
"Tadi Arash datang, cuma ngantar undangan," kata Ratih saat melihat Witma keluar dari kamar.
Witma sebenarnya ragu untuk menanyakan tentang undangan apa yang diantar Arash, namun karena rasa penasaran ia jadi bertanya kepada Ratih. "Undangan apa, Bu?"
Ratih yang sedang duduk sambil ngopi memberikan undangan itu ke Witma. "Ini undangan pengajian seperti biasa," jawab Ratih. "Apa Witma mau ikut nanti malam? Kebetulan pengajiannya akan dimulai setelah sholat magrib." Ratih berharap Witma mau pergi dengannya. Mengingat Witma masih saja sering melamun sampai sekarang jika di rumah sendirian.
"Gimana ya, Bu. Witma kan, masih datang bulan," ujar Witma kepada Ratih. Yang kebetulan ia sedang menstru@si sampai sekarang.
"Tidak apa-apa Nak, tempatnya di rumah Arash sendiri bukan di masjid," balas Ratih.
"Rumah Pak Andri maksud Ibu?" Witma bertanya sambil duduk di sebelah Ratih.
Ratih menggelang, karena memang tempat pengajian itu rumah Arash sendiri bukan rumah orang tuanya. "Bukan, tempatnya di rumah Arash sendiri, yang baru saja jadi beberapa minggu yang lalu." Ratih menatap kedua bola mata bening Witma. "Karena sebentar lagi Arash akan menikah, maka dari itu dia mau syukuran dulu dengan cara mengadakan pengajian di rumah barunya supaya rumahnya langsung bisa ditempati."
"Wanita yang akan menjadi istri kak Arash, adalah wanita yang paling beruntung." Witma malah mengatakan itu sehingga membuat Ratih menyerngit heran. "Beruntung karena kak Arash laki-laki yang baik, laki-laki yang paham agama dan juga dia taat kepada Allah SWT," sambung Witma.
Ratih ternyata tidak tahu kalau Witma dan Arash dulu pernah menjalin hubungan. "Iya, benar apa katamu wanita yang akan menikah dengan Arash akan sangat beruntung." Ratih menimpali. "Jadi, bagaimana apa kamu mau ikut ke pengajian?"
__ADS_1
"Insyaallah, Bu. Karena tadi Dina juga mengirim pesan katanya nanti malam kita disuruh kumpul di cafe. Nanti gimana-gimana Witma kasih tahu Ibu."
"Baiklah, Ibu pergi dulu ada urusan sebentar," pamit Ratih.
*
*
"Kak Witma, ada kak Dina di depan," ujar Tami saat mengetuk pintu kamar Witma beberapa kali. "Kak Witma," panggilnya sekali lagi.
"Tami tadi sudah menyuruh kak Dina masuk, Bu. Tapi dia nggak mau katanya mau nunggu di luar saja," balas Tami yang akan kembali lagi mengetuk pintu Witma. Tapi tiba-tiba saja pintu kamar Witma membuka lebar. "Kak Witma, ada Kak Dina," ucap Tami langsung saat melihat Witma sudah berdiri dengan pakaian yang sangat rapi.
"Iya, Tam. Kakak sudah tahu. Tadi itu kakak sholat makanya nggak menjawab," balas Witma. Ia lalu kembali menutup pintu kamarnya. Ia beralih menatap Ratih. "Bu, maaf. Witma tidak jadi ikut ke pengajian. Nggak apa-apa, kan?"
"Tidak apa-apa, Ibu bisa pergi sama Tami saja." Ratih mengelus tangan Witma. "Buruan gih, Nak Dina. Sudah lama menunggu di depan."
Witma berpamitan dan mencium tangan Ratih. "Assalamualaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam," jawab Ratih dan Tami serempak. "Hati-hati di jalan, kasih tahu Dina jangan bawa motor ngebut-ngebut!" seru Ratih.
*
*
Sambil menunggu Owner cafe tempatnya bekerja datang Witma memilih duduk termangu di kursi yang pernah dulu di duduki Reka. Sambil menggenggam gelas kosong setelah tadi ia meminumnya sampai habis. "Apa yang sebenarnya aku pikirkan Ya Allah, kenapa hati ini merasa tidak tenang?" Witma menggeleng, lalu mengurut-urut pelipisnya yang terasa berdenyut. Pikirannya malah tertuju ke Ratih ia merasa akan ada sesuatu yang terjadi.
"Kenapa ngelamun, di depan Owner cafe ini sudah datang," ucap Dina yang tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang sambil menepuk bahu Witma. "Ayo kita kesana, yang lain juga sudah bersiap-siap menyambutnya," ujar Dina lagi.
"Aku ke toilet sebentar, kamu bisa duluan ke sana. Din," kata Witma. Ia lalu berdiri bersiap-siap berjalan ke toilet tapi matanya malah tidak sengaja melihat laki-laki yang ia kenal. "Kak Arash, ngapain di sini," gumam Witma membatin.
"Katanya mau ke toilet, tapi kenapa malah diam disini?" tanya Dina.
"Aku pergi sekarang," jawab Witma tersenyum. Yang menampilkan lesung pipinya kiri dan kanan. "Nanti kalau ada hal yang penting dibahas oleh Bos, jangan lupa kasih tahu aku."
"Baik, Bu Bos!" Dina langsung berlari sambil cekikikan setelah mengatakan itu kepada Witma.
__ADS_1