
Setelah tiba di alamat itu Witma langsung saja mengetuk kamar dengan nomor 304. Tidak perlu menunggu terlalu lama karena pintu kamar itu terbuka begitu saja. Seketika tungkai kaki Witma terasa lemas di saat melihat Reka hanya menggunakan handuk sedangkan Lisa masih berbaring sambil menutup diri dengan selimut.
Reka yang melihat Witma berdiri di ambang pintu tidak merasa kaget ia malah bertanya, "Witma, sedang apa kamu di sini?"
Bulir-bulir bening mulai membasahi pipi Witma, ia juga beberapa kali mencubit tangannya sendiri berharap ini semua hanya mimpi. Untuk yang pertama kali Witma tidak menjawab pertanyaan Reka ia malah mengabaikannya karena saat ini ia sedang fokus melihat ke atas kasur di mana Lisa tersenyum puas di sana. Meskipun pandanganya buram dikarenakan air matanya yang menetes.
"Witma! Kenapa kamu diam saja?" tanya Reka sekali lagi sambil menarik pergelangan tangan Witma agar masuk ke dalam, karena ia tidak mau orang-orang yang berlalu lalang melihatnya marah-marah kepada Witma.
"Mas, apa yang telah kamu lakukan di belakangku?" Witma menatap kedua netra Reka. "Kenapa kamu tega sekali melakukan ini semua di belakangku?" Witma melihat dada Reka yang penuh dengan tanda merah, itu semakin membuat darahnya mendidih. "Apa salahku, Mas? Kurang apa aku?"
"Kau mandul, tidak bisa memberikan Reka keturunan. Jadi, lebih baik kau sadar diri." Lisa berbicara seolah-olah ialah wanita yang paling sempurna. "Kau cukup terima kenyataan, karena sebentar lagi aku dan Reka akan memiliki anak."
Bagai disambar petir di pagi buta begini, Witma hampir saja jatuh jika saja dirinya tidak bersandar di tembok. Ia merasa dunianya seolah berhenti berputar saat mendengar kalimat Lisa.
"Reka kasih tahu istrimu yang madul ini, kalau sebentar lagi kita akan memiliki anak. Mungkin dia tidak percaya jika kalimat yang tadi keluar dari mulutku sendiri itu memang benar apa adanya." Lisa semakin membuat Witma merasa kesulitan untuk sekedar bernafas.
"Mas, jadi … ini pekerjaan yang kamu maksud?" tanya Witma dengan suara bergetar. Ia merasa kekurangan pasokan oksigen.
"Sudahlah, nanti kita bahas di rumah," kata Reka. "Hapus air mata murahanmu itu, aku tidak suka melihatnya." Reka kemudian membuka handuk itu dan tanpa rasa malu memasang celananya disana.
Tapi siapa sangka Lisa turun dari ranjang, dengan membawa selimut menghampiri Reka. "Biar aku yang memasangnya untukmu, Sayang." Lisa berlutut di depan Reka sambil berkata, "Tidak usah malu, bukankah semua yang ada pada tubuhmu sudah aku lihat semua." Lisa sengaja membuat Witma semakin merasa tidak nyaman.
Witma yang tidak terima dengan langkah lebar mendorong bahu Lisa, sehingga Lisa terjatuh dan meringis. "Hentikan, Lisa! Apa kamu tidak malu melakukan ini semua di depan istri sah Mas Reka." Nafas Witma naik turun menahan emosinya. "Dasar pelakor!" pekik Witma.
__ADS_1
Pada saat itu juga telapak tangan kekar Reka lagi-lagi menampar pipinya. "Apa-apakan kamu Witma, dia ini calon ibu dari anak-anakku dia bukan pelakor." Reka mendorong Witma sampai Witma mundur beberapa langkah. "Kita selesaikan di rumah, kamu lebih baik pulang!" seru Reka menyuruh Witma pulang.
Witma memegang pipinya. "Mas, dugaanku selama ini benar kalau ternyata kamu selingkuh di belakangku," ucapan Witma tidak di hiraukan oleh Reka. Karena Reka terlihat sedang membantu Lisa untuk berdiri.
"Lisa, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Reka pada Lisa sambil membantunya untuk berdiri. "Mana yang sakit?"
"Usir wanita mandul itu, aku muak melihat wajahnya!" Suara Lisa menggelegar di kamar itu.
"Witma pulang! Sebelum kesabaranku habis." Reka lalu mengambil ikat pinggangnya. "Sabuk ini sudah lama sekali tidak bersentuhan dengan kulit mu, apa kamu mau di cam—"
Witma tanpa permisi keluar dari kamar tersebut, sehingga kalimat Reka menggantung di udara.
*
*
Lisa menggeleng. "Mama dan papa tidak akan marah jika Reka, eh … maksud aku Mas Reka mau tanggung jawab." Lisa menatap Witma yang hanya menunduk lesu.
"Tenang saja, Reka pasti akan bertanggung jawab." Endang mengelus tangan Lisa. "Kapan Nak, Lisa mau dilamar?" tanya Endang tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Witma.
"Bukankah lebih cepat lebih baik Bu," kata Lisa menjawab pertanyaan Endang. "Karena aku takut, perut ini akan semakin membesar."
Witma yang mendengar itu berdiri dan mendobrak meja, ia tidak terima dengan apa yang dikatakan Lisa. Karena selama ini ia tahu kalau yang mandul itu Reka bukan dirinya. "Tidak, Witma tidak setuju. Karena itu bukan anak Mas Re—"
__ADS_1
"Apa-apaan kamu Witma, duduk! Tidak ada yang meminta pendapat darimu." Reka menunjuk Witma. "Duduk! Kamu cukup mendengar keputusan dariku!" bentak Reka.
Lisa dan Endang tersenyum puas saat Reka membentak Witma, seolah mereka senang melihat Witma dalam keadaan sedih begini. Beda halnya dengan Badrun yang hanya diam saja di pojokan paling ujung. Karena ia tidak bisa berbuat apa-apa di saat mengetahui Reka menghamili Lisa.
"Reka serahkan semuanya kepada Ibu, karena keputusan Ibu tidak pernah salah," ujar Reka.
"Baiklah Reka, tapi Ibu minta kepada Nak, Lisa supaya tidak mengadkan pesta yang besar-besaran. Karena Lisa bisa lihat sendiri keadaan Ibu dan Bapak seperti ini." Endang berpura-pura bersedih saat mengatakan itu.
"Tidak masalah, biar Lisa yang menanggung biaya itu semua. Ibu dan Bapak cukup menentukan harinya saja." Lisa mengeluarkan sejumlah uang dari dalam tasnya. "Ini cukupkan, biaya pembuatan undangan." Lisa meletakkannya di atas meja. "Sisanya buat Ibu perawatan, supaya Ibu terlihat cantik di hari H."
Dengan gerakan cepat, Endang mengambil uang yang Lisa berikan. "Terima kasih Nak, Lisa. Ini lebih dari cukup kamu memang calon menantu idaman." Endang memuji Lisa secara terang-terangan di depan Witma. "Jaga calon cucu kami, supaya dedek bayi keluar dalam keadaan sehat." Endang mengelus perut Lisa yang masih datar.
"Kalau begitu aku pulang dulu, Ibu tolong jaga Mas Reka buat aku, ya." Lisa mencium telapak tangan Endang. Setelah itu mendekat ke arah Badrun. "Bapak juga tolong jaga kesehatan, ini ada sedikit uang buat beli obat." Lisa ingin meraih tangan Badrun. Tapi dengan cepat Badrun mengibaskan tangannya.
"Bapak, Lisa itu calon menantu kita. Jangan bersikap tidak sopan begitu." Endang menatap tajam Badrun. "Bukankah Bapak sudah tahu, Lisa itu wanita baik-baik. Jadi Bapak tidak perlu berpikiran buruk tentang Lisa."
"Wanita baik-baik, tidak akan pernah merusak kebahagian rumah tangga orang lain." Badrun berdiri sambil berkata, "Witma, masuk ke dalam kamarmu Nak, disini hanya akan membuat luka di hatimu semakin bertambah."
"Lisa wanita baik Pak, ini semua salah Witma jika saja dia tidak mandul pasti Reka tidak akan pernah selingkuh dengan Lisa sampai bisa hamil begini." Endang masih saja membela Lisa. "Dan buat apa Bapak menyuruh Witma masuk, hari ini dia ada jadwal untuk masak buat syukuran keluarga kita. Jadi, dia tidak punya waktu bersantai-santai."
Badrun yang akan melangkah tiba-tiba saja memegang perutnya. "Ibu, sudah benar-benar sangat keter—" ucapan Badrun terpotong di saat dirinya jatuh tersungkur.
"Bapak!" seru Witma, ia terlihat begitu panik.
__ADS_1
Bersambung.