
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Saudara Arash Zafran bin Andri Tafsan dengan adik saya yang bernama Witma Alya dengan maskawinnya berupa 100 gram emas, tunai.”
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Witma Alya binti Hermansyah dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai.”
Witma yang sedang asik melamun dan sedang berperang melawan isi otaknya yang begitu berisik sampai tidak sadar kalau Arash, suaminya sudah mengucapkan ijab qobul dengan suara lantang dan dengan satu tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu itu.
Semua yang ada di sana langsung berteriak mengucapkan kata sah.
"Sah …! Sah …! Sah …!" seru mereka berteriak serempak membuat Witma terperanjat.
Sehingga Witma mengucap istighfar dan juga langsung mengucap hamdalah di dalam benaknya.
"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri, silahkan Arash pasangkan cincin itu kejari Witma," kata Furqon.
Membuat Witma sempat terdiam, karena sepertinya ia kaget karena sang kakak memanggil nama suaminya dengan Arash.
"Tapi tunggu, cium dulu tangan suami kamu Witma dan kamu Arash tolong bacakan doa pada ubun-ubunnya," ujar Furqon memperingati Arash.
Arash mengangguk sambil memegang ubun-ubun Witma dan langsung membaca. "Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih."
__ADS_1
(“Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya").
Sumber : Google
Witma yang penasaran pada akhirnya memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk melihat suaminya setelah tadi doa itu selesai dibacakan, dan saat bola matanya bertemu dengan mata hazel milik Arash detik itu juga tatapannya menjadi buram ia lalu berkata, "Tidak mungkin tadi suranya, wangi farpumnya, nama dan juga sekarang wajahnya begitu mirip. Ini semua tidak mungkin!" Saking shocknya ia sampai pingsan.
Tapi untung saja Arash dengan siaga menagkap tubuh sang istri. "Ini yang aku takutkan kalau Witma pingsan setelah mengetahuinya kak." Arash merasa bersalah karena menuruti saran Furqon yang ingin memberikan Witma kejutan. Dengan cara begini menyembunyikan identitasnya dari Witma. "Bagimana ini kak, aku takut Witma akan membenciku hanya gara-gara ini."
"Tenang saja Arash, aku yakin Witma baik-baik saja dan tidak akan membencimu hanya karena masalah ini. Sekarang lebih baik kamu bawa saja dia ke mobil." Furqon sebenarnya juga cemas untuk saat ini. Namun, ia berusaha untuk tetap terlihat biasa saja.
"Baiklah kak, kalau begitu aku dan Tami akan pulang terlebih dahulu." Arash menimpali Furqon. "Ayo Tami, ikut aku biarkan saja kak Furqon yang akan mengurus para tamu undangan yang telah mau menjadi saksi."
Tami mengangguk lemah karena harapannya untuk minkah dengan Arash sudah lebur menjadi butiran debu. "Kenapa? Kak Witma selalu saja terlihat lebih menarik dari padaku. Padahal dia seorang janda." Ia bergumam di dalam hatinya. Sambil terus mengikuti Arash dari belakang ia juga tadi sempat terkejud karena mengetahai kalau ternyata calon kakak iparnya adalah Arash. Laki-laki yang selama ini ia sebut namanya di setiap malam.
Arash terus saja bedoa supaya tidak terjadi apa-apa dengan Witma. "Witma, bangunlah supaya aku bisa menjelaskan semua ini kepadamu," ucapnya lirih di daun telinga Witma. "Maafkan aku, karena telah melakukan ini semua dengan cara begini menikahmu dengan status yang aku sembunyikan." Ia melepas gengaman tangannya dari tangan Witma. Karena saat ini ia ingin mencari minyak kayu putih berharap setelah Witma mengirup aorma khas minyak kayu putih akan membuat sang istri sadar. "Tunggu sebentar, aku mau mencari minyak kayu putih mungkin di kamar Mama dan Papa ada." Ia lalu beranjak dengan perasaan yang masih tidak tenang.
Namun, saat dirinya akan sampai di ambang pintu Tami sudah terlebih dahulu memberikannya sebotol kecil minyak kayu putih.
"Ini kak, maaf tadi Tami pergi nggak bilang-bilang karena Tami habis beli ini di warung depan." Tami memaksakan bibirnya untuk tersenyum meski hatinya saat ini terasa begitu perih dan sakit.
"Terima kasih Tam, tadinya aku … ah, maksud kakak." Arash akan mencoba membiasakan diri untuk memanggil dirinya sendiri dengan sebutan kakak di depan Tami. "Begini maksud kakak, tadinya kakak berniat mau cari minyak kayu putih ke kamar sebelah tapi kamu tiba-tiba datang membawa ini." Ia membalas ucapan Tami dengan cara tersenyum juga. "Kakak mau minta tolong, apa kamu bisa oleskan ini sedikit saja ke hidung kakak kamu?" Arash menyerahkan kembali minyak kayu putih itu kepada Tami dengan cara memegang tangan Tami supaya telapak tangannya terbuka. "Mau menunikan sholat zuhur dulu, Tami bisa bantu kakak 'kan?"
__ADS_1
"Bisa, kak Arah pergi saja sholat biar Tami yang akan menjaga Kak Witma dan akan mengoleskannya ini," jawab Tami.
"Nanti kalau kakak kamu bangun cepat beri tahu kakak ya, kebetulan di dekat ruang tamu ada telpon rumah kamu bisa menggunakan itu untuk menghungi kakak," ucap Arash berpesan kepada Tami sebelum ia pergi.
"Tami akan menghubungi kakak dengan segera kalau Kak Witma sadar nanti," balas Tampi menimpali Arash.
*
"Ma, Mama mau kemana?" tanya Arah saat melihat mamanya ketika ia baru saja pulang sholat dari mushola.
"Arash, Mama mau kerumah kamulah ada yang ketinggalan di dalam kamar kamu waktu itu," jawab Rose mamanya Arash. "Kamu baru pulang sholat?" Gilian Rose yang bertanya kepada Arash.
"Iya Ma, aku baru pulang sholat zuhur. Dan kalau boleh tahu apa yang ketinggalan di kamar aku itu? Biar aku bisa mengambilnya untuk Mama karena kebetulan hari ini rumah itu sedang aku ganti warna cat temboknya." Ini alasan yang paling tepat untuk Arash menggagalkan rencana Rose untuk pergi kerumahya. Karena ia tahu Rose akan selalu bersin-bersin jika mencium bau cat rumah sehingga itu yang membuatnya membenci cat.
"Kamu ini gimana sih Arash, cat rumah kamu yang warnanya itu sudah bagus lho, kenapa kamu malah menggantinya lagi?"
Arash menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil memikirkan jawaban yang tepat. "Begini Ma, aku 'kan mudah bosan melihat warna yang itu-itu saja jadi, aku berinisiatif untuk mengganti warnanya." Ini jawaban yang menurutnya paling logis. "Apa Mama masih mau pergi ke sana?"
"Tidak jadi, Mama pulang saja," kata Rose sambil memutar balik motor meticnya. "Tunggu dulu Arash, Mama sekarang minta sama kamu cari saja di laci meja kamu itu ada beberapa lembar foto teman anak Mama dan Mama harap kamu sudah mengerti maksud dari kalimat Mama ini."
"Arash sudah punya calon pilihan sendiri Ma, jadi jangan main jodoh-jodohan deh." Arash tidak mau memberitahu Rose tentang dirinya yang telah menikahi Witma secara diam-diam.
__ADS_1
......................