
Malam harinya saat Witma sedang belajar di dalam kamarnya tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ia sempat melirik ke layar benda pipihnya itu sambil berkata, "Tidak ada nama kontaknya jadi, biarkan saja. Mungkin juga ini nomer nyasar." Ia kemudian kembali fokus belajar mengingat besok pagi adalah ujian semester terakhirnya. Namun, tidak lama lagi terdengar notif pesan singgat yang masuk ke ponselnya setelah dering panggilan itu m@ti. "Hm, sesayang itukah operator kepada Witma, sehingga setiap saat setiap detik selalu mengirimiku pesan yang menyuruhku untuk mengisi pulsa," gumamnya. Ia ternyata menyangka operator yang telah mengirim pesan.
Perlahan dengan wajah memelas ia mulai meraba ponselnya yang terletak di sebelahnya. Saat ia mulai membuka isi pesan di ponselnya itu seketika mulutnya terbuka lebar ia tidak menyangka kalau ternyata yang tadi menelponnya adalah Reka laki-laki yang ia kenal pagi tadi saat dirinya terpeleset karena genangan air hujan.
(Kenapa tidak diangkat ini aku, Reka). Isi pesan singkat yang dikirim Reka.
Sesaat setelah ia membacanya ponselnya kembali lagi berdering. "Angkat atau tidak?" Witma bertanya-tanya pada dirinya dengan kalimat itu berulang-ulang kali. meskipun pada akhirnya ia yang merasa penasaran dengan apa yang akan Reka bicarakan pada dirinya menggeser tombol warna hijau.
"Assalamualaikum, Kak Reka," ucapnya dengan nada suara lembut.
"Waalaikumsalam, Witma kenapa kamu tidak mengangkat panggilanku dari tadi?" tanya Reka langsung di seberang sana.
"Maaf kak, Witma tadi sedang belajar dan juga tidak tahu kalau ini nomer kakak," jawabnya jujur yang memang tidak tahu kalau itu nomernya Reka.
"Iya sudah, sekarang save nomerku supaya kamu tahu kalau itu aku." Reka tanpa basa basi menyuruh Witma menyimpan nomornya padahal mereka sama sekali tidak saling kenal. "Apa besok bajuku sudah kering? Jika sudah, bawakan aku ya, kita ketemu di tempat kemarin," sambungnya dengan suara ramah.
Witma tadi sempat kaget mendengar kalimat Reka yang menyuruhnya untuk menyimpan nomor ponselnya, di saat mereka sama sekali tidak ada hubungan.
"Halo, kamu kenapa diam?" Reka yang tidak mendengar jawaban Witma langsung bertanya.
"Hm โฆ insyaAllah, kalau baju kakak sudah kering Witma akan menghubungi kakak," jawabnya setelah tadi ia sempat melamun memikirkan jawaban untuk Reka. "Kalau begitu, Witma tutup dulu teleponnya kak. Assalamualaikum," ucapnya, yang ternyata tidak mau bicara panjang lebar dengan laki-laki lain yang baru tadi pagi ia kenal mengingat saat ini ia sudah memiliki kekasih hati. Oleh sebab itu juga, ia takut kalau kekasih hatinya cemburu jika tahu ia sedang mengobrol dengan laki-laki lain.
'Waalaikumsalam," balas Reka yang kemudian menekan tombol merah. Setelah sambungan itu terputus ia mendesis karena tadi niatnya ingin mengobrol dengan Witma lebih lama lagi.
*
__ADS_1
Keesokan paginya saat sore menjelang ternyata Witma sudah menunggu Reka di tempat kemarin ia terpeleset. Dengan menentang kresek putih yang ia membawa di tangan sebelah kanannya yang isinya baju Reka. "Semoga saja kak Arash tidak melihatku disini, karena nanti dia bisa salah paham," gumamnya pelan. Mengingat kekasihnya yang bernama Arash sangat posesif.
Detik demi detik berlalu namun Reka sama sekali belum kelihatan batang hidungnya, sehingga ia merasa sudah mulai bosan menunggu. "Apa kak Reka tidak jadi datang ya, ini sudah 54 menit aku menunggunya," katanya yang berpikir kalau Reka membohonginya. "Apa aku pulang saja, karena nanti Ibu sama Bapak cemas kalau aku pulang terlambat," lanjutnya. Namun, saat ia akan melangkah sebuah tangan kekar menarik pergelangan tangannya. Ia yang merasa kaget langsung mengucap dua kalimat syahadat di dalam benaknya.
