Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Hapus Rasa Ini


__ADS_3

Sudah jam sepuluh malam Witma belum juga pulang, Ratih dari tadi mondar-mandir di depan teras karena ia gelisah takut terjadi sesuatu pada putrinya. "Witma, kamu di mana Nak, sampe sekarang belum pulang juga." Ratih berdoa di dalam benaknya supaya Witma baik-baik saja.


*


Sedangkan di cafe Witma sedang bersiap-siap untuk pulang. "Sudah jam setengah sebelas malam, aku lupa dari tadi menghubungi Ibu," ucapnya. Ia lalu mengambil ponsel ingin menelpon Ratih namun saat dirinya akan menghidupkan benda pipih itu. Ia hanya bisa melihat layarnya yang gelap. "Ya Allah, baterai ponselku habis. Kenapa hari ini aku merasa ada saja masalah," gumam Witma lirih.


"Sial banget ya." Itu bukan suara Witma melainkan Dina yang berdiri di belakang Witma.


"Eh, kamu Din, belum pulang juga?" tanya Witma tersenyum.


"Kamu bisa melihat aku kan, jadi, bisa ditebak kalau aku belum pulang." Dina menepuk bahu Witma. "Biasanya aku juga pulang jam 11 malam."


Witma menyekit tanda heran. "Nggak dicariin kamu sama orang rumah?"


"Aku yatim piatu yang mencoba bertahan di kampung orang," lirih Dina.


Seketika Witma merasa bersalah karena telah menanyakan itu. "Bukan aku bermak—"


"Aku tidak suka dikasihani," potong Dina cepat.


"Ternyata ada orang yang lebih menderita dari pada aku, aku masih punya Ibu dan beberapa anggota keluarga sedangkan Diana hidup sendiri," ucap Witma di dalam benaknya.


"Biasanya kalau sudah jam segini nggak akan ada kendaraan yang lewat disini, lebih baik kamu aku antar pulang," tawar Dina.


Witma sebenarnya tidak enak hati, namun saat melihat jam di pergelangan tangannya yang terus saja berputar menjadi teringat pesan Ratih kalau dirinya tidak boleh pulang terlalu larut malam. "Apa aku nggak ngerepotin kamu nih?"


"Aku sudah menganggapmu sebagai kakakku bukan orang lain." Dina berkata jujur.


Witma malah terharu mendengar ucapan Diana. Sudut matanya mulai berair dan mengeluarkan cairan bening.


"Malah nangis, kamu tunggu di sini juga akau mau ambil motor dulu!" seru Dina yang berlari ke arah parkiran.


*


Di rumah Ratih masih menunggu Witma pulang, tak lama terdengar suara motor yang berhenti di halaman rumahnya ia lalu bergegas menghampiri Witma. "Witma dari mana saja Nak, kenapa kamu jam segini baru pulang?" tanyanya.


"Ibu bukannya suruh Witma masuk dulu, ini malah disambut dengan pertanyaan," jawab Witma sambil tersenyum tatkala melihat wajah Ratih yang keheranan karena baru pertama kali ini ia berani bercanda begini dengan Ratih.

__ADS_1


"Ibu khawatir karena dari tadi, Ibu telpon nomer kamu tapi tidak aktif."


"Ponsel Witma labet lupa di cas, karena kebetulan hari ini di cafe ramai pengunjung. Jadi, Witma tidak sempat untuk melihat ponsel." Witma berkata jujur.


"Owh, pantesan." Ratih melihat Dina yang hanya diam saja ia kemudian bertanya, "Kamu pulang sama siapa?"


Witma yang sudah tahu Ratih akan menanyakan Dina langsung berkata, "Kenalkan Bu, ini teman kerja Witma." Witma menyenggol siku Dina memberi kode supaya memperkenalkan diri.


"Malem tante, saya Dina," ucapnya memperkenalkan diri.


"Terima kasih Nak, Dina sudah mau mengantar anak saya pulang," balas Ratih.


"Witma ganti baju dulu ya, soalnya gerah tunggu disini sebentar," kata Witma menatap Dina.


"Nggak usah lama-lama," balas Dina.


