Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Berduka


__ADS_3

"Ikhlaskan Witma, supaya Ibu pergi dengan tenang."


Witma mendengar suara Fatimah yang berkata dengan menahan tangis. Ia merasa ruangan kini semakin dipenuhi banyak orang, lantai yang ia pijak seolah bergoyang dan pandangannya mulai mengabur begitu mendengar Furqon mengucap syahadat. Ia lalu berkata, "Tidak! Ibu tidak boleh pergi meninggalkan kami!" Witma berteriak histeris. Sebelum semuanya menjadi gelap dan pekat serta tubuhnya terhempas melayang. Namun, ia masih mendengar suara-suara panik memanggil namanya.


Arash yang ternyata juga ada di sana mengusap wajahnya beberapa kali ia tidak menyangka kalau Ratih akan pergi secepat ini.


"Arash, tolong bantu kakak untuk mengangkat Witma ke atas bed di sebelah Ibu," pinta Fatimah kepada Arash karena tidak mungkin ia meminta Furqon membantunya di saat ia melihat Tami juga butuh bantuan karena pada detik itu juga Tami pingsan bersamaan dengan Witma.


Arash dengan cepat mengangkat tubuh Witma setelah mendengar ucapan Fatimah namun sebelum itu ia sempat bertanya, "Apa tidak masalah, aku menggendong tubuh Witma. Kak Furqon?" Arash takut nanti malah terjadi masalah makanya ia bertanya terlebih dahulu.


Furqon menggeleng. "Untuk kali ini saja tidak apa-apa," jawabnya lirih. Karena saat ini ia juga merasa rapuh di saat melihat malaikat tak bersayapnya sudah tidak bernyawa lagi. Kini gilirannya menggendong tubuh Tami untuk dibawa ke ruangan sebelah karena ruangan Ratih hanya ada dua bed saja.


*


"Ibu jangan pergi …," kata Witma berulang-ulang kali.


Fatimah yang masih setia berada di dekat Witma berkata, tatkala mendengar bibir tipis Witma mengucapkan kalimat itu-itu saja berulang kali. Meskipun mata Witma masih tertutup dengan sempurna. "Witma, sadar. Istighfar, Dek."


Tidak berselang lama Witma membuka matanya usai mendengar Fatimah memanggil namanya berulang-ulang. Aroma kayu putih terasa hangat dan segar memenuhi hidungnya begitu ia menarik nafas. "Bukankah ini di rumah?"


Perlahan ia mengerjapkan mata dan menatap langit-langit, dengan lampu yang sedikit agak terang membuat keningnya mengkerut sebab silau. Ia sejenak mengumpulkan nyawa karena belum bisa memahami peristiwa yang telah dialaminya. Hingga beberapa detik hatinya menjadi perih dan sesak setelah menoleh ke samping di mana ia melihat tubuh sang ibu sudah diselimuti kain putih dan juga suara orang-orang yang sedang mengaji meskipun masih terdengar remang-remang di indra pendengarannya.

__ADS_1


"Mas, Witma sudah sadar." Fatimah memanggil Furqon.


Furqon yang mendengar itu bergegas menghampiri. "Bantu dia untuk bangun, Dek," ujar Furqon. "Dia harus melihat Ibu sebelum dikafankan," lanjutnya. Karena mau bagaimanapun ia harus segera membawa jenazah sang ibu untuk dibawa ke masjid supaya bisa disholatkan sebelum dimakamkan. Namun, sebelum itu ia ingin membiarkan Witma melihat Ratih untuk yang terakhir kalinya.


Dengan dibantu Fatimah dan juga Furqon, Witma akhirnya bisa berjalan dengan pelan menuju Ratih yang sudah terbujur kaku.


"Kamu boleh menangis, tapi ingat jangan sampai air matamu mengenai kulit Ibu," ujar Furqon memperingati Witma. "Dan satu lagi, jangan ucapkan kata-kata yang dapat membuat kepergian Ibu menjadi tidak tenang," sambungnya lagi. Setelah itu ia dan Fatimah duduk di bawah kaki Ratih memberikan Witma ruang.


