
"Assalamualaikum," ucap Arash ketika sudah berdiri di depan pintu utama yang sedikit terbuka. Ia yakin jika pintu utama terbuka ada yang sedang duduk santai di ruang tamu. Makanya ia mengucap salam terlebih dahulu sebelum masuk.
Benar saja tidak lama terdengar sahutan dari dalam. "Waalaikumsalam," jawab Alma yang ternyata sedang duduk di ruang tamu sambil memainkan beda pipihnya. "Kamu baru pulang, dari mana saja?" tanyanya langsung pada sang adik. Karena ia jenis manusia yang selalu saja kepo.
"Dari rumah Witma. Kak," jawabnya jujur. Karena ia memang tidak bisa menyembunyikan apapun dari Alma kecuali tentang perasaannya saat ini kepada Witma. Itu yang belum bisa ia ceritakan kepada Alma karena ia ingin menunggu waktu yang tepat dulu.
Alma yang mendengar nama Witma di sebut oleh Arash langsung menolehkan wajahnya ke arah pintu di mana Arash masih betah berdiri di sana. "Witma yang dulu ninggalin kamu? Hanya demi laki-laki yang tidak ada bandingannya sama sekali denganmu." Selain kepo ia juga memiliki mulut yang pedas lebih pedas daripada bon cabe itulah Alma Khanza, kakaknya Arash satu-satunya ternyata mereka hanya dua bersaudara.
"Ya Allah, mulut Kak Alma. Jangan ngomong begitu tidak baik tau," balas Arash.
Alma terkekeh karena melihat ekspresi Arash yang langsung saja berubah setelah ia berkata begitu. "Kenyataanya memang begitu, Witma memilih laki-laki yang salah. Makanya sekarang dia menjadi jamu di usianya yang masih sangat muda."
"Jamu? Apaan sih, Kak?" tanya Arash dengan polosnya.
"Janda muda, Arash!" seru Alma menjawab pertanyaan Arash dengan suara yang melengking.
"Astagfirullah … ." Arash memegang d*danya karena kaget. "Mama dan Papa pasti sudah tidur Kak, mereka pasti kaget juga mendengar suara Kakak yang mirip terompet tahun baru," selorohnya.
"Mereka akan lebih kaget, kalau sampai tahu putra kesayangan mereka ini ternyata seleranya bekas orang," celetuk Alma yang kemudian berlari karena ia tahu sebentar lagi pasti Arash akan menceramahi dirinya.
__ADS_1
"Bekas orang atau tidak, aku tidak peduli yang terpenting Witma tetap juara di hati ini sampai sekarang." Arash menjawab di dalam benaknya.
*
*
Di sebuah taman Witma sedang duduk di bawah pohon yang rindang sambil meratapi nasibnya. "Apa salah hamba, sehingga Engkau memberikan ujian ini secara bertubi-tubi," lirihnya. "Apa di dunia ini hanya tempat orang-orang seperti hamba menderita?" lanjutnya bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Kamu akan bahagia jika sudah menikah dengan abang, Witma," sahut seseorang yang baru saja datang dan langsung duduk di sebelah Witma. "Terima saja abang sebagai suamimu, maka dunia ini akan memberikanmu kebahagiaan lewat abang," sambung Baron. Iya, ternyata itu Baron laki-laki yang lebih cocok menjadi ayahnya Witma.
Witma menghela nafas, ia merasa Baron seperti hantu bisa ada di mana-mana termasuk seperti sekarang bisa menemukan dirinya yang sedang duduk ditaman sendirian. "Pak Baron, sedang apa bapak di sini?" tanyanya sambil menggeser sedikit posisi duduknya.
Ingin sekali rasanya Witma membawakan Baron kaca supaya sadar diri kalau sebenarnya memang benar dia sudah tua. "Maaf pak, Witma mau pulang dulu karena nanti dicariin sama Tami." Ia malah langsung berpamitan, dari pada harus menjawab pertanyaan yang keluar dari mulut Baron. "Witma pergi du—" Kalimat Witma terputus di saat Baron tiba-tiba saja memegang pergelangan tangannya.