Witma mengangguk dan langsung pergi. Menuju ke kamarnya membiarkan Dina sendiri, karena Ratih sudah pergi dari tadi membuatkan Dina minuman. Hingga beberapa menit Ratih kembali dengan nampan yang berisi teh di tangannya.


"Ini Nak,Diana minum tehnya dulu, mumpung masih hangat," ucap Ratih ramah.


"Terima kasih tante, Dina jadi ngerepotin." Dina nyengir kuda. Karena ia merasa tidak enak.


"Saya tinggal di kost tante, orang tua saya sudah tidak ada," jawab Dina lirih.


Ratih merasa sedih setelah mendengarnya. "Maaf, bukan maksud Ibu membuat kamu jadi sedih lagi." Ratih merasa bersalah.


"Pada ngomongin apa kayaknya serius?" Witma tiba-tiba datang dan langsung bertanya.


"Nggak ada, tante cuma nanya dimana aku tinggal," jawab Dina sambil tersenyum.


Witma menepuk-nepuk pundak Dina. "Nginep di sini saja ya, Din. Meski rumah ini sempit," kata Witma.


"Hm, gimana ya, Witma." Dina terlihat sedang berpikir.


"Nggak usah mikir, Nak, Dina menginap saja disini. Lagi pula ini udah jam 12 malam, tidak baik anak gadis pulang sendiri." Ratih menimpali.


Dina yang merasa tidak enak hati jika menolak, pada akhirnya ia setuju dan mau menginap di rumah Witma.

__ADS_1


*


Di dalam kamar Witma Dina yang pendaran siapa Reka langsung bertanya, "Sebenarnya laki-laki di cafe itu siapa Wit?"


"Kamarku sempit ya, rencananya nanti kalau aku punya gaji aku mau beli ranjang yang besar." Witma malah mengalihkan pembicaraan.


"Ditanya apa, malah bahas kasur." Dina monyong-monyong saat mengatakan itu.


"Din, kamu ngomong apa sih tadi? Aku ngantuk mau tidur dulu." Witma merebahkan tubuhnya.


"Witma, aku tau kamu lagi menyembunyikan sesuatu dariku, aku menganggapmu kakak, tidak bisakah kamu anggap aku juga sebagai adikmu?" Dina bertanya mode serius.


"Aku tidak kenal laki-laki di cafe itu Dina," jawab Witma pelan.


"Terus foto di bawah bantal kamu itu siapa?"


Witma langsung bangun dan ia dengan cepat mencari foto yang di maksud oleh Dina.


"Kamu cari ini?" Dina mengangkat foto yang di cari Witma.


Hampir saja jantung Witma lepas dari tempatnya setelah melihat foto pernikahannya dengan Reka ada di tangan Dina. Ia ternyata masih menyimpannya sebagai kenangan.


"Sekarang alasanya apa la—" ucapan Dina terpotong oleh Witma.


"Dina, jaga batasanmu! Kamu hanya orang asing yang baru tadi pagi ku kenal, jangan membuat ku marah." Air mata Witma tumpah setelah melihat mata Dina yang mulai berair.


"Aku tidak bermaksud, membuatmu menangis." Dina merasa bersalah.


"Laki-laki itu dia tidak punya hati dan juga tidak punya perasaan," ucap Witma tiba-tiba.


Dina yang mendengar itu langsung memeluk Witma. "Katakan kalau kamu sudah tidak mencintainya lagi," bisik Dina di daun telinga Witma.


"A-aku, benci dia Dina, dia menceraikan aku hanya demi istri mudanya." Witma akhirnya berterus terang.


Dina terkejut setelah mendengar itu semua. Ia lalu berkata "Aku akan menjadi teman sekaligus adik untukmu, dan lupakan laki-laki yang sudah membuatmu sakit."


"Semakin aku mencoba menghapus rasa ini padanya, aku semakin terluka, aku sangat tersiksa bayang-bayangnya tidak juga sirna dari pandanganku," lirih Witma.

__ADS_1


"Karna dihatimu masih mengharapkannya untuk kembali," kata Dina membuat air mata Witma kembali tumpah.


__ADS_2