
"Ma, seharusnya Mama bicarakan ini semua dulu denganku jangan asal ambil keputusan sendiri seperti ini," ucap Arash yang berusaha mengontrol emosinya karena ia tidak mungkin berbicara lantang kepada Rose mengingat mamanya itu orang yang gampang meneteskan air mata di saat salah satu anaknya ada yang berbicara keras. "Kalau aku tahu begini mending aku tidak usah datang," gumamnya lirih yang merasa kecewa dengan Rose. "Mama seperti ini, aku malah semakin merasa kalau Mama sama sekali tidak pernah memikirkan perasaanku."
"Cukup Arash, mama melakukan ini juga demi kebaikanmu sendiri." Rose menghela nafas. Ia tidak menyangka kalau Arash akan bicara begini kepada dirinya. Karena yang ia harapkan bahwa Arash akan berterima kasih padanya dan menerima pertunangan itu tanpa ada drama seperti sekarang ini. Namun, rupanya ia salah ternyata Arash tidak terima dengan apa yang telah ia rencanakan dengan Andri, suaminya itu. "Anja anak yang baik, bukankah dulu waktu kamu kasih kecil kalian berdua begitu saling menyayangi satu sama lain, lalu kenapa sekarang kamu malah berubah menjadi begini Arash?"
"Ma, aku sudah cukup dewasa untuk mencari pendamping hidupku sendiri, tanpa Mama harus main jodoh-jodohan seperti saat ini. Arash benar-benar merasa kecewa karena kelakuan Rose yang begini.
"Meskipun kamu menolak, keputusan mama dan papa sudah bulat bahwa kamu akan bertunangan dengan Anja satu bulan lagi. Karena mama sudah cukup bosan mendengar ucapanmu yang mengatakan akan cari calon menantu buat mama, tapi nyatanya apa? Sampai sekarang kamu masih begini-gini aja di mana kamu masih betah sendiri." Rose sengaja mengucapkan kalimat yang panjang karena ia berharap Arash akan mau mengerti. "Kali ini mama tidak mau menerima penolakan dari kamu dalam bentuk apapun sudah cukup Arash, lagi pula kriteria wanita yang kamu cari itu sudah paket lengkap yang ada pada diri Anja." Lagi-lagi ia memuji Anja berharap jantung Arash sedikit bergetar saat ia mengatakan itu semua.
"Ma, bukan Arash menolak tapi ada hati yang harus dia jaga," ujar Alma yang datang dengan membawa beberapa paper bag. "Kiriman dari besan Mama yang tadi, entah paper bag ini isinya apa, aku tidak tahu dan juga tidak berniat mau tahu," sambung Alma sambil membuang muka saat ia di tatap Arash.
"Apa maksud kamu Alma, hati siapa yang sedang Arash jaga?" tanya Rose sambil mengambil paper bag yang isinya hanya Author yang tahu. "Apa Arash sudah punya calon begitu maksud kamu?"
"Aku pulang dulu dan aku sangat berharap apa yang terjadi malam ini hanya sebuah mimpi." Sesaat setelah mengatakan itu Arash menyambar kunci mobilnya dan langsung pergi, tak lupa ia tadi sempat mengucapkan salam.
***
"Gimana apa abang sudah bertemu dengan nenek?"
__ADS_1
Arash tersenyum sambil menggeleng. "Ternyata bukan Nenek, maafkan aku yang sudah salah menanggapi ucapan Kak Alma."
"Terus siapa?"
"Cuma makan malam sama teman-teman Mama," jawab Arash. Karena tadi ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan memberitahu Witma masalah yang tadi. "Apa kamu sudah makan?" tanyanya demi mengalihkan pembicaraan mereka.
Witma menatap Arash lekat-lekat. "Apa abang sedang menyembunyikan sesutau dariku?" Ia malah bertanya begitu ketika melihat netra Arash yang sendu. Karena entah mengapa ia menjadi curiga. "Bibir abang bisa tersenyum, tapi tatapan abang tidak bisa berbohong."
"Kenapa malah memperhatikan mataku, bukannya menjawab pertanyaannku, hm?" Arash mencubit gemas hidung Witma.
"Tidak ada yang aku sembunyikan darimu, percayalah mataku terlihat sendu begini karena aku kurang tidur saja. Hanya karena urusan pekerjaan yang tidak ada habis-habisnya." Arash hanya bisa mengalihkan pembicarakannya lagi supaya Witma tidak curiga.
Pada akhirnya Witma hanya bisa percaya dengan apa yang Arash katakan meskipun ia belum sepenuhnya percaya.
*
*
__ADS_1
"Habis ngapain keramas pagi-pagi begini?" Alma bertanya saat melihat Arash dengan rambut basah yang datang ke rumah Rose.
"Kakak sudah tahu apa yang sering suami dan istri lakukan jadi, buat apa Kakak bertanya begitu?" Arash malah bertanya balik kepada sang kakak.
Alma mendesis karena kesal. "Bekas orang kamu embat juga Arash, yang masih gadis dan bersegel malah kamu abaikan." Ia sengaja berkata begitu. "Anja, gadis baik yang sudah menutup auratnya sejak masih sekolah dasar, di jamin dia masih begini." Ia mengangkat jari jempolnya. "Perawan 100% jadi tidak usah di ragukan lagi."
"Kak aku datang cuma mau mengembalikan ini," kata Arash yang memberikan Alma kotak persegi empat yang berwarna merah muda.
"Kembalikan saja ke Mama, karena Kakak tidak mau di kira terlalu ikut campur." Alma tidak mau mengambil kotak merah yang isinya dua pasang cincin. "Sana masuk saja, berhubung Anja ada di dalam juga dia katanya membawakan kamu kue dan juga puding kesukaanmu."
"Aku buru-buru Kak jadi, nggak sempat ma–"
"Abang Arash," panggil Anja memotong kalimat Arash.
...****************...
__ADS_1