
Dina begitu antusias ketika melihat Witma baru turun dari kang ojol, ia sampai melempar lap yang ia gunakan untuk mengelap meja, kemudian ia berlari kegirangan seperti anak ayam yang melihat induknya saking senangnya Witma sudah masuk bekerja lagi. Ia juga tanpa aba-aba berhambur ke dalam pelukan Witma.
"Aku sangat merindukan tawamu wahai sahabatku," kata Dina dengan suara yang buat sesedih mungkin. "Kenapa juga ponselmu tidak pernah aktif, apakah takut terganggu hari-hari liburanmu oleh temanmu ini?"
Witma yang kesulitan untuk bernafas karena Dina memeluknya begitu erat hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mencubit kecil lengan Dina. "Lepaskan dulu, aku kesulitan untuk bernafas untuk saat ini karena kamu terlalu erat memelukku," ujar Witma berharap Dina melepaskan pelukannya.
Dina yang sadar akan hal itu langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Witma. "Sorry, sorry … aku saking kangennya tau makanya sampai hilang kendali dalam memelukmu," balas Dina menimpali Witma. "Kalau begitu ayo masuk, karena aku dengar-dengar bos mulai sekarang akan datang setiap hari kesini untuk mengecek para karyawannya yang rajin." Ia lagi-lagi terlihat begitu ceria dan bersemangat ketika mengatakan itu. "Kamu sebentar lagi akan bisa melihat bos yang selalu aku ceritakan itu, bos yang sangat tampan rupawan sehingga ketika aku melihatnya keluar bentuk love dari mata ini," selorohnya sambil menunjuk matanya.
"Semoga dia jodohku, semoga juga malaikat lewat dan mencatat ucapanku yang tadi bahwa jodohku itu adalah bos kita." Sambil berjalan masuk ke cafe Dina tidak henti-hentinya membayangkan wajah Arash. "Jika aku menikah dengannya nanti, maka aku akan langsung mengangkatmu menjadi kepala pelayan disini yang kerjanya cuma nyuruh-nyuruh bawahannya saja dalam bekerja tapi gajinya waw sangat luar biasa."
Witma hanya bisa diam saja dan beberapa kali mengangguk saat mendengar deretan kalimat Dina. Ia juga beberapa kali pura-pura tersenyum supaya Dina tidak curiga. "Apa kamu yakin kalau bos kita belum menikah?" tanya Witma ingin mencoba memancing bagaimana reaksi Dina.
"Iya dong, aku yakin Pak Arash belum menikah karena dia 'kan jodohku," jawab Dina santai. "Tapi …jika dia sudah menikah pun tidak apa-apa karena aku akan ikhlas dunia akhirat bila dimadu olehnya, asalkan dia akan menjadikan aku yang pertama meski aku istri keduanya," sambungnya lagi. Sehingga membuat Witma menggelang-gelang kan kepala. "Kenapa, apa aku salah dalam berucap?"
"Begini aku akan memberitahumu bagaimana rasanya jika dimadu." Witma melirik kiri dan kanan dulu sebelum melanjutkan kalimatnya. "Dimadu itu tidak seindah yang kamu bayangkan, karena madu tidak semanis ma–"
"Assalamualaikum, pagi semua, apa kabar apa kalian semua sehat?" Tiba-tiba Arash datang sambil mengucapkan salam dan bertanya bagaimana kabar para pekerjanya.
"Waalaikumsalam, kami semua sangat baik Pak Arash apalagi sekarang bapak akan setiap hari kesini untuk mengawasi kami," jawab Dina dengan suara yang paling lantang. "Kami semua akan semakin giat dalam bekerja jika Pak Arash selalu mengawasi pekerjaan kami."
Arash tersenyum sehingga dapat membuat lilin menjadi meleleh. "Bagus, Dina adalah salah satu pelayan di cafe ini dengan rating terbaik, pokoknya seratus persen buat kamu Dina jangan lupa tetap semangat dalam bekerja." Arash berbicara dengan Dina tapi arah matanya selalu saja menatap Witma. "Kalau begitu saya masuk ke dalam ruangan saya dulu, dan
__ADS_1
saya minta pelayan baru silahkan menghadap ke ruangan saya segera."
