susu yang kosong berharap Lire diam karena nanti orang-orang mendengar suara tangisannya bisa-bisa ia malah dituduh mencuri bayi mengingat para tetangganya tidak ada yang tahu kalau Lisa sudah melahirkan.


"Kau dan juga ibumu sama-sama merepotkan dan menyusahkan, pokoknya kalian berdua pembawa s*al." Reka menyetir mobil dengan kecepatan tinggi sambil terus saja mengeluarkan kalimat umpatan pada Lisa dan juga Lire. "Awas saja kau Lisa, akan ku buat perhi—" Kalimat Reka terputus di saat melihat Witma sedang berdiri di pinggir jalan. "Bukannya itu Witma, sedang apa dia di sana?"


(Hai kakak-kakak jangan lupa mampir ke karya temanku ya, ini ceritanya nggak kalah serunya kok😊).


Judul: Menjemput Kembali Hidayah Yang Terhempas


Author/Napen: Alinatasya21


Ada disini👇

__ADS_1



__ADS_2