
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba hari dimana Witma akan melepas masa jandanya untuk selamanya. "Bismillah, Allah lebih tahu jalan hidup hambanya seperti apa dan bagaimana maka akan hamba serahkan ini semua kepada Engkau Sang pemilik alam semesta," ucap Witma sambil memakai cadarnya setelah tadi wajahnya ia poles sedikit menggunakan make up secara tipis. "Ibu, anakmu ini akan menikah untuk yang kedua kalinya. Aku harap Ibu merestuinya," gumamnya pelan saat menatap foto Ratih yang ada di depan meja riasnya. "Semoga Ibu di atas sana tidak kecewa dengan keputusanku ini, karena telah memilih menikah dengan laki-laki yang sama sekali belum aku kenal."
Tanpa ia sadari bulir bening menetes begitu saja dari kedua sudut matanya. Rasa sesak di dadanya kian menjadi-jadi di saat ia mengingat bagaimana dulu sang ibu begitu bahagia di saat dirinya dan Reka akan menikah. Namun, untuk kali ini hanya ada Tami dan Furqon yang akan menemaninya tanpa sosok ibu seperti dulu ketika ia menikah dengan Reka. "Jangan goyahkan hati hamba Ya Allah, hamba mohon kuatkan dengan cara meyakinkan hamba bahwa jodoh adalah cerminan dari diri kita yang telah Engkau turunkan untuk hamba." Ia menatap dirinya melalui pantulan cermin saat itu juga ia merasa ini bukan seperti dirinya sendiri memakai kebaya berbentuk gamis yang berwarna putih polos dan dilengkapi dengan hiasan seperti mutiara di dekat lehernya ia terlihat begitu elegan.
(Foto nyomot dari google).
Tiba-tiba suara ketukan pintu membuat dirinya menoleh, terlihat Furqon sudah sangat rapi dengan setelan jasnya yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Apa kamu sudah siap? Kalau sudah siap ayo kita berangkat saja sekarang, karena mobil jemputan kita sudah datang dari tadi dan saat ini ada di depan." Furqon bertanya kepada Witma apakah sudah siap karena mobil jemputan dari pembelai laki-laki sudah datang.
"Iya Kak, aku sudah siap," jawab Witma dengan suara lirih. "Tapi tunggu dulu, dimana Tami?" Ia menanyakan keberadaan sang adik karena dari tadi ia tidak melihatnya.
"Tami sudah masuk kedalam mobil, kamu tidak usah khawatir dia ketinggalan," jawab Furqon menimpali Witma. "Kakak tunggu kamu di dalam mo–"
"Kita sama-sama masuk ke dalam mobil Kak," potong Witma karena ia ingin segera acara akad nikahnya ini selesai meskipun tidak ada resepsi. Namun, sebelum itu ia sempat mengusap air matanya yang tadi menggunakan tisu. "Ini air mata bahagia Kak, karena sebentar lagi Adik, Kakak yang selalu saja menyusahkan dan merepotkan ini akan menikah lagi untuk yang kedua kalinya," sambungnya.
__ADS_1
Furqon menggeleng. "Kakak tidak pernah merasa kalau kamu itu menyusahkan apalagi merepotkan jadi, jangan berpikiran begitu," balas Furqon menimpali ucapan Witma. "Kalau begitu ayo, kasihan sopirnya karena sudah lama menunggu kita."
Witma mengangguk sebagai responnya mengiyakan Furqon.
***
"Dimana calon pembelai laki-lakinya, Pak Furqon?" Penghulu itu bertanya saat melihat hanya ada Witma saja yang duduk di depannya saat ini.
"Tunggu sebentar Pak penghulu, mungkin calon ipar saya sedang dalam perjalanan menuju kesini." Furqon menjawab begitu supaya beberapa orang-orang yang hadir sebagai saksi tidak pada bubar karena ini sudah setengah jam lamanya mereka semua menunggu.
Sedangkan Witma mulai merasa cemas, ia berpikir bahwa pernikahan ini pasti akan gagal karena calon pembelai laki-lakinya sampai sekarang belum datang juga. "Ya Allah, kenapa niat baik seperti ini selalu saja ada drama calon pembelai laki-lakinya telat datang atau malah sengaja tidak datang karena ingin menghindari pernikahan ini?" gumamnya bertanya di dalam benaknya. "Apa mungkin juga? Dia baru sadar kalau yang akan dinikahi ini seorang janda, makanya dia berubah pikiran dan membatalkan ini semua," lanjutnya lagi membatin.
"Iya, benar apa kata Kak Furqon," sahut Tami dari arah samping menimpali. "Kakak tidak usah berpikiran buruk sebentar lagi pasti calon kakak ipar akan datang." Ia juga berusaha membuat hati Witma supaya menjadi tenang.
"Bagaimana ini Pak Furqon? Saya juga masih ada acara di tempat lain." Penghulu itu tiba-tiba saja berkata begitu semakin membuat perasaan Witma tidak tenang. "Kalau tahu akan terlambat begini, lebih baik saya pergi kesana dulu tadi," ujar penghulu itu karena ia merasa sudah terlalu lama menunggu.
"Sebentar lagi Pak, pasti dia akan dat–"
__ADS_1
"Assalamualaikum, maaf tadi dijalan macet makanya saya terlambat," ucap seseorang memotong kalimat Furqon.
Semua yang ada di sana langsung serempak menjawab salam laki-laki yang akan menjadi suami Witma itu. "Waalaikumsalam." Mereka semua juga menjadi lega saat melihat laki-laki yang begitu gagah menggunakan setelan jas berwarna putih sama seperti warna baju kebaya gamis yang di kenakan oleh Witma saat ini.
Witma langsung menunduk ia tidak berani mengangkat wajahnya apa lagi melirik laki-laki yang akan menjadi pendamping hidupnya. "Selamat tinggal masa lalu, semoga kau tidak mengikuti langkahku," batinnya.
"Saya sekali lagi meminta maaf, buat semuanya apa lagi buat kelaurga calon pembelai perempuannya dan juga buat Bapak penghulu. Di jalan tadi memang benar-benar macet makanya saya bisa terlambat sampai sekarang." Laki-laki itu datang hanya sendiri tanpa ada keluarga yang mendampinginya.
Witma mematung saat ia baru menyadari bahwa suara laki-laki itu tidak asing di indra pendengarannya.
"Seperti suara kak Arash, tapi tidak mungkin dia 'kan?"
"Apa ini karena aku terlalu merasa berhutang budi kepadanya, sampai-sampai suara calon suamiku sendiri aku mendengarnya seperti suara kak Arash?"
"Ada apa denganku, kenapa malah memikirkaan laki-laki lain? Di saat aku sebentar lagi akan bergelar status sebagai seorang istri."
"Ya Allah, maafkan hamba ini yang masih saja memikirkan laki-laki lain. Hamba mohon b*nuh saja rasa yang sempat tumbuh di dalam hati ini." Ia terus saja bergumam di dalam benaknya.
__ADS_1
"Baiklah sebelum kita mulai, ada beberpaa hal yang perlu saya tanyakan," kata penghulu itu memecah keheningan. "Pembelai laki-laki silahkan duduk dulu di sebelah pembelai wanitanya," ujarnya.
Saat laki-laki itu duduk di sebelahnya, Witma semakin memunduk. Namun, lagi-lagi ada yang memgusik indara penciumannya. "Parfum ini juga wanginya sangat tidak asing, tapi ... bukankah di dunia ini bukan cuma kak Arash saja yang memiliki parfum itu?"