Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Niat Baik Arash


__ADS_3

"Gimana keadaan Witma, kak. Apa dia baik-baik saja?" tanya Arash saat melihat Furqon dan Fatimah keluar dari dalam kamar Witma ternyata ia masih disana.


"Seperti kata dokter tadi, kemungkinan saat ini dia mengalami trauma," jawab Furqon sambil mengambil posisi duduk di sebelah Arash "Jika begini aku ingin membawa mereka saja ke Bali, tidak mungkin aku akan membiarkan mereka berdua di dini setelah apa yang menimpa Witma," ujarnya, ia benar-benar tidak ada pilihan lain mengingat saat ini dirinyalah anak pertama yang harus menjadi pengganti orang tuanya untuk menjaga kedua adik perempuannya.


"Apa kakak yakin membawa Witma dan Tami ke sana?" Arash bertanya lagi karena ia tidak yakin kalau Witma akan mau di bawa ke Bali tempat kediaman Furqon dan juga Fatimah.


Furqon menghela nafas beberapa detik setelah itu menghembuskannya dengan pelan, sebelum ia menjawab pertanyaan Arash. "Tidak ada pilihan lain, karena pak Baron bisa bebas dari penjara dengan sangat mudah, mengingat dia orang yang paling berkuasa di daerah ini." Furqon ternyata tahu Baron pasti akan melakukan berbagai cara supaya bisa keluar dari penjara karena memang benar uang bisa membeli apapun termasuk keadilan. "Kamu sudah tahu sendiri bagaimana keadaan perekonomian saat ini, tidak mungkin aku akan bisa melawan pak Baron," sambungnya lagi.


Fatimah yang ada di kursi rotan paling ujung, hanya bisa diam mendengarkan setiap ucapan Furqon karena ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, saat mengingat beberapa minggu yang lalu sebelum ia dan Furqon datang ke jakarta ternyata mereka mengalami musibah dimana pabrik keripik kentang mereka mengalami kebakaran.


Hening beberapa saat karena mereka bertiga saat ini sedang larut dalam pikiran mereka masing-masing. Dimana Arash memikirkan supaya Furqon tidak membawa Witma ke Bali. Sedangkan Furqon masih bimbang antara membawa Witma dan Tami di saat isi kantong nya juga mulai menipis mengingat Fatimah juga sedang hamil di tambah lagi kedua anaknya saat-saat ini sedang membutuhkan biaya untuk melanjutkan sekolahnya. Dan tanpa Furqon tahu ternyata pikirannya dengan Fatimah saat ini sama.


Setelah cukup lama terdiam, Furqon akhirnya membuka suara. "Ternyata Allah menguji kesabaranku dengan cara begini, dimana setelah pabrik keripik kami kebakaran, tidak lama lagi mendapat kabar Ibu sakit dan saat kami sampai disini Ibu malah langsung pergi meninggalkan kami. Sekarang masalah Witma yang hampir saja di lecehkan." Furqon berbicara demikian supaya beban yang sedang ia pikul saat ini bisa sedikit berkurang setelah mengeluarkan isi hatinya yang sudah ia pendam beberapa hari belakangan ini.


"Itu tandanya Allah menyayangi kakak, makanya menguji semua hambanya sesuai batas kemampuan mereka masing-masing," ujar Arash menimpali. "Mungkin aku biasa membantu kakak, dengan cara ini." Arash menyodorkan amplop yang isinya terlihat begitu tebal. "Pakai saja untuk memperbaiki pabrik kakak, semoga usaha yang telah kakak rintis dari nol akan kembali lagi seperti sedia kala," sambung Arash, ia ternyata tahu kalau pabrik Furqon kebakaran makanya ia tadi tidak begitu terkejut.

__ADS_1


"Sebelumnya aku mengucapkan terima kasih banyak Arash, tapi maaf aku tidak bisa menerima ini semua." Furqon menyodorkan kembali amplop itu kepada Arash. "Kami masih memiliki sedikit tabungan, maka itu yang akan kami gunakan untuk memperbaiki pabrik."


Arash menggeleng. "Aku ikhlas dalam membantu kakak ambil saja dan untuk tabungan itu, kakak bisa menyimpannya untuk biaya persalinan kak Fatimah," kata Arash yang tidak mau kalau sampai Furqon menolak pemberiannya. "Kalau begitu aku pamit, ini sudah hampir pukul 10 malam." Arash beranjak dari duduknya. "Aku harap kakak tidak tersinggung, karena niatku baik dan tulus," katanya sebelum pergi dari sana.


*


*


Di tempat lain.


Reka yang sedang duduk sambil memegang benda pipihnya sempat menoleh sekilas ke arah Lisa. Ia tampaknya terlihat enggan untuk membalas ucapan Lisa.


"Mas, kita buang saja anak itu apa susahnya sih, jika itu saja yang kamu permasalahkan." Lisa berusaha bangun niatnya ingin mendekati Reka. Namun, rasa ngilu pada perutnya membuatnya kembali berbaring. "Aku juga bisa membayar orang untuk meleya@pkan bayi s*alan itu." Lisa menunjuk bayinya yang saat ini sedang digendong Endang di luar ruangannya. "Tanpa meninggalkan jejak sedikitpun maupun bukti," lanjutnya lagi.


Reka yang merasa kalau kupingnya sudah terasa sangat panas berdiri dari duduknya. "Lisa, bayi itu manusia bukan hew@n yang seenak moncongmu berkata begitu!" geramnya. "Jika kamu ingin meleny@pkannya kenapa tidak dari dulu saja? Kenapa harus sekarang saat aku baru mengetahui faktanya."

__ADS_1


"Mana mau Mas menikah dengan aku, jika semuanya aku bongkar," jawab Lisa.


"Inikah peri bahasa yang di sebut, nasi sudah menjadi bubur," balas Reka yang ternyata menyadari kalau dirinya telah menjadi korban Lisa. "Kamu benar-benar wanita ular Lisa! Tidakku sangka ternyata memilihmu adalah pilihan yang sangat salah. Sungguh aku menyesal telah menceraikan Witma."


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


(Hai kakak-kakak jangan lupa mampir juga ke karya temanku ya๐Ÿ˜Š di jamin ceritanya tidak kalah serunya ).


Di sini ya kak๐Ÿ˜๐Ÿ‘‡


Judul: Doctor and Love


Author / Napen: Rya Kurniawan


__ADS_1


__ADS_2