Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Anja Bukan Gadis Lugu


__ADS_3

"Pasti Witma saat ini sedang gelisah karena sampai sekarang aku belum pulang," gumam Arash pelan sambil melihat jam di pergelangan tangannya. "Sudah jam 22:01 semoga saja dia tidak curiga aku pulang agak larut malam nanti," katanya sambil melihat Anja yang masih sibuk memilih bunga-bunga sesuai dengan yang dipesan oleh Rose.


Namun, setelah ia merasa sudah menunggu terlalu lama pada akhirnya ia memutuskan untuk menghampiri Anja. Karena saat ini ia sedang memikirkan Witma yang sendirian di rumah sedangkan Tami ternyata malam ini ada acara di sekolahnya yang membuatnya harus menginap. Itu yang membuat seorang Arash dilanda kegelisahan karena sang istri telah ia bawa ke rumah yang satunya lagi dimana rumah itu hanya satu-satunya yang letaknya di puncak.


"Abang, mama kira-kira sukanya bunga apa?" tanya Anja saat melihat Arash mendekatinya.


Arash menghela nafas karena ia merasa Anja adalah salah satu wanita menyebalkan yang ia kenal, karena rupanya dari tadi Anja hanya diam saja belum memilih satupun bunga. "Pilih bunga apa saja yang penting warnanya putih." Meskipun Arash kesal ia rupanya tetap menjawab pertanyaan Anja.


"Kata tante, dia sukanya bunga tulip sama anggrek. Tapi disini katanya sudah habis yang warnanya putih." Anja mengatakan itu tanpa ada rasa berdosa. Padahal tadi ia bertanya tentang Rose yang suka bunga apa kepada Arash. Lalu sekarang ia malah mengatakan kalau Rose suka bunga tulip dan anggrek ia benar-benar ingin menguji kesabaran Arash. "Abang kita harus gimana ini? Bunga yang tante mau ada tapi warnanya yang jadi masalah."


Andai Arash tega pasti akan meninggalkan Anja sendiri saking kesalnya. Karena ia merasa telah buang-buang waktu menunggu terlalu lama.


"Abang kok malah diem, tante kira-kira nggak marah 'kan jika aku membeli yang warnanya merah seperti ini?" Anja menunjuk salah satu bunga tulip yang berwarna merah menyala.


"Ambil saja, nanti kalau Mama marah biar aku saja yang membawanya pulang kerumahku." Arash menjawab Anja dengan wajah yang begitu datar.

__ADS_1


"Tapi aku takut tente akan marah sama ki–"


"Ini sudah pukul 22:30," potong Arash cepat. "Gadis seperti Anja tidak baik keluyuran sampai terlalu malam begini." Ia ingin memperingati Anja supaya tahu kalau wanita itu tidak pantas sampai terlalu malam keluar rumah.


"Nggak apa-apa abang kan, calon suamiku," sahut Anja dengan enteng dan tenang. "Dan juga, sebentar lagi abang akan bisa melihat seluruh tubuh yang memakai gamis ini," lanjutnya sambil tersenyum genit.


Arash langsung mengucap istighfar di dalam benaknya, ia jadi curiga sepertinya Anja bukanlah wanita yang seperti diceritakan oleh mama dan kakaknya yang katanya Anja adalah wanita yang tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun. Tapi melihatnya tanpa ada rasa malu saat mengatakan itu tadi membuat Arash semakin yakin kalau Anja ini sebenarnya bukan wanita yang lugu dan polos. "Mama dan Kak Alma rupanya sudah salah menilai Anja, sepertinya aku harus mulai menyelidiki siapa sebenarnya Anja ini," gumamnya membatin.


"Anja, lebih baik aku mengantarmu pulang saja, biar nanti bunganya di antar saja ke rumah Mama jika nanti stok bunga tulip dan anggreknya yang berwarna putih sudah ada," kata Arash yang kemudian pergi dari sana.


*


*


"Kemana kamu pergi membawa je la ng itu Arash?!" Suara Alma begitu lentang.

__ADS_1


Sehingga membuat Arash refleks menjauhkan ponsel itu dari telinganya.


"Kak Alma, ucap salam dulu jangan langsung marah-marah nggak jelas begini." Arash berusaha mengingatkan sang kakak.


"Tidak perlu Arash kakak cuma mau bertanya kemana kamu membawa wanita gatel itu pergi?"


"Ada apa Kakak mencari istriku, apa Kakak mau memberikan kami hadiah pernikahan?" Arash malah bertanya balik kepada Alma. "Jika iya, maka aku mau Kakak membelikan kami tiket bulan madu ke luar Negeri sebagai hadiahnya. Bagimana apa Kakak setuju?"


"Jangan mimpi kamu Arash!" bentak Alma dengan suara yang sedikit meninggi. "Kakak akan memberikanmu hadiah pernikahan jika kamu menikah dengan Anja. Apa sampai sini kamu paham?"


"Jodohku sudah Witma Kak, dia sekarang juga sudah sah menjadi istriku. Jadi, buat apa Kakak dan Mama terus-terusan memaksakan aku untuk bersama dengan Anja?"


"Dasar keras kepala di kasih pilihan gadis malah mempertahankan janda!" desis Alma di seberang telepon. "Apa susahnya kamu menceraikannya, dan kamu langsung saja menikah dengan Anja, berhubung Mama dan Papa belum tahu semuanya," lanjutnya berharap Arash mau mendengarkannya.


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengucapkan itu Kak, karena aku telah berjanji akan sehidup semati dengan Witma," balas Arash menimpali Alma. Ia kemudian memutuskan sambungan teleponnya.

__ADS_1


......................



__ADS_2