Aku Yang Kaubuang

Aku Yang Kaubuang
Reka Mau Rujuk


__ADS_3

"Reka mau rujuk dengan Witma," kata Reka secara tiba-tiba di depan Endang dan juga Badrun. "Apa Bapak sama Ibu setu—"


"Tidak! Ibu tidak setuju Reka," potong Endang cepat. "Bisa-bisanya kamu ingin rujuk dengan Witma disaat Lisa sekarang sudah melahirkan calon penerus buat kamu!" lanjutnya dengan intonasi suara yang sedikit lantang.


"Ibu, Reka sama Bapak juga sudah tahu kalau bayi itu bukan anak Re—"


"Mau anak kamu atau bukan, bayi itu akan tetap menjadi anak kamu Reka. Pokoknya Ibu tidak sudi kalau kamu mau rujuk dengan wanita b*doh itu," desis Endang.


Reka menunduk mendengar ucapan Endang yang sepertinya tidak akan pernah menyetujui kalau dirinya ingin rujuk dengan Witma.


Badrun melihat Reka dan Endang secara bergantian sebelum ia membuka suara.


"Jika kamu ingin benar-benar rujuk datanglah ke rumahnya berhubung Furqon, kakaknya masih ada disana," ujar Badrun karena ia merasa saat ini Reka benar-benar ingin rujuk dengan Witma. "Sebelum masa iddahnya usai, cepat temui saja Witma dan bicara dari hati ke hati semoga dia mau rujuk dengan kamu," sambungnya lagi.


Endang yang mendengar itu langsung saja mendobrak meja yang ada di depannya saat ini karena ia tidak terima kalau Badrun mendukung keinginan Reka. Brakk …. "Meskipun Bapak setuju ataupun seluruh penduduk bumi ini juga setuju, Ibu tetap tidak akan membiarkan Reka dan Witma bersama lagi sebab keputusan ada ditangan Ibu!" seru Endang berbicara lantang. "Buat kamu Reka, buang niat kamu itu jauh-jauh karena kamu sudah tahu sendiri jawaban yang akan Ibu berikan yaitu tidak, sekali tidak akan tetap tidak sampai Ibu menghembuskan nafas terakhir!"


"Bu, kenapa Ibu malah berkata begitu tidakkah Ibu kasihan melihat Reka dalam keadaan begi—"


"Bapak lebih baik tutup mulut." Lagi-lagi Endang memotong kalimat Badrun. "Jika memang Reka mau beristri dua kenapa tidak menikah saja dengan Lusi wanita karir yang jauh lebih kaya dari pada Lisa, bukan malah ingin rujuk dengan Witma wanita miskin dan tidak punya malu itu." Entah terbuat dari apa otak dan hati Endang sampai tega mengatakan itu menyuruh Reka menikah dengan Lusi dan malah menghina serta merendahkan Witma.


"Astagfirullah … Bu, nyebut Bu. Kenapa Ibu malah menentang niat baik Reka dan sekarang Ibu menyuruh Reka juga menikah lagi. Ya Allah, sadar Bu dunia ini hanya sementara buat apa Ibu sangat tergila-gila dengan harta." Badrun menggeleng ia tidak menyangka kalau istrinya yang dulu baik hati malah jadi begini hanya demi uang. "Buat kamu Reka dengarkan kata hatimu Nak," ucap Badrun tanpa memperdulikan ekspresi Endang yang saat ini terlihat menatap dirinya dengan tatapan sinis. "Kalau begitu Bapak mau sholat isya dulu," pamitnya karena ia tidak mau kalau sampai masalah ini di besar-besarkan Endang bisa-bisa perdebatan akan semakin panjang mengingat Endang tidak mudah mengalah.

__ADS_1


*


*


"Kamu dari mana saja sih, Mas, kenapa baru pulang?" tanya Lisa saat melihat Reka.


"Bukan urusanmu, karena tugasmu mulai sekarang mengurus bayi cacat itu!" jawab Reka ketus yang kemudian merebahkan tubuhnya di atas sopa.


"Kenapa dia menjadi bicara seperti ini kepadaku, apa jangan-jangan pelat dan juga susuk yang aku kenakan sudah tidak berguna lagi?" gumam Lisa di dalam benaknya bertanya-tanya pada dirinya. "Jika benar, aku harus cepat menemui mbah Imah karena aku tidak mau kehilangan Reka mengingat aku sudah menaruh rasa padanya," lanjutnya lagi membatin.


"Kenapa kamu malah menatapku begitu? Apa kamu tidak suka dengan kalimat yang tadi aku lontarkan?" Reka menatap Lisa intens saat bertanya demikian.


"Aku capek!" desis Reka. "Dan aku mau minta tolong kalau kamu jangan dekat-dekat lagi denganku mulai sekarang karena air asi baunya amis," sambung lagi.


Lisa menarik dasi Reka karena ia merasa sangat kesal. "Bau amis, bukankah bau itu yang dulu Mas suka?"


"Tidak dengan sekarang Lisa, andai kamu tahu berdekatan begini juga denganmu aku merasa risih. Mungkin karena aku sudah tidak memiliki rasa denganmu lagi," kata Reka jujur.


"Bulsit! Aku tiak perduli yang penting aku sangat mencintaimu Mas." Mood Lisa yang tadi bagus tiba-tiba saja menjadi ambyar gara-gara Reka.


*

__ADS_1


*


Pagi harinya saat Reka dan Lisa sedang sarapan bersama.


"Mas kata ibu apa benar kamu mau rujuk sama Witma?" tanya Lisa sambil mengunyah sarapannya.


"Iya, aku mau mengajak wanita mandul untuk rujuk, apa kamu keberatan?" Reka langsung tutup poin tidak mau berbasa basi.


Senyum licik Lisa terukir. "Aku tidak keberatan, justru aku merasa senang karena Witma bisa membantu kita mengurus Lire," ujarnya sambil memegang tangan Reka. "Lire, nama bayi cacat kita. Apa Mas setuju kalau namanya Lire singkatan nama kita berdua?"


Detik itu juga Reka menyemburkan makanan yang sedang ia kunyah saat mendengar ucapan Lisa. "Tidak usah bawa-bawa namaku Lisa, jika kamu mau memberikan nama pada bayi itu beri saja nama ayahnya. Bukan malah namaku yang kamu gunakