Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Isi Hati Masing-Masing


__ADS_3

"Tetaplah bersamaku walaupun, ujian dan cobaan di depan sana masih menunggu kita untuk di lewati bersama." Arash mengatakan itu untuk memperingati Witma. "Aku berharap juga kamu tidak akan memiliki niat untuk berpaling dariku seperti dulu." Ia rupanya sangat takut jika Witma berpaling seperti dulu darinya.


"Abang, aku akan berusaha untuk tetap berdiri di samping abang, meskipun badai kehidupan akan selalu menjadi cobaan dan ujian dalam rumah tangga kita." Witma membalas ucapan Arash. "Andai abang tahu bahwa saat ini akulah yang takut jika nanti abang berpaling dariku karena aku sadar diri, tentang siapa aku ini dan apa statusku yang menikah dengan abang yang masih bujang." Ia saat ini sedang mengeluarkan isi hatinya di saat ia tidak sengaja melihat banyak sekali foto wanita yang sangat cantik dan begitu b*hay di dalam laci saat ia tadi disuruh Arash untuk menaruh buku nikah mereka.


Arash langsung mengusap kepala Witma yang masih menggunakan hijab dengan tangan kanannya karena saat ini tangan kirinya masih betah memeluk pinggang Witma. "Look at me …," katanya dengan suara lembut.


Witma mendongak saat mendengar perkataan Arash dan pada saat itu juga dua pasang bola mata indah mereka saling bertemu.


"Aku sudah terlalu lama menunggumu Witma untuk menjadi istriku seperti sekarang ini jadi, buat apa kamu harus takut tentang aku yang akan berpaling ke lain hati?" tanya Arash saat mata mereka masih saling menatap sendu. "Bukankah kamu juga sudah tahu sendiri mengapa aku sampai rela menunggu jandamu, karena aku yakin dan percaya kalau jodohku itu kamu meskipun aku bukan jodoh pertamamu."

__ADS_1


Arash kini beralih mengelus pipi Witma. "Aku menolak banyak wanita hanya demi kamu seorang Witma, apakah itu belum cukup menjadi bukti bahwa aku benar-benar tulus sayang dan cinta kepadamu sampai detik ini?" Ia hanya ingin memberitahu Witma tentang perasaannya yang dulu dan sekarang tidak pernah berubah ataupun memudar sedikitpun. "Sesetia itu aku kepadamu Witma, menunggu dirimu saat masih berstatus sebagai istri orang. Maafkan aku yang selama ini mencintai istri orang dalam diam tapi selaluku sebut namanya secara terang-terangan di hadaapan Sang pemilik alam semesta ini."


Witma hanya diam saja mendengar kalimat yang Arash lontarkan, ia tidak menyangka kalau ternyata Arash benar-benar sesetia itu kepadanya dan sekarang ini ia langsung membungkam karena ia tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar itu semua terucap dari mulut Arash.


"Maka dari itu aku minta kamu jangan pernah meragukan aku lagi, apa lagi sekarang kita sudah menjadi suami istri dalam ikatan pernikahan yang hanya dapat di pisahkan oleh kain putih." Arash sudah lama menunggu moment seperti ini dimana ia akan halal menyentuh Witma. "Sekarang tidurlah sepertinya kamu sudah ngantuk, lagipula kita masih memiliki banyak waktu untuk membahas masalah isi hati kita masing-masing seperti sekarang ini." Perlahan Arsah melepaskan pelukannya dan beralih memegang jari-jari Witma sambil membimbingnya naik ke atas kasur yang berukuran king zize dengan seprainya berwarna hitam bercampur putih seperti warna kesukaan Witma.


*


*

__ADS_1


"Sekarang Allah telah menunjukkan, kalau siapa laki-laki yang bisa membimbingku kejalan yang benar." Witma tersenyum getir saat wajah Reka yang selalu terlihat senang sesaat setelah mem*kulnya kini mulai terngiang-ngiang lagi di dalam ingatannya.


"Sayang," panggil Arash lembut saat melihat Witma duduk dan hanya diam saja seperti manekin di atas kasur. "Kenapa kamu terbangun?" tanyanya sambil terus mendekat ke arah Witma. "Sayang …," panggilnya sekali lagi. Namun, hasilnya sama kalau Witma tidak merespon dan pada akhirnya ia yang mengira Witma sedang kurang enak badan langsung mereba kening sang istri sesaat setelah ia duduk di pinggir ranjang.


Sedangkan Witma yang kaget sontak saja menepis tangan Arash dengan kasar. "Jangan, jangan … jangan! P*kul aku mas!" Witma membentuk silang pada kedua tangannya.


"Hai, ini aku suamimu Witma," Arash mencoba menenangkan Witma sambil terus membisikkan kata yang itu-itu saja di telinga Witma.


"Mas jangan lakukan ini, badanku sudah terasa sangat sakit!" Witma merintih kesakitan persis seperti orang yang sedang di p*kul.

__ADS_1


...----------------...



__ADS_2