Witma menunjuk dirinya sendiri. "Cuma aku pelayan baru disini jadi, apa aku yang disuruh menghadap ke ruangannya?" tanya Witma berbisik pada Dina yang ada di sebelahnya.
"Iya, kamu buruan masuk deh, tapi jangan lupa titip salam rindu buat Pak Arash." Dina juga berbisik saat menjawab Witma. "Ingat jangan sampai lupa."
"InsyaAllah, aku orangnya pelupa," sahut Witma dengan perasaan yang ada rasa sedikit cemburu. "Aku kesana dulu, kamu boleh lanjut mengelap meja nanti aku yang bagian mengepel," ujarnya.
"Oke, kamu buruan masuk gih." Dina mendorong sedikit tubuh Witma. "Semoga gajimu tidak dipotong."
***
Setelah berada di dalam ruangan Arash, Witma hanya disuruh duduk sambil memperhatikan sang suami yang masih fokus dalam mengetik laporan keuangan pendapatan bulan lalu.
"Sayang, sebentar saja tunggu sampai pekerjaan abang selesai karena kamu itu adalah mood booster abang dalam bekerja mencari nafkah." Arash rupanya tidak mau membicarakan Witma keluar dari ruangannya. "Mereka tidak akan curiga karena abang selalu memperlakukan pelayan baru seperti ini."
"Dirumah waktu kita 'kan sudah banyak jadi, ayolah abang biarkan saja aku keluar untuk bekerja kasihan yang lain mereka bekerja sedangkan aku malah enak-enakan hanya duduk di sini." Witma cemberut saat mengatakan itu.
"Tidak apa-apa karena kamu adalah istri pemilik cafe ini jadi, siapa yang akan berani melarangmu?"
Saat Witma akan berdiri tiba-tiba suara ketukan pintu dari luar terdengar.
__ADS_1
"Duduklah, biar abang yang membuka pintunya itu pasti Kak Alma di dengar dari suara ketukannya yang berbeda." Arash lalu beranjak ingin membuka pintu.
Tapi tidak lama Witma dengan cepat menahan tangan Arash. "Biarkan aku bersembunyi di toilet dulu, karena aku belum mempunyai nyali buat bertemu dengan kak Alma." Witma berharap Arash akan setuju membiarkannya untuk bersembunyi di toilet. "Abang, oleh 'kan?"
"Jangan di toilet abang tidak setuju, lebih baik sembunyi di dalam ruang ganti abang." Arash lalu menekan tombol yang terdapat di bawah mejanya. Saat itu juga dinding tembok mulai tergeser dengan sendirinya. "Sekarang masuklah, nanti kalau Kak Alma sudah pergi abang akan membukanya lagi."
Witma melongo karena baru kali ini melihat ruang ganti yang dimaksud oleh Arash. Terlihat seperti tembok biasa tapi siapa sangka di balik tembok itu ada sebuah kamar yang ukuranya tidak terlalu sempit dan tidak terlalu luas dan sepertinya terlihat sangat nyaman.
"Sayang, masukin jangan bingung begitu," ucap Arash yang membuat Witma terlonjak kaget karena ia sadar telah mengagumi kamar itu.
Witma lalu mengangguk sambil berjalan masuk dan setelah ia masuk pintu yang didesain mirip tembok itu tertutup sempurna bersamaan dengan itu Alma masuk dengan wajah yang begitu sembab.
_
"Mau apa lagi Kakak datang kesini?"
"Mama masuk rumah sakit, karena penyakitnya kumat lagi gara-gara perbuatanmu Arash." Alma tanpa banyak bicara melempar hasil laporan penelitian dari rumah sakit. "Penyakit Mama semakin parah, kemungkinan umurnya sudah tidak lama lagi." Ia masih tetap berdiri saat mengatakan itu. "Temui Mama untuk meminta maaf sebelum kamu menyesal Arash."
Arash tiba-tiba tertegun saat mendengar itu semua. Bayangan Rose yang terbujur kaku terlihat jelas di pelupuk matanya.
...****************...
__ADS_1
Mampir juga ke karya temanku ya kak😊 yang ada di atas pokoknya rekomen banget😍