Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Ingin di Perk°s@


__ADS_3

"Panggil saja suster Mas, aku tidak mau menggendong anak yang tidak jelas asal usulnya ini," kata Lisa saat dirinya di suruh menggendong bayinya.


"Ini anak kamu Lisa, bisa-bisanya kamu malah berkata begitu." Reka menatap Lisa intens. "Angkat dia sekarang Lisa, suaranya membuat gendang telingaku hampir pecah." Ia menutup kedua kupingnya dengan telapak tangan.


Bukannya mengangkat bayi itu Lisa malah membenarkan posisi tidurnya. "Mas boleh pergi dari sini, nanti kalau bayi cacat ini m@ti karena terlalu sering mengis baru Mas Reka datang lagi."


Entah mengapa Reka tiba-tiba saja merasa kesal saat mendengar kalimat Lisa. "Ibu macam apa kamu Lisa, bisa-bisanya kamu malah berkata begitu. Hewan saja sangat menyayangi anak-anak mereka sedangkan kamu manusia yang masih waras tega sekali mengatakan itu," ucap Reka panjang lebar.


"Mas sebentar lagi pasti suster Santi datang, karena dia memdengar suara tangis bayi sialan ini, kamu jangan menghakimiku begitu." Lisa rupanya tidak mau kalah makanya ia berkata begitu. "Perutku sakit, aku butuh istirahat. Jadi, kalau Mas mau pulang ajak aku sekalian."


Reka menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia ternyata baru tahu kalau sifat Lisa seperti ini berbanding jauh sekali dengan sifat Witma. "Selain jahat, kamu juga sangat licik Lisa," desis Reka.


"Lalu apa bedanya dengan Mas, yang telah menyiksa Witma secara lahir dan batin?" tanya Lisa yang tidak terima kalau Reka menuduhnya jahat dan licik meski kenyataannya memang begitu. "Diam berarti ucapanku tidak meleset," lanjutnya.


Meski suara tangis bayi itu semkain terdengar sangat memilukan dua manusia yang sama-sama tidak memiliki hati nurani ini masih saja tidak ada yang mau mengalah mengangkat bayi mungil yang saat ini kedinginan karena pipis.


*


*

__ADS_1


"Kakak tidak bisa berlama-lama ada di sini Witma, karena dua keponakanmu akan masuk sekolah tinggal beberapa hari lagi," kata Furqon saat bicara dengan Witma.


"Iya, Kak. Witma sudah tahu dari kak Fatimah," ujar Witma karena dua hari yang lalu Fatimah juga sudah memberitahunya tentang kedua keponakannya yang akan masuk sekolah setelah lama libur. "Kak Furqon tenang saja, Tami akan Witma jaga seperti Ibu menjaga kita dulu." Ia tersenyum getir saat mengatakan itu.


Furqon menepuk-nepuk bahu Witma. "Ibu, sudah tenang di alam sana. Dan buat kamu ingat kata-kata Kakak yang ini. Jadilah wanita yang kuat, dan jangan pernah termakan rayuan laki-laki yang hanya akan membuatmu sakit, satu lagi kamu jangan berharap untuk rujuk lagi dengan Reka karena Kakak sudah tahu selama ini apa saja yang telah dia lakukan kepadamu."


Witma menunduk saat ia mendengar nama Reka di bawa-bawa Furqon, karena di hati kecilnya ia masih sangat mengharapkan Reka.


Furqon sepertinya tahu kalau Witma masih menyimpan rasa kepada Reka oleh sebab itu ia berkata demikian. "Laki-laki sejati, tidak akan pernah memukul wanitanya bagaimanapun salahnya, jutsu tugas laki-laki sejati akan membimbingnya ke jalan yang benar bukan malah menjerumuskan istrinya." Furqon menghela nafas. "Dan bisakah mulai dari sekarang pakailah jilbabmu Witma, dan jaga auratmu demi Ibu, Bapak dan juga Kakak. Seperti dulu lagi supaya kamu terhindar dari tatapan haus orang-orang di luaran sana," ujarnya, mengingat lekuk tubuh Witma sangatlah indah bak gitar spanyol.


Witma mengangguk. "Baik Kak, Witma akan menutup aurat mulai sekarang." Witma menimpali sang kakak.


