Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Kesedihan Keluarga Witma


__ADS_3

Di dalam mobil Arash menoleh ke arah Witma menatapnya sekejap tanpa sepatah kata pun. Setelahnya, ia kembali pada posisinya lagi yaitu menyetir. Tidak berselang lama ia kembali menoleh ke Witma sesaat, lalu ia memalingkan wajah terlihat seakan tak peduli. "Ya Allah, jika Witma jodoh hamba maka percepatlah jalan hamba untuk meminangnya dengan bismillah. Meskipun masa iddahnya masih belum berakhir." Arash membatin.


"Kak Arash menoleh padaku," gumam Witma di dalam benaknya. Ternyata ia tahu kalau Arash menolah dua kali kepada dirinya. "Tapi kenapa Kak Arash terlihat seperti membuang muka saat menatapku tadi?" Witma bertanya-tanya pada dirinya sendiri dengan suara yang sangat pelan sehingga Arash tidak mendengarnya. Karena posisi Arash di depan sedangkan Witma duduk di belakang.


Terdengar Arash beberapa kali berdehem sebelum membuka suara. "Witma, apa aku boleh bertanya?"


"Silahkan saja kak, asal jangan bertanya yang aneh-aneh," kata Witma.


"Hm, apa selama kamu menikah dengan Reka, dia selalu melakukan KDRT?" Arash sebenarnya tidak enak menanyakan perihal itu. Namun, karena ia merasa kupingnya sudah panas mendengar cerita orang-orang yang mengatakan kalau keluarga Witma sebenarnya mengada-ngada soal pernyataan itu. Maka dari itu ia langsung bertanya saja kepada Witma pihak yang bersangkutan.


Witma yang tidak mau membongkar semua perlakuan Reka dulu padanya menggeleng kuat-kuat, karena ia tidak mau kalau sampai Reka dicap laki-laki yang tidak baik. "Mas Reka, tidak pernah melakukan KDRT," jawab Witma.


Arash yang belum yakin bertanya sekali lagi. "Jawablah dengan jujur Witma, apa Reka selalu melaku—"


"Tidak kak Arash, Mas Reka selalu memperlakukan Witma dengan baik," potong Witma cepat. "Witma dan Mas Reka memilih berpisah, karena kita berdua sudah tidak ada kecocokan. Jadi, sekarang Witma terangkan sekali lagi kalau Mas Reka tidak pernah sama sekali melakukan tindakan KDRT," lanjutnya lagi.


Mendengar itu Arash mengangguk tanda mengerti, setelahnya ia kembali fokus menyetir. Hening, beberapa saat sebelum Arash membuka suara lagi.


"Maaf kalau pertanyaan aku begitu lancang, seharusnya aku tidak menanyakan perihal itu," kata Arash. Sebenarnya yang tadi Arash cuma mau mengetes apakah Witma akan berkata jujur atau berbohong. Namun, jawaban yang diberikan Witma ternyata berbanding balik dengan pernyataan yang di harapan Arash.


Witma meremas ujung bajunya di bawah sana, karena ia tidak yakin kalau ucapannya yang tadi dapat dipercaya oleh Arash. Di tambah ia mendengar Arash meminta maaf ia semakin merasa bersalah karena telah berbohong. Akan tetapi di sini lain Witma juga tidak mungkin akan mengatakan semuanya dengan jujur.

__ADS_1


"Tidak apa-apa kak Arash." Witma hanya bisa mengatakan itu. Ia lalu memalingkan wajah ke arah jendela karena ia tahu saat ini Arash menatapnya dari pantulan kaca di depan.


Namun, tidak berselang lama saat Witma terus saja menatap ke arah luar jendela ia tidak menyangka kalau dirinya malah melihat Reka berduaan di sebuah kedai kopi di pinggir jalan dengan seorang wanita yang ia tidak kenal. Ia spontan langsung membatin, "Mas Reka, sama siapa lagi dia?"


Arash ternyata melihat Reka juga akan tetapi ia memilih diam, karena ia berpikir bahwa Witma tidak melihatnya.


