
"Lepaskan aku, pak Baron!" Witma memekik sambil terus saja memberontak. "Jangan lakukan ini kepadaku, aku mohon … ." Witma memohon berharap Baron melepaskannya, ia juga kini semakin memberontak saat tangan Baron akan menarik handuknya. "Aku mohon … jangan!" Witma mengiba berharap Baron kasihan tapi siapa sangka bukannya iba Baron malah menghempaskan tubuh Witma ke atas ranjang kecil yang terdengar berdecit.
"Nikmati saja sayang, abang tidak akan bermain kasar," kata Baron yang berusaha membuka celananya."Mendes@hlah sesuka hatimu sayang, karena abang akan membuatmu terbang ke atas awan," sambungnya lagi.
Witma hanya bisa menangis karena ia tidak bisa melakukan apa-apa disaat tenaga Baron lebih kuat daripada dirinya. "Tolong … pak Baron, jangan," lirihnya, sambil terus saja berusaha menahan tangan Baron agar tidak membuka handuknya.
"Witma, sebentar saja." Baron mulai meraba paha mulus Witma. "Ini moment yang sudah sejak lama abang tunggu jadi, bekerja sama lah sayang, supaya kita berdua sama-sama enak," bisik Baron di telinga Witma. Sekarang tangan nakalnya malah ingin meraba dua balon kembar milik Witma, ketika ia melihat dua benda di balik handuk itu begitu menantang. "Luar biasa, milikmu terlihat menantang untuk di sen—"
Witma tiba-tiba saja malah menendang sel@ngk@ngan Baron, sehingga kalimat Baron terputus. "Pak Baron, Anda benar-benar sudah tidak waras." Setelah mengatakan itu Witma mendekat ke arah jendela, dan tanpa berlama-lama ia membukanya. "Tolong … tolong, seseorang siapapun tolong aku!" teriak Witma meminta tolong. Ia sempat melirik Baron yang masih saja mengerang kesakitan. "Dimana orang-orang, kenapa sepi seka—" ucapannya terputus di saat tangan Baron tiba-tiba saja sudah melingkar di perutnya. Ia terperanjat kaget karena tadi dia masih melihat Baron tergeletak di lantai sambil kesakitan dan sekarang laki-laki tua itu sudah berdiri saja di belakangnya sambil memeluknya.
"Rupanya kamu ingin diperlakukan kasar," ucap Baron yang membenamkan wajahnya di tengkuk leher Witma. "Baiklah, ayo kita memulainya saja." Saat Baron akan kembali menghempaskan Witma ke atas ranjang.
Tiba-tiba saja pintu kamar Witma terbuka lebar dan tidak lama juga terdengar suara laki-laki menggeram karena merasa sangat marah detik itu juga ia menarik tangn Baron, sehingga Baron dengan terpaksa melepaskan pelukannya dari tubuh Witma.
"Furqon! Berani-beraninya kamu menjalankan rencanaku!" Baron terdengar marah. "S*al, kalian berdua kurang ajar!" desisnya
__ADS_1
Sedangkan Witma yang melihat Furqon dan Arash mengucap syukur berulang-ulang kali. "Kak Furqon, dia mau … ." Witma tidak sanggup melanjutkan kalimatnya karena suara tangisannya langsung saja pecah saat melihat penampilannya yang sekarang penuh acak-acakan.
Di belakang Furqon, Arash terus saja melihat ke arah Witma yang hanya menggunakan handuk, dan tanpa pikir panjang ia dengan gerakan cepat mengambil selimut di atas ranjang untuk menutupi tubuh Witma.
Furqon yang saat ini tersulut emosi melayangkan kepalan tangannya ke wajah Baron beberapa kali. "Sekeji inikah Anda, pak Baron!" geramnya. Tidak sampai disitu ia kemudian langsung saja menendang perut Baron juga. "Dasar laki-laki tua bangka mesum!" Furqon menyeret Baron keluar dari kamar itu karena di luar sudah ada polisi dan beberapa warga. Tadi sebelum ia masuk ke kamar Witma ia ternyata sempat menghubungi polisi dulu.
Saat ia berhasil menyeret Baron ke teras ia lantas melempar tubuh pria paruh baya itu. "Bawa dia ke kantor Anda, pak polisi, saya akan menyusul kesana nanti," ujar Furqon karena ia tidak mau main hakim sendiri di tambah saat ini warga semakin banyak yang datang ia juga tidak mau para warga ikut-ikutan main hakim karena ia tahu warga +62 begitu cepat tersulut emosi dalam hal begini seperti dirinya tadi.
Setelah menyerahkan Baron kepada polisi yang sudah lemah tak berdaya karena tadi ia sempat memukulnya habis-habisan, Furqon langsung meminta para warga juga untuk pulang mengingat Witma masih di dalam bersama Arash dan juga ia tidak mau kalau sampai Witma tahu kalau saat ini banyak orang di rumah mereka.
*
*
"Dek, sudahlah, biarkan Witma sendiri dulu mungkin ia masih merasa shock karena kejadian satu jam yang lalu." Furqon bersuara ketika sang istri tidak henti-hentinya menangis sambil terus mengajak Witma bicara.
__ADS_1
"Tapi Mas, gimana dengan Witma." Fatimah ternyata tidak mau meninggalkan Witma sendirian. "Biarkan aku disini saja untuk menemani Witma." Fatimah menatap sang suami.
"Dek, Witma akan baik-baik saja. Bukankah kamu sudah mendengar sendiri kata dokter tadi?" Furqon tidak mau membuat istrinya kepikiran tentang apa yang telah dialami Witma mengingat Fatimah juga saat ini sedang hamil, yang usia kandungannya baru saja berjalan dua bulan. "Ingat calon anak kita," bisik Furqon memperingati Fatimah.
Fatimah yang mendengar itu mengangguk karena ia rasa ucapan Furqon ada benarnya juga. Maka dari itu ia mengajak Tami juga untuk keluar membiarkan Witma yang masih menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. "Tam, benar kata kakakmu, ayo kita keluar," ajak Fatimah yang menggandeng tangan Tami. "Buat Witma, kamu istirahat saja dek, kami keluar dulu," pamitnya.
Witma merespon meski hanya dengan anggukan kecil. Yang membuat Fatimah sedikit lega.
"Tami juga keluar dulu ya, kak." Saat Tami juga berpamitan Witma malah memegang tangan Tami. "Kak Witma, ada apa? Apa Kakak tidak mau di ting—"
"Temani Kakak," potong Witma lirih, dan hanya kalimat itu saja yang keluar dari mulutnya.
Tami sempat melirik ke arah Fatimah dan Furqon untuk meminta persetujuan kalau ia akan menemani Witma.
Fatimah yang paham menyenggol lengan Furqon sambil berkata, "Mas, Tami minta pendapat kamu," ujarnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Tam, temani saja Witma disini," balas Furqon menimpali. Ia lalu menggandeng tangan Fatimah untuk keluar dari sana.