"Kakakmu Fatimah, sudah membelikanmu gamis lengkap dengan jilbabnya, tidak lupa juga dia membelikan Tami. Semoga kalian berdua menyukainya." Furqon ingin kedua adiknya menutup aurat dengan sempurna. "Kakak ke masjid dulu mau mengantar uang yang Kakak temukan di bawah bantal Ibu." Furqon berdiri dari duduknya sambil mengambil kunci motornya di atas meja. "Kunci pintunya, karena kamu sendirian di rumah." Ia memperingati Witma sebelum pergi. Mengingat Tami, Fatimah dan kedua anaknya sedang pergi.


*


Setelah ia menemukan handuknya, ia sekarang malah ingin meraba gagang pintu namun tidak lama indera penciumannya malah mencium bau asap rokok yang bercampur dengan alkohol. Seketika ia mundur sambil memenang handuk yang masih menempel di tubuhnya semakin erat.


Tok … tok … tok, tooookkk!!

__ADS_1


Gedoran pintu dari luar membuatnya semakin merasa ketakutan, tubuhnya gemetaran di dalam kamar mandi yang gelap gulita tanpa penerangan apapun.


"Witma, abang tahu kamu sedang mandi di dalam. Ayo buka pintunya sebelum abang mendobraknya," ucap seseorang yang tadi mengetuk pintu kamar mandi. "Ayolah, abang akan membuatmu lebih puas. Karena abang tahu saat ini Witma seorang janda yang kesepian," lanjutnya. Yang kini mulai berusaha membuka kamar mandi tersebut dengan cara menggedor sambil mencoba mendobraknya.


Kini tubuh Witma semakin gemetaran saat ia mulai mengenali suara itu yang ternyata milik Baron. Seketika ia mempekap mulutnya sendiri supaya suara tangisnya karena ketakutan tidak pecah. "Kak Furqon, selamatkan aku," gumamnya pelan.


"Witma, mungkin dengan cara begini kamu akan menerima abang." Sambil terus mendobrak pintu itu Baron terus saja tertawa sambil menyebut nama Witma berulang kali. "Witma, buka pintunya sayang … ." Hingga beberapa detik akhirnya ia berhasil membuka pintu itu dengan cara mendobraknya sekuat tenaga dan pada saat itu juga lampu di kamar mandi itu menyala.


"Pak Baron! Apa yang Anda lakukan, keluar dari sini!" Witma berteriak berharap ada orang yang mendengarnya. Ia juga sekarang bisa melihat dengan jelas wajah tua keriput Baron.


"Jangan munafik Witma, kita bersenang-senang malam ini." Baron mendekati Witma. "Mumpung di rumahmu sepi, kita main sekarang saja punya abang tidak kalah bagusnya kok, di bandingkan dengan punyanya Reka."


Saat Baron semakin mendekat Witma dengan gerakan cepat mendorongnya hingga Baron tersungkur jatuh. Dan pada kesempatan itu ia pergunakan untuk berlari secepat mungkin menuju pintu sambil terus memegang handuknya supaya tidak terjatuh. Namun, saat ia sampai di depan pintu suara Baron membuatnya menoleh.


"Percuma, pintunya sudah abang kunci," kata Baron yang kini kembali bangun. "Jangan malu-malu Witma, abang tau kamu juga inginkan." Ia kembali lagi mendekati Witma yang masih saja berusaha membuka pintu.


"Jangan mendekat! Jika bapak mendekat maka ba—"


"Maka apa Witma sayang, berbaringlah supaya cepat selesai jangan mengulur waktu," potong Baron. Sambil berjalan sempoyongan netranya terus saja melihat ke arah paha Witma yang putih mulus. "Cuma sebentar tidak lama Witma sayang, jangan buat kesabaran abang habis."

__ADS_1


Sedangkan Witma yang tidak ada pilihan lain berteriak minta tolong ketika melihat Baron mulai membuka baju. "Tolong … tolong, seseorang tolong aku. Kak Furqon, Tami, kak Fatimah tolong aku!!" teriak Witma meminta tolong.


Baron berjalan sempoyongan ia tidak peduli kalau Witma berterik meminta tolong, karena di benaknya saat ini Witma harus menjadi miliknya malam ini seutuhnya. Dengan tenaga yang di milikinya akhirnya ia berhasil meraih tubuh berisi Witma. Detik itu juga suara Witma meminta tolong semakin melengking saking takutnya.


__ADS_2