*


"Terima kasih kak Arsah, karena kakak sudah mengantar Witma pu—"


"Kak Witma!!" teriak Tami tiba-tiba memotong ucapan Witma dari arah pintu. "I-ibu, I-ibu … ." Sekaan lidahnya kelu Tami tidak bisa melanjutkan kalimatnya.


Witma yang merasa ada sesuatu yang terjadi dengan Ratih bergegas masuk dengan cara berlari. Ia sampai tidak menghiraukan Arash yang juga ikut berlari menyusulnya dari belakang.


Tungkai kaki Witma lemas setelah melihat Ratih masih kejang-kejang di atas kasur dan juga mengeluarkan busa yang semakin banyak dari mulutnya sesuai yang dikatakan Tami.


"Ya Allah, apa yang telah terjadi dengan Ibu, Tami. Kenapa bisa begini?" Meski Witma panik, namun ia masih bisa bertanya begitu ingin mendengar keterangan dari mulut Tami.


Arash yang melihat keadaan Ratih begitu sangat panik. "Kita bawa ibu ke rumah sakit, jangan sampai terlambat," kata Arash. Ia kemudian mengangkat tubuh wanita paruh baya itu. "Ayo Witma, Tami kita bawa ibu sekarang," ujar Arash. "Kita harus cepat," lanjutnya.


Witma dan Tami menganguk bersamaan sambil mengikuti Arash dari belakang yang menggendong Ratih.

__ADS_1


*


*


Berbagai alat terpasang di tubuh Ratih yang terbaring lemah tak berdaya di atas bed. Sudah tiga hari ini Witma dan Tami terus saja melantunkan ayat suci Al-Qur'an di samping ranjangnya sang ibu. Lipatan dan garis hitam di bawah mata menghiasai wajah keduanya yang kini terlihat, menandakan kalau mereka berdua kurang tidur.


Perlahan Witma menggenggam tangan Ratih yang tak berdaya. "Ibu, buka mata Ibu sebentar saja," lirih Witma. "Ibu, Witma dan Tami berharap Ibu cepat sadar." Bibirnya bergetar sekuat tenaga ia menahan rasa yang menyesak di dada agar tidak tumpah menjadi isakan pilu. "Ibu nggak boleh pergi … bagaimana dengan Witma dan Tami … Witma mohon Ibu bangun," lirih Witma berbisik di telinga Ratih.


"Kak Furqon akan datang sebentar lagi bersama Kak Fatimah, dan juga dua cucu Ibu. Jadi, Ibu harus membuka mata supaya bisa melihat mereka," ucap Tami. Yang kini bergiliran berbisik di daun telinga Ratih.


Dan benar saja tidak berselang lama Furqon masuk dengan membawa kedua putrinya dan juga istrinya, Fatimah. Setelah tadi mereka mengucapkan salam.


Saat Furqon dan Fatimah berkata, "Ibu, kami sudah datang membawa cucu Ibu." Detik itu juga air mata Ratih menetes dari kedua sudut matanya. "Ibu, kami semua akan menunggu sampai Ibu membuka mata."


Tit … tit … tit … .


Namun, tiba-tiba suara monitor dengan garis yang bergerak cepat membuat mereka yang ada di sana saling menatap satu sama lain.


"Bapak bisa mundur dulu sebentar. Ya," kata dua perawat yang selalu siaga disana tiba-tiba saja sudah masuk ke dalam ruangan Ratih.


Furqon menggeleng karena tidak mau mundur. Dan ia langsung berkata, "Saya akan menuntun Ibu saya, meskipun waktunya sudah tidak lama lagi." Meskipun Ratih dalam keadaan koma tapi Furqon yakin sang ibu masih bisa mendengarnya.

__ADS_1


"Ma-maksudnya apa?" Witma yang mendengar itu langsung saja di selimuti kepanikan. "Jangan di lepas suster, Ibu kami masih membutuhkan semua alat-alat itu." Ia menahan salah satu tangan perawat yang akan mencabut alat yang terpasang di tubuh Ratih. "Kak Furqon, jangan biarkan suster ini melepasnya," ujarnya. Namun, tidak lama tubuhnya terlampau lemah sehingga ia kalah kala Fatimah memeluk tubuhnya dari belakang.


__ADS_2