
"Lihat menantu kesayangan Bapak malu-maluin, bisa-bisanya dia pingsan di depan orang banyak," gerutu Endang.
"Bu, Witma lelah bukan fisiknya saja. Tapi mentalnya juga." Badrum menimpali Endang. "Cobalah Ibu yang ada di posisi Witma, maka Ibu akan tahu bagaimana perasaannya saat ini."
"Cukup! Bapak memang lebih sayang kepada wanita mandul ini!" ketus Endang yang langsung keluar dari kamar Witma.
Badrun mengelus dadanya, ia saat ini merasa bersalah karena tidak bisa mendidik Reka dan istrinya dengan baik dan benar. "Witma, bangun Bapak sangat mencemaskanmu." Badrun mengoles sedikit minyak kayu putih di hidung Witma. "Wanita baik sepertimu seharusnya tidak menikah dengan Reka yang kasar dan sering main tangan," gumam Badrun pelan.
Tidak lama adik Reka yang nomor tiga bernama Salsa masuk ke kamar Witma. "Bapak ikut ke hotel atau nggak?" tanyanya. "Karena Ibu sama Kak Reka dan yang lainnya akan segera berangkat," sambungnya.
Witma yang terusik mendengar suara cempreng Salsa perlahan mulai membuka matanya. "Bapak, Salsa," panggilnya pelan.
Badrun yang melihat Witma sudah sadar tersenyum lega. "Alhamdulilah, kamu sudah sadar Nak."
"Maaf Witma sudah membuat Bapak khawatir." Witma mencoba untuk bangun. Tapi kepalanya yang masih terasa pusing membuatnya kembali berbaring. "Kepala Witma masih sakit Pak." Witma merasa tidak enak di saat melihat di tangan Badrun ada minyak kayu putih. Karena ia merasa seharusnya dirinya yang merawat dan menjaga Badrun bukan malah dirinya yang membuat Badrun menjaga dirinya seperti saat ini.
"Nak Witma istirahat saja dulu, dan tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting." Badrun sepertinya tahu apa yang ada di dalam pikiran Witma. "Jika Nak Witma butuh sesuatu, panggil saja Bapak." Badrun sekarang berpindah melirik Salsa yang masih betah berdiri di abang pintu. "Salsa, Bapak minta tolong dorong kursi rodanya. Bapak mau keluar," pinta Badrun yang mendapat anggukan dari Salsa.
"Baik Pak," balas Salsa
*
__ADS_1
*
Beberapa hari kemudian setelah Reka pulang dari hotel.
"Ikut dan tinggalah bersama kami," ujar Lisa saat melihat Witma baru saja selesai sholat magrib. Namun, Witma mengabikan ucapannya. Sehingga ia menyuruh Reka yang mengatakan itu ke Witma. "Mas biar kamu saja yang memberitahunya." Lisa menyenggol siku Reka.
"Kemas pakianmu, dan jangan sampi kamu membuatku menunggu!" Reka melempar koper ke tas kasur. "Jangan berlagak tuli Witma! Lakukan apa yang aku perintahkan sekarang juga!" pekik Reka.
"Aku tinggal di sini saja Mas, karena aku merasa tidak pantas tinggal di rumah Lisa yang be—"
"Siapa yang menyuruhmu menolak?" tanya Reka memotong ucapan Witma. "Kemes sekarang!!" Suara Reka membentak Witma membuat Lisa merasa senang.
Witma menghembuskan nafasnya dengan kasar. Tidak ada pilihan lain selain menurti permintaan Reka karena ia tahu Reka akan semakin murka jika di tentang terus. "Baik, Mas bisa tunggu Witma di luar saja dulu." Witma membuka muknanya tidak lupa ia melipatmya juga. "Semoga menikah dengan Lisa bukan keputusan keliru yang Mas Reka ambil," gumam Witma yang dapat di dengar oleh Lisa, sedangkan Reka sudah pergi dari tadi.
"Lisa, dimata Allah kita semua sama saja. Jadi, apa yang ingin kamu sombongkan?" tanya Witma tersenyum getir. " Aku memang miskin harta tapi tidak miskin dengan adab dan sopan santun." Witma membalas ucapan Lisa dengan nada suara lembut. "Dan untuk kamu yang ingin memiliki Mas Reka seutuhnya, aku akan membantumu lewat doa."
Lisa yang bermaksud membuat Witma kesal, malah dirinya yang terlihat kesal sekarang. "Mandul," ejeknya sambil menjulurkan lidahnya.
"Jangan sampai kata mandul itu kembali pada dirimu Lisa." Witma tetap bicara lemah lembut.
Lisa memegang perutnya. "Apa? Mandul katamu, apa aku tidak salah dengar?" Lisa kemudian dengan bangga mesingkap dresnya sehingga Witma bisa melihat perutnya yang terlihat sedikit sudah berisi. "Omong kosong macam apa itu, apa kau belum juga paham kalau disini ada bayi Mas Reka!" Lisa mendekat dan berbisik di telinga Witma. "Mandul hanya untuk orang yang tidak bisa hamil seperti kau!" Lisa yang terlanjur kesal ingin menarik rambut Witma namun suara Reka membuatnya mengurungkan niatnya ia lalu berkata, "Awas! Kau mandul!"
__ADS_1
*
*
Di tengah perjalanan Lisa tidak sengaja melihat cafe saat itu juga otaknya mendadak memiliki ide. "Sayang, sudah beberapa hari ini aku ngidam makan di dalam cafe itu." Lisa menunjuk cafe di pinggir jalan. "Hentikan mobilnya, kita makan dulu. Boleh ya?"
"Boleh dong, ayo kita turun," sahut Reka yang megajak Lisa turun.
Lisa menoleh ke belakang dimana Witma sedang duduk sambil membaca Al-Qur'an. "Witma, mau ikut atau ti—"
"Aku diam di sini saja," potong Witma cepat. Tanpa mengangkat wajahnya.
"Tidak bisa, kamu harus ikut," sergah Lisa.
"Ayo Witma, jangan membuat aku merasa menjadi istri kedua yang tidak tau diri."
Witma menghela nafas. "Baiklah, aku ikut." Witma mengalah karena ia tidak mau gara-gara hal begini Reka akan memarahinya di tempat umum seperti ini.
"Kenapa permintaan calon bayi kita aneh sekali? Ingin makan di Cafe pinggir jalan begini." Reka turun dari Mobil dan segera membukakan pintu untuk Lisa. "Silahkan turun calon Ibu dari anak-anakku."
"Terima cacih Papa." Lisa menirukan suara anak kecil.
__ADS_1
Jangan di tanya seperti apa perasaan Witma saat ini. Ketika melihat Reka begitu perhatian kepada Lisa.