Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Percakapan Witma dan Arash


__ADS_3

"Apa keluarga kak Arash nanti tidak akan keberatan, jika aku dan Tami tetap tinggal di rumah kakak?" Witma malah bertanya balik karena ia takut jika nanti kedua orang tua Arash pulang dari Negara A akan salah paham dan memarahinya.


"Mama dan Papa tidak mungkin marah Witma, lebih baik kamu tidak usah memikirkan hal yang tidak akan terjadi," jawab Arash meyakinkan Witma. "Kamu cukup percaya saja padaku, karena Mama dan Papaku orang baik tidak mungkin mereka akan memarahi wanita yang dulu pernah singgah dihati ini." Ia hanya berani mengatakan itu kepada Witma selebihnya ia masih ragu karena nyalinya belum cukup besar, untuk mengungkapkan bagaimana perasaannya yang sekarang.


"Dengan cara apa aku harus membalas semua kebaikan kakak?" Witma ternyata masih saja membahas tentang bagaimana ia harus berbalas budi kepada Arash atas semua kebaikan yang telah diberikan kepadanya.


Arash menggelang kuat. "Tidak usah membalas semua kebaikanku Witma karena kamu tidak akan mampu." Ia sengaja mengatakan itu hanya ingin melihat respon Witma seperti apa.


Witma langsung saja menghentikan langkahnya saat mendengar itu, ia jadi berpikir kalau dirinya harus benar-benar membalas semua kebaikan Arash. "Untuk saat ini aku memang belum mampu kak, tapi percayalah suatu hari nanti semua kebaikan kakak akan aku balas satu-persatu."


Arash yang masih saja berjalan tidak menyadari kalau Witma tertinggal di belakangnya, akan tetapi ucapan Witma yang tadi bisa ia dengar meski agak sedikit kurang jelas. Namun, meski begitu ia tetap menyahut ucapan Witma. "Aku tidak memintamu membalasku dengan materi, yang aku minta kamu hanya cukup membalasku dengan cara selalu tersenyum sehingga kedua lesung di pipimu sampai kelihatan." Arash menoleh sehingga ia bisa melihat Witma yang kini menunduk. "Aku hanya meminta itu Witma karena bagiku itu lebih dari kata cukup," sambungnya lagi.

__ADS_1


"Jangan pernah menaruh rasa lagi kepadaku kak, meskipun itu cuma secuil." Entah mengapa tiba-tiba saja Witma malah mengatakan itu semua. "Maaf juga, karena ini terdengar sangat tidak nyambung dengan apa yang kakak bahas tadi." Witma tahu apa yang akan ia katakan saat ini tidak ada kaitannya dengan Arash yang menyuruhnya tersenyum sehingga memperlihatkan lesung di pipinya. "Aku mohon buang rasa itu sekarang juga, sebelum kakak terluka untuk yang kedua kalinya. Karena … ." Ia rasanya tidak sanggup untuk mengatakan itu semua. Karena saat ini ia merasa felingnya yang sangat kuat malah mengatakan kalau Arash masih mencintainya sama seperti dulu.


"Karena … kata Kak Furqon aku telah dilamar oleh laki-laki yang tidak aku kenal sama sekali," katanya sambil mengusap bulir bening yang menetes di pipi mulusnya dengan gerakan cepat. "Kata maaf sepertinya tidak akan mampu membuat hati kakak akan merasa tenang, tapi hanya kata itu yang mampu keluar dari dalam mulut ini." Ia merasa luka di hatinya yang belum kering kini merasa kambali tersayat-sayat oleh kenyataan yang sangat pahit ini. "Ma-maaf, maaf … maaf kak Arash, karena sepertinya takdir tidak membiarkan kita untuk pernah bersama."


Arash merasa heran karena kenapa Witma bisa tahu tentang isi hatinya. "Kenapa Witma bisa tahu? Apa dia mempunyai indra ke 6? Atau mungkin aku dan dia memiliki kontak batin?" Ia bertanya di dalam benaknya. Hingga beberapa detik ia kemudian mendekati Witma lagi yang masih menunduk.


"Ada satu hal yang kamu lupakan Witma," kata Arash yang masih berbicara tenang. "Bahwa cinta tidak harus saling memiliki, bukan begitu?"


"Maka pasti kamu sudah tahu tentang apa itu arti kata, tawamu adalah bahagiamu, tapi sedihmu adalah sedihku." Arash tersenyum getir saat mengatakan itu semua. "Jadi, itu semua tidak masalah bagiku kalau kamu dilamar oleh laki-laki lain." Arash memberikan Witma sapu tangan yang berwarna putih. "Hapus air matamu Witma, tidak ada yang perlu kamu tangisi. Karena aku percaya pilihan kak Furqon tidak pernah salah maka dari itu, aku mengikhlaskanmu untuk menikah lagi dengannya entah siapapun laki-laki itu."


"Maaf, karena aku sudah mencabut bunga-bunga yang sebentar lagi akan bermekaran." Witma mengangkat wajah dan menatap netra Arash, laki-laki yang selalu mendukung keputusannya tentang apapun itu meskipun itu bisa membuat Arash sakit sendiri.

__ADS_1


"Kamu hanya mencabutnya Witma, tanpa kamu tahu dan sadari ternyata kalau bunga itu menjatuhkan bijinya saat kamu mencabutnya tadi. Itu artinya bunga itu masih akan tetap tumbuh meskipun hanya beberapa saja," balas Arash.


Witma yang tidak tahan menatap bola mata Arash berlama-lama langsung memutuskan untuk pergi dari sana membiarkan Arash masih betah berdiri sambil memperhatikannya.


"Perasaan macam apa ini?"


"Kenapa aku bisa mengatakan itu tadi?"


"Ya Allah, apa rasa yang dulu pernah ada kembali lagi saat aku menatap mata kak Arash?"


"Dan kenapa waktu menatap mas Reka rasa di hati ini tidak bergetar hebat seperti sekarang ini?"

__ADS_1


Witma terus saja bergumam di dalam benaknya. Sambil terus saja berjalan.


__ADS_2