Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
MP (Malam Pertama)


__ADS_3

Witma terlebih dahulu membaringkan badan diatas ranjang dengan cara meluruskan kakinya. Tidak lama tiba-tiba Arash menyusul dan segera berbaring di sebelahnya.


"Menurutmu apa malam ini akan berlangsung tanpa ada halangan?" tanya Arash sambil menoleh ke arah samping supaya ia bisa melihat wajah sang istri.


Witma yang ditanya hanya diam saja karena tiba-tiba saja ia merasa gugup, meski ini bukan yang pertama kali baginya tapi entah mengapa di saat ia melihat tatapan Arash yang tampak berbeda ia merasa detak jantungnya memompa lebih kuat lagi.


"Sayang …," panggil Arash dengan suara paru. Dan tanpa diduga tangannya telah menarik simpul tali piyama yang dikenakan Witma sehingga menampakkan kulit putih bagaikan susu yang menerawang karena balutan lingerie tipis. Jemarinya menelusuri garis wajah sang istri mulai dari mata, pipi, hidung dan berakhir di bibir yang berwarna pink alami mengusapnya beberapa kali dengan perlahan menggunakan jari telunjuknya. "Mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan sayang," bisiknya sambil menggigit kecil daun telinga Witma.


Tubuh Witma terasa meremang di saat mendapat perlakuan lembut dari Arash seperti ini yang tidak pernah ia dapat sama sekali dari Reka. Ia lalu berusaha mengatur nafasnya agar tetap normal di sela jantungnya yang semakin berdegup kencang. Tangannya perlahan berusaha ingin menutup lagi piyama karena ia malu melihat tatapan mata sang suami yang penuh memuja namun Arash menggeleng melarangnya.


"Sayang, apakah rasa cintamu yang dulu masih tersimpan untukku di dalam sini?" Arash menunjuk d*da Witma sambi beringsut mengikis jarak dan ia membaringkan badannya dengan sebelah kakinya menyilang di paha Witma.


Witma mengangguk kecil, karena bibir Arash bermain-main di lehernya bulu halus di tangan dan tengkuknya meremang. Jemarinya mencengkram seprai sebab bibir Arash menyesap lehernya pelan dan dalam dengan satu tangan menyusup ke balik baju lingerienya. Dan sepertinya beberapa stempel pertama telah terukir sempurna si leher putih mulusnya.


Witma juga langsung memejamkan mata menikmati setiap sentuhan yang Arash berikan karena sentuhan itu menimbulkan sensasi yang membuai.


"Aku akan mulai sekarang," kata Arash dengan suara yang terdengar berat menyapu telinga Witma. Ia juga sempat mengecup puncak kepala sang istri dengan penuh rasa sayang sambil membaca doa.


بِسْمِ اللهِ اَللّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا


"Bismillah, Allahumma jannibnaassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa."

__ADS_1


Artinya: Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami.


Sampai di sini, dan kalian semua pasti tahu apa yang terjadi selanjutnya silahkan kalian berimajinasi masing-masing sesuai isi otak kalian.


***


Aroma mint dan sentuhan tangan yang terasa dingin membuat Witma terpaksa membuka matanya, ia merasa baru saja terlelap setelah sang suami beberapa kali berhasil membawanya melambung terbang tinggi ke atas awan.


"Sayang, mandi dulu terus kita sholat subuh berjamaah," ucap Arash berbisik sambil mengecup mesra dahi sang istri. "Sayang, bangun nanti keduluan sama matahari," sambungnya yang melihat Witma kembali memejamkan mata.


"Abang, sebentar lagi," sahut Witma yang kini terlihat menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang masih polos. "Sebentar saja, aku masih sangat ngantuk," ucapnya dengan suara serak.


Sedangkan Witma yang kaget hanya bisa pasrah di saat Arash membenamkan wajah di antara dua gunung kembarnya. Dan kembali lagi terjadi adegan adu gambrut di atas ranjang yang dingin kini kembali terasa panas lagi.


*


*


"Apa masih sakit?"


Witma yang mendengar pertanyaan Arash menunduk malu ketika mereka berdua sedang sarapan.

__ADS_1


"Kalau sakit bilang saja, biar nanti abang membelikanmu salep yang ada di apotik," ujar Arash yang kembali mengunyah sarapannya.


"Tidak usah bang, ini hal yang wajar kalau lama-lama pasti aku akan terbiasa," kata Witma dengan rasa malu yang kian menjadi-jadi, ia juga sempat heran kenapa terasa sangat sakit padahal dirinya seorang janda bukan gadis yang masih tersegel.


"Apa aku bermain terlalu kasar?" Kalimat pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Arash tanpa ia tahu sang istri semakin merasa malu.


"Abang tidak menyesalkan telah menikahiku setelah tahu letak kekurangan seorang janda?" Meski malu Witma tetap bertanya begitu dengan mengabaikan pertanyaan sang suami.


Arash meraih tangan Witma yang ada di atas meja lalu membawanya ke bibirnya untuk dicium beberapa kali. "Jutsu abang merasa bahwa abang adalah salah satu manusia yang paling beruntung, karena telah berhasil menikahi wanita yang menjadi cinta pertama abang jadi, menurut abang tidak ada yang perlu disesali." Arash menjawab dengan jujur karena ia memang benar-benar bahagia bisa memiliki Witma dan juga ia merasa sempurna sebagai suami setelah berhasil memberikan Witma nafkah batin.


Mendengar itu Witma semin merasa bahwa jodoh kedua yang dikirimkan oleh Allah adalah sosok laki-laki yang selalu ia sebut-sebut di dalam sujudnya dan di setiap doanya. "Terima kasih abang, karena telah bersedia menerima setiap kekuranganku, dan aku berharap abang tidak akan pernah bosan dalam hal mengingatkanku tentang mulutku ini yang sering kali lancang untuk meminta kata pisah."


"Tolong ingatkan abang juga, jika mulut ini tidak sengaja mengucapkan kata-kata yang melukai hatimu karena abang juga manusia biasa yang bisa khilaf kapan saja," balas Arash yang meminta Witma untuk mengingatkannya. "Abang juga minta kelak apapun yang terjadi jangan pernah ada niat untuk meninggalkan abang dalam keadaan apapun," lanjutnya lagi.


Saat Witma akan membalas ucapan Arash tiba-tiba gedoran pintu dari luar sangat terdengar dengan jelas.


"Sayang, kamu bisakan masuk dulu ke dalam kamar sepertinya itu suara Kak Alma." Arash menyuruh Witma untuk masuk kedalam kamar. "Jangan lupa kunci pintunya, dan jangan pernah dibuka jika bukan abang yang memintanya," ujarnya sambil mengelus kepala Witma. "Jangan bertanya tentang apapun untuk saat ini, karena abang belum bisa menjawabmu lebih baik sekarang sayang masuk ya," pintanya. Karena rupanya itu bukan suara Alma melainkan suara kedua orang tua Anja.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2