
Meskipun Reka menunjuk wajah Arash dengan tatapan yang tidak suka ia masih tetap terlihat santai, itu yang membuat Reka malah semakin meradang.
"Keluar! Aku tidak suka ada orang lain disini." Reka menatap Arash dengan tatapan yang sangat tajam. "Jangan membuat kesabaranku habis!" geramnya karena ia kesal melihat Arash yang masih diam saja di sana.
"Tidak sadarkah Anda, bahwa Anda juga orang lain di sini." Arash yang memang tutur bahasanya halus dan akhlaknya baik tidak akan terpancing dengan manusia seperti modelan Reka. "Sini saya beritahu, Anda dan Witma sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi karena tepat hari ini masa iddah Witma berakhir." Ia tersenyum saat mengatakannya. "Saya tidak bermaksud apa-apa, andai saja saling mengingatkan itu suatu hal yang baik bagi kita umat Nabi Muhammas SAW."
Reka mendekati Arash dan tanpa perhitungan ia menarik kerah bajunya. "B*c*t!! Kamu lebih baik keluar saja, tidak perlu mengingatkan aku tentang hal itu." Kini wajah Reka yang tadi putih berubah menjadi merah.
__ADS_1
Arash melepaskan tangan Reka dari baju yang ditarik. "Maaf, tangan Anda sangat tidak sopan melakukan ini. Dan juga mohon bekerja sama jaga sedikit sikap Anda karena saat ini kita sedang berada di rumah sakit." Arash memperbaiki leher bajunya yang telah di tarik Reka. "Jangan buat keributan, kasihan orang-orang yang sakit nanti malah jadi ngedrop lagi gara-gara kelakuan Anda yang brutal, tidak mengenal tempat asal berteriak tanpa memikirkan resikonya." Wajahnya yang terlihat teduh sama sekali tidak membuat Reka sadar kalau ia adalah laki-laki yang tidak mudah terpancing dengan emosi.
Reka yang mendengar itu mengepalkan tangannya dengan sangat kuat di bawah sana sehingga urat-urat tangannya kelihatan menonjol. "Jika kamu tidak ingin melihatku berteriak maka cepat keluar," kata Reka sambil menunjuk pintu yang masih terbuka lebar. "Lebih cepat lebih baik, karena saat ini aku sangat ingin berdua dengan Witma."
"Saya akan tetap disini, mau Anda mengusir saya seribu kali ataupun sampai mulut Anda berbusa saya tetap tidak akan mau keluar." Arash membenarkan posisi duduknya sambil memasukkan earphone yang tadi ke kedua indra pendengarannya.
Sedangkan Witma yang merasa terganggu dengan suara Reka perlahan mulai membuka matanya, ia lalu beberapa kali mengerjap-ngerjapkan netranya. Berharap apa yang ia lihat saat ini salah dimana ia melihat sosok yang sangat ia kenal meskipun saat ini posisi Reka membelakanginya. "Mas Reka," panggilnya lirih dengan suara serak.
__ADS_1
Detik itu juga Reka langsung berbalik dan semakin mendekat kerah bed. "Witma, maaf aku baru bisa datang menjengukmu." Reka berusaha mengatur nafasnya yang tadi sempat memburu karena marah dengan Arash. "Kenapa kamu bisa begini? Padahal waktu menjadi istriku kamu tidak pernah sakit sampai diinfus begini." Ia terlihat sedikit bersedih entah ini hanya enting untuk mengambil simpati Witma atau ini serius. Hanya ia yang tahu semuanya.
"Kenapa mas bisa ada disini?" Witma malah menanyakan tentang kenapa Reka bisa datang ke rumah sakit. Bukannya menjawab pertanyaan Reka yang tadi. "Dan dari mana mas tahu kalau aku sakit?"
Arash hanya memperhatikan keduanya ia juga ternyata berpura-pura tidak mendengar percakapan keduanya padahal earphonenya sama sekali tidak menyala.
"Kamu tidak perlu tahu itu semua Witma, yang terpenting aku datang kesini untuk mengajakmu rujuk," ucapan Reka langsung membuat Arash dan Witma terkejut.
__ADS_1