
Reka langsung membeku setelah melihat siapa pelayan wanita itu. "Witma … ."
"Wajah yang selalu menghantuiku di setiap waktu, suara yang selalu aku rindukan, sekarang ada di hadapanku," gumam Witma di dalam benaknya. Saat mendengar Reka menyebut namanya.
Kini mata bulat Witma yang indah mulai berkaca-kaca saat matanya tidak sengaja melihat sudut mata Reka juga yang berair.
Dina teman Witma dengan cepat segera kesana setelah melihat keduanya membeku seperti patung. "Maafkan teman saya Tuan, dia baru saja bekerja di sini," kata Dina.
"Saya tidak apa-apa, kasih tau teman kamu lain kali kalau jalan hati-hati!" ketus Reka. Ia lalu berjalan dengan pelan.
"Apa kamu kerja sambil ngelamun Witma?" Dina bertanya.
"Aku tadi tidak sengaja," jawab Witma.
Dina yang merasa ada yang aneh kembali bertanya, "Apa kamu kenal siapa laki-laki tadi?"
Witma menatap punggung Reka dengan nanar lalu menjawab, "Aku tidak kenal siapa dia."
Saat itu juga langkah kaki Reka terhenti setelah mendengar jawaban Witma yang tidak mengakuinya sebagai mantan suami Reka langsung tersenyum getir.
*
"Kamu dari mana saja Mas? Katanya ke toilet kok lama amat," cetus Lisa.
"Di toilet banyak orang, jadi aku ikut ngantri," ucap Reka berbohong.
"Terus baju kamu kenapa bisa basah begini?"
"Tadi ada pelayan yang tidak sengaja menumpahkan minuman," jawab Reka dengan raut wajah biasa saja.
__ADS_1
"Aku harus lapor ke manajernya suruh ganti rugi," kata Lisa yang langsung berdiri.
"Kamu kenapa sih Lisa, gak usah cari masalah!" Reka memegang pergelangan tangan Lisa. "Duduk! Dan tunggu makanan yang kamu pesan datang."
Lisa heran, karena Reka yang dulu ia kenal sangat pemarah lalu sekarang terlihat biasa saja membuat Lisa menaruh curiga kepada Reka.
*
Di ruang ganti Witma sedang mengganti pakaiannya yang juga ikut basah tadi.
"Woy, ngelamun aja. Tuh, di meja paling ujung nomor 24 anterin pesanan, katanya sih dia maunya kamu yang melayani," ujar salah satu pelayan.
"Nomor 24 oke, aku segera kesana." Witma tidak tahu kalau nomor 24 itu tempat Lisa dan Reka. Ia kemudian bergegas pergi karena ia tidak mau pemilik pesanan sampai menunggu terlalu lama.
Sedangkan Lisa yang dari tadi diam saja, entah mengapa setelah melihat siapa pelayan yang berjalan ke arahnya. Ia tiba-tiba tersenyuman manis.
"Mau kemana kamu? Disini saja duduk disebelah saya," kata Lisa.
"Ya Allah, Kenapa aku harus ketemu dengan mereka berdua disini," batin Witma.
Witma lalu menggeleng sambil berkata, "Saya tidak bisa Nyonya, saya di sini bekerja." Tolak Witma yang tidak mau lagi berurusan dengan Lisa maupun Reka.
"Saya sudah kasih uang lebih ke manajer mu sebagai ganti kamu malam ini khusus jadi pelayan saya," ujar Lisa yang mendapat tatapan tajam dari Reka.
"Apa yang sebenarnya Lisa inginkan, belum puaskah dia menyakitiku dan merebut Mas Reka dariku?" Witma membatin lagi.
Tak lama Lisa mengambil sendok dan garpu. "Sayang, apa kamu mau aku suapin?" Lisa tersenyum ke arah Reka.
"Iya sayang, aku maunya ini." Reka ternyata mengerti apa maksud dan tujuan Lisa. Menahan Witma tetap di sana.
__ADS_1
Wajah Witma tetap datar, ia sama sekali tidak memancarkan tanda-tanda cemburu ataupun kesedihan yang Reka lihat di mimik wajah Witma.
"Kenapa masih berdiri? Kamu duduk di sini." Lisa mempersilahkan Witma duduk.
"Tidak usah nyonya saya berdiri di sini saja." Witma lagi-lagi menolak perintah Lisa.
Lisa mengangguk, tanda ia tidak keberatan kalau Witma berdiri. Dan sekarang Lisa makah memegang tangan Reka. "Sayang kata Ibu, acara tujuh bulanan akan diadakan di rumah kita, gimana menurut kamu?"
"Oh ya, bukankah itu terdengar bagus. Ternyata calon anak kita sudah tujuh bulan saja," jawab Reka.
"Kalau nanti anak kita sudah lahir, Mas mau punya anak berapa dari aku?" tanya Lisa sambil mengedip-ngedipkan sebelah matanya.
"Yang pasti Mas maunya banyak, supaya rumah kita ramai oleh suara tangisan bayi yang lucu-lucu." Seakan Reka tidak punya hati, berbicara begitu di depan Witma. Seolah-olah ia menyindir Witma.
Karena terlalu sakit hati Witma diam-diam mengepalkan tangannya.
"Suatu hari nanti kamu akan menyesal Mas, dan berlutut di hadapanku untuk minta maaf," gumamnya di dalam hati.
Lisa tiba-tiba saja dengan sengaja menjatuhkan tasnya dan saat Witma mengambilnya ia langsung menumpahkan jus lemon ke baju Witma."Ya ampun, saya gak sengaja." Lisa dengan cepat merubah ekspresi wajahnya. Supaya terlihat menyesal karena ia tidak sengaja.
Ingin rasanya Witma berteriak dan mengatakan kalau Lisa wanita yang kurang ajar dan tidak punya malu karena telah merusak rumah tangganya dengan Reka.
"Sayang kita pulang yuk, rasanya dedek bayi mau dijenguk Papanya," seloroh Lisa.
Ia lalu menatap Witma yang sudah berdiri dengan pakaian yang basah. "Kamu bisa pergi, saya sudah tidak membutuhkanmu lagi," kata Lisa.
Tanpa mengucapkan kata Witma langsung pergi begitu saja, dengan membawa rasa kecewa yang teramat dalam.
Reka yang sebenarnya dari tadi diam-diam memperhatikan Witma merasa ada sesuatu yang aneh pada dirinya. Ia membatin, "Mulutku bisa berkata tidak, tapi hati ini entah mengapa rasanya tidak bisa dibohongi." Reka lalu keluar dari cafe itu, ia ingin menuju tempat biasa. Dimana ia bisa mendapatkan ketenangan sekaligus kesenangan.
__ADS_1