"Jangan terus-terusan menghindar dari abang, Witma. Apa kamu tidak kasihan pada abang yang sudah menunggu terlalu lama?"
Witma berusaha melepaskan cengkraman tangan Baron dari pergelangan tangannya. "Maaf pak, nanti ada yang lihat. Mereka bisa salah pa—"
"Ternyata selera kamu sekarang bapak-bapak ya, Witma." Endang tiba-tiba saja ada di sana langsung memotong perkataan Witma. "Kamu memang hebat!" pujinya. "Cinta memang nggak mandang fisik tapi memandang warna duit, dan juga bisa membedakan mana motor dan mobil," lanjutnya lagi yang mengira Witma ada hubungannya dengan Baron.
__ADS_1
"Ibu, apa yang ibu katakan itu semua tidak benar. Witma dan pak Baron sama sekali tidak punya hubungan apapun." Witma menjelaskan kepada Endang.
Endang menatap Witma dengan sinis. "Tidak ada hubungan, tapi kenapa saat ini kalian terlihat seperti pasangan kekasih?" tanyanya sambil terkekeh geli. "Reka ternyata tidak salah, telah menceraikan kamu. Karena memang sifat asli kamu begini dimana kamu doyan sama yang jauh lebih tua," ejeknya.
*
Witma berlari pulang dengan membawa air mata yang terus saja mengalir semakin deras, hinaan yang keluar dari mulut bekas mertuanya itu membuat hatinya kini kembali seperti tersayat sebilah belati. "Ya Allah, sakit sekali rasanya hati ini ketika mendengar setiap kalimat yang keluar dari mulut ibu Endang," gumamnya lirih. Ia semakin merasa kalau dunia ini semakin hari semakin tidak asik lagi baginya. "Benar, hanya Ibu wanita satu-satunya yang tulus menyayangi Witma yang tidak pernah membuat hati ini terluka baik dengan sikap maupun perkataan." Ia terus saja berlari sampai ia tidak sengaja menabrak Fatimah yang saat ini sedang menyapu di teras depan rumahnya.
"Astagfirullahaladzim, Witma. Untung saja kakak tidak jatuh," kata Fatimah sambil memegang bahunya yang terasa sedikit sakit. Karena tadi tersenggol tubuh Witma.
"Maaf, kak Fatimah. Aku tidak sengaja," kata Witma yang saat ini menunduk supaya Fatimah tidak melihatnya kalau dirinya sedang menangis. "Aku benar-benar tidak sengaja, kak." Ia semakin merunduk tatkala ia merasa kalau Fatimah saat ini sedang memperhatikannya.
"Jika kamu ada masalah, cerita saja ke kakak siapa tahu kakak bisa membantumu," ujar Fatimah dengan suara lembut. Ia memang kakak ipar yang baik tidak seperti kebanyakan ipar di luaran sana, yang merasa senang jika adik ipar mereka sedang dalam keadaan terpuruk seperti yang Witma alami saat ini.
"Tidak apa-apa kak, aku baik-baik saja. Kalau begitu aku masuk dulu," pamitnya dengan suara bergetar karena ia merasa semakin sedih saat menyadari kalau ternyata sifat dan karakternya Fatimah hampir sama dengan Ratih.
Fatimah menghela nafas ia tahu kalau Witma tidak akan pernah mau berterus terang kepada dirinya tentang apa yang telah terjadi, mengingat adik iparnya itu sedikit tertutup kepada siapa saja kecuali Ratih, almarhum ibu mertuanya yang ternyata telah berpulang ke pangkuan sang khalik sudah satu Minggu ini.
"Semoga kebahagiaan itu segera datang menghampirimu," gumam Fatimah sambil terus melihat punggung Witma yang semakin berjalan menjauh darinya.
__ADS_1