"Mau kemana?"
Witma berbalik saat ia mengenal suara itu. "Kak Reka," panggilnya.
"Iya, kamu mau kemana?" tanya Reka sekali lagi.
Witma melepaskan tangan Reka dari pergelangan tangannya. Karena ia merasa risih ketika di pegang laki-laki kecuali ayah dan kakaknya ."Ini baju kakak." Ia menyerahkan keresek putih itu kepada Reka. "Witma pamit pulang dulu kak, mengingat ini sudah hampir petang." Ia kemudian pergi setelah mengucap salam tanpa menunggu jawaban Reka.
Reka menyeringai dengan elegan, entah mengapa ia tiba-tiba saja merasa tertarik dengan Wirma. "Sepertinya Witma adalah jodohku," ujarnya setelah Witma semakin menjauh. "Aku akan mendapatkan cintamu, bagaimanapun caranya," sambungnya lagi. Dan tidak lama ia juga pergi dari sana.
*
*
Witma yang sedang duduk santai di kamarnya merasa heran karena baru kali ini ada yang datang mencarinya. "Laki-laki atau perempuan, Pak?" tanyanya yang penasaran.
Rahman tersenyum ke arah Witma sebelum menjawab, "Laki-laki, apa itu pacar kamu?"
Witma yang berpikir bahwa yang datang itu Arash langsung menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya. "Bukan Pak, itu teman Witma." Ia kemudian turun dari ranjang kecilnya inno ingin menghampiri laki-laki yang ia pikir itu Arash. "Kulitnya putih, sama matanya agak sipit kan, Pak?" Ia bertanya lagi karena ia rasa Arash tidak akan senekat ini datang ke rumahnya.
"Kamu lihat saja sendiri, dia sekarang sedang duduk sama ibu di depan," jawab Rahman yang melihat rona merah di pipi Witma.
__ADS_1
"Ish, Bapak. Witma jadi penasaran," kata Witma sambil berjalan ke arah luar. Membiarkan Rahman sendiri disana.
*
Saat Witma melihat laki-laki yang saat ini sedang duduk bersama Ratih sambil bercanda gurau ia malah mundur beberapa langkah karena ternyata dugaannya salah laki-laki itu bukanlah Arash melainkan Reka. Saat ia akan kembali masuk karena tidak mau bertemu dengan Reka suara Ratih menghentikan langkah kakinya.
"Sudah lama kenal dengan Witma?" tanya Ratih kepada Reka. Ternyata mereka belum menyadari kalau Witma sedang berdiri di dekat pintu.
"Belum lama Bu, tapi Reka merasa Witma itu jodoh Reka," seloroh Reka menjawab Ratih. "Semoga saja nama Reka dan Witma tertulis di dua buku yang berwarna merah dan hijau tua," sambungnya lagi.
"Ada-ada saja, Witma masih sekolah. Jangan ajak dia nikah dulu," balas Ratih yang mengira ucapan Reka hanya bercanda.
Reka mengeluarkan kotak merah berbentuk love dari sakunya. "Reka serius Bu, ingin menjadikan Witma istri Reka." Reka tanpa ragu mengatakan itu. "Ini cincin sebagai pengingat dulu, nggak apa-apa Reka akan menunggu Witma sampai dia lulus dulu."
Witma yang mendengar itu menutup mulutnya dengan telapak tangannya ia merasa sangat shock karena tiba-tiba saja Reka berkata begitu.
Dan sejak saat itulah Reka mulai melakukan berbagai cara supaya bisa mendapatkan hati Witma dan kedua orangtuanya.
Minggu berganti bulan, bulan berganti tahun seiring berjalannya waktu hingga pada akhirnya Witma luluh dan bersedia meninggalkan Arash demi menikah dengan Reka.
๐๐๐
...----------------...
Reka terperanjat dari lamunannya sesaat setelah mendengar suara tangisan bayi.
__ADS_1
"Bayimu menangis, tidak bisakah kamu menggendongnya." Suara Reka sedikit lembut tidak seperti yang tadi. Setelah ia tadi sempat mengingat beberapa tahun yang lalu tentang dirinya saat berjuang demi mendapatkan hati Witma.
(Gimana, apakah Reka dan Witma pantas bersama lagi? Jika iya, tolong di komen๐).