
"Jadi, ini alasan kamu tidak pernah mau mengajakku ke rumah sakit untuk melakukan tes kesehatan." Reka terlihat marah saat mengetahui fakta kalau dirinya ternyata mandul. "Dan sekarang kamu boleh jujur saja, anak siapa yang kamu kan—".
"Ini anak kamu Mas, bisa-bisanya kamu berkata begitu. Kamu itu laki-laki sehat, laki-laki yang normal kayak orang lain." Lisa mendekati Reka yang sedang marah.
"Kenapa dokter tadi mengatakan kalau aku ini mandul? Ketika aku mencoba mengetes kesehatan. Apa kamu bisa menjelaskannya?" Reka bertanya dengan nada suara mulai meninggi.
"Dokter itu mungkin salah Mas, buat apa kamu percaya." Lisa berusaha menenangkan Reka. "Aku minta, tolong kamu jangan meragukan anak ini lagi Mas." Lisa memeluk Reka. "Dan jangan percaya sama dokter magang itu."
Reka melepas pelukan Lisa. Ia membuang nafas kasar lalu berkata, "Dia bukan dokter magang!" bentak Reka. "Dia dokter kepercayaanku dan Witma dulu." Reka malah mengingat Witma. Membuat ekspresi Lisa berubah. "Lebih baik kamu jujur Lisa, sebelum aku semakin murka." Reka menatap Lisa sinis.
"Jika Mas tidak percaya sama aku, kamu boleh membunuhku dan bayi kita." Air mata Lisa langsung tumbuh saat mengatakan itu. "Bunuh saja aku Mas, jika kepercayaan itu tidak kamu miliki lagi di dalam hatimu!" Lisa berteriak sambil mengambil pisau pengupas buah. "Ayo, Mas. Lakukan. Aku tidak takut mati. Karena sebuah kejujuran." Suara Lisa serak.
Reka mengambil pisau itu ia kemudian melemparnya ke sudut kamarnya. "Jangan gila Lisa!" Reka malah membentak Lisa lagi. "Besok pagi, kita akan pergi memeriksa kesehatanku lagi, untuk membuktikannya semua," kata Reka, dan setelah mengatakan itu ia pergi membiarkan Lisa yang menangis semakin histeris.
*
*
"Dari mana saja kamu Reka? Dan kenapa kamu malah datang kesini malam-malam begini?" tanya Badrun ke Reka.
"Bapak, biarkan anak kita masuk dulu, mungkin dia kangen sama kita," kata Endang yang seperti biasa selalu membela Reka. "Bukannya senang Reka kesini, Bapak malah bertanya begitu." Endang cemberut ke arah Badrun.
"Bu, Bapak cuma tidak mau kalau Reka sampai seperti beberapa hari yang lalu. Pulang dalam keadaan mabuk dan diantar oleh seorang wanita." Badrun melirik Reka, yang melewatinya begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata.
"Reka semakin kesini, kenapa semakin kurang ajar? Orang tua bicara bukanya didengar malah pergi begitu saja," desis Badrun.
"Bapak jangan marah-marah, nanti penyakit Bapak bisa kumat lagi. Yang repot kan, Ibu." Endang memperingati Badun. "Biarkan saja Reka mau pulang ke sini atau rumah Lisa. Toh bukannya sama saja." Endang kemudian pergi menyusul Reka setelah mengatakan itu semua ke Badrun.
*
__ADS_1
"Reka, apa kamu punya masalah lagi sama Lisa? Sampai kamu pulang kesini." Endang duduk di sebelah Reka.
"Tidak, Reka cuma merasa anak yang dikandung Lisa itu bukan darah daging Reka." Reka merebahkan tubuhnya di kamar tempatnya dulu sering menyiksa Witma.
"Kenapa kamu bisa berpikir begitu Reka? Bukankah selama ini kamu dan Lisa sudah melakukan hubungan suami istri sebelum kalian menikah?" Endang melihat Reka. "Lalu sekarang kenapa kamu malah meragukan bayi itu?"
Reka kemudian menceritakan Endang tentang surat hasil kesehatannya. Yang menyatakan kalau Reka mandul.
"Tidak mungkin Reka, keluarga kita sehat-sehat semua tidak ada yang memiliki riwayat penyakit mandul," ujar Endang setelah mendengar penuturan Reka. "Dokter itu salah, kamu jangan pernah percaya ataupun pergi kesana lagi." Endang terlihat panik. Ia sepertinya mengetahui sesuatu.
"Siapa yang harus Reka percaya?" tanya Reka yang terlihat seperti orang b*doh.
"Kamu harus percaya sama Ibu, bukan orang lain karena Ibu yang sudah melahirkanmu dan merawatmu sehingga kamu bisa sampai seperti sekarang Reka." Endang membuat Reka semakin bingung. "Lebih baik kamu istirahat saja dulu di sini, nanti biar Ibu yang kasih tahu Lisa."
Reka mengiyakan Endang setelah itu memejamkan matanya. Ia berharap setelah memberitahu Endang tadi pikirannya menjadi sedikit tenang. Namun, kini pikirannya semakin tidak karuan ucapannya yang dulu mengatakan Witma mandul kini tengiang-ngiang di kepalanya.
*
*
"Apa air yang aku berikan itu sudah habis?" tanya Imah.
Lisa mengangguk. "Iya, Mbah. Air dalam botol itu sudah habis. Karena setiap hari aku selalu mencampurnya dengan minuman Reka," ucap Lisa. "Tapi bukannya menurut, sifat Reka malah terlihat seperti dulu yang dimana tatapan matanya terlihat jelas kalau dia mulai membenciku Mbah," sambung Lisa.
Imah memejamkan matanya sambil mengangguk-mengangguk tanda mengerti. "Pakailah susuk ini, supaya dia terpikat lagi oleh kecantikanmu." Imah membuka sebuah kotak kecil. "Susuk ini juga, bisa membuatnya kembali lagi menurut dengan apapun yang kamu ucapkan," ujar Imah.
"Pasangkan untukku Mbah, berapapun harganya akan aku bayar." Lisa terlihat bersemangat untuk memasang susuk pemikat itu.
Imah lalu tersenyum, sebelum melakukan ritual pemasangan susuk kepada Lisa.
__ADS_1
*
*
"Bu, apa Mas Reka datang kesini?" Lisa bertanya saat melihat Endang.
Endang yang mendengar suara Lisa langsung menoleh. "Nak, Lisa. Iya Reka ada di sini sekarang dia lagi tidur di kamar." Senyum ramah selalu saja terpancar jelas di bibir Endang. "Kamu kesini sendirian?"
"Iya, Bu. Ternyata Mas Reka tahu kalau dirinya man—"
"Sssttt, jangan kencang-kencang nanti ada orang yang mendengarnya." Endang langsung menarik pergelangan tangan Lisa. "Lebih baik kita bicara di dapur saja, disini tidak aman," bisik Endang.
Lisa mengangguk tanda setuju setelah itu ia berjalan ke arah dapur mengikuti Endang.
"Kamu tenang saja, Ibu sudah meyakinkan Reka kalau bayi yang kamu kandung itu darah dagingnya sendiri." Endang berkata begitu sambil celingak-celinguk. "Sekarang, tugas kamu harus bisa membuat Reka percaya."
"Tapi, Mas Reka mau memeriksa kesehatannya di dokter lain, apa yang harus Lisa lakukan, Bu?"
"Kamu punya banyak uang Lisa, kamu tinggal bayar dokter itu supaya mau menuruti permintaanmu. Dan masalah pun selesai," ujar Endang. "Ibu juga belum sempat berterima kasih kepadamu, atas tersingkirnya Wanita b*d*h itu."
"Itu semua juga berkat bantuan Ibu, kalau saja Ibu tidak merencanakan itu mungkin Wanita mandul itu masih menjadi maduku."
Ternyata selama ini Endang dan Lisa bersekongkol untuk menyingkirkan Witma dari kehidupan Reka.
"Apa laki-laki yang telah memperk*sa kamu itu ketemu?" tanya Endang.
Lisa berpura-pura bersedih saat mendengar pertanyaan Endang. "Lisa tidak bisa menemukannya sampai sekarang Bu, laki-laki brengsek itu memang sangat keterlaluan pokoknya dia akan mendapat balasan," lirih Lisa.
"Kamu yang sabar, Reka akan selalu ada buat kamu. Jangan bersedih lagi." Endang terlihat begitu baik kepada Lisa.
__ADS_1