Witma mengangguk pelan mendengar Furqon, ia kemudian duduk dan akan membuka kain putih yang menutup wajah Ratih. Namun, lagi-lagi pandangannya menjadi buram karena genangan air mata yang sudah siap akan tumpah. "Ibu, Witma sudah ikhlas jadi, Ibu istirahatlah yang tenang. Maafkan Witma yang belum bisa membahagiakan Ibu." Witma memeluk tubuh Ratih sambil terus menahan air matanya supaya tidak jatuh. "Witma berjanji akan menjaga Tami, seperti yang sering Ibu katakan."


Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahu Witma. "Ikhlaskan Nak, Jangan sampai air matamu membuat Almarhum ibumu. Berat untuk meninggalkan dunia ini sebab salah satu putri mereka belum sepenuhnya Ikhlas," kata Badrun, yang ternyata datang setelah mendapat kabar duka dari salah satu temannya yang kebetulan sekampung dengan Witma. "Kata ikhlas tidak cukup hanya diungkapkan di lisan saja. Tapi di sini," ujarnya menepuk d*danya sendiri beberapa kali.


Iya, Witma akui dirinya belum sepenuhnya ikhlas karena mau bagaimanapun ia masih sangat membutuhkan sosok ibu. Mengingat tidak ada lagi tempatnya berlindung ataupun berkeluh kesah di saat dunia semakin hari semakin begitu kejam.


*


*


Langit yang tadinya cerah tiba-tiba menjadi mendung, gerimis pun mulai membasahi bumi seolah ikut bersedih dengan kepergian Ratih. Hingga beberapa saat gerimis yang tadi kini malah berubah menjadi hujan yang begitu lebat namun Witma tampak enggan untuk beranjak dari makam sang ibu.


"Lihat Bu, Witma seperti kehilangan separuh jiwa … ."

__ADS_1


"Witma juga merasa tidak ada semangat lagi untuk tetap bertahan hidup di dunia yang kejam ini, Bu."


"Ibu, kenapa harus secepat ini? Dan kenapa Witma merasa Allah selalu tidak adil?"


"Setelah mengambil Ayah kini giliran Ibu yang Engkau ambil, kenapa harus orang-orang yang begitu hamba sayangi?"


"Apa juga ini salah satu cara Engkau menguji hamba?"


Witma terus saja berdialog di dalam hatinya sampai ia tidak menyadari kalau Arash ternyata sudah berdiri di belakangnya sambil memayungi dirinya


"Ini sudah hampir petang Witma, apa kamu mau terus-menerus berada di sini?" tanya Arash. "Tami juga mencarimu di rumah, apa kamu masih tetap teguh dengan pendirianmu?"


Witma mendongak melihat wajah Arash yang juga sendu. "Apa di rumah kakak, ada yang sengaja meracuni Ibu?" Tiba-tiba saja Witma berkata begitu, karena mengingat perkataan Tami yang mengatakan. "Sepulang dari pengajian Ibu langsung kejang-kejang." Di tambah dokter juga mengatakan bahwa Ratih keracunan makanan.


Akan tetapi sampai detik ini Witma belum berani mengatakan kepada Furqon tentang masalah ini. Mengingat ia juga harus memiliki bukti yang akurat karena ia takut jatuhnya malah menjadi fitnah.


Arash beristighfar mendengar kalimat yang keluar dari mulut Witma. Ia memang sempat mendengar penjelasan dokter yang mengatakan Ratih keracunan makanan yang menyebabkan semua saraf-syaratnya melemah sehingga mengalami koma selama tiga hari tiga malam sebelum menghembuskan nafas terakhir. Namun, ia sama sekali tidak sampai berpikiran sampai di sana kalau di rumahnya lah tempat Ratih keracunan.


"Apa kamu yakin dengan ucapanmu itu?"


"Iya, fealing Witma mengatakan kalau di rumah kakaklah, Ibu keracunan karena sepulang dari sanalah Ibu kejang-kejang lalu mengeluarkan busa dari mulutnya," kata Witma menjawab Arash.

__ADS_1


"Jika benar pasti semua yang datang pada pengajian malam itu juga akan keracunan, termasuk Tami, tapi tidak kan. Jadi, kemungkinan besar ibu keracunan di tempat lain."


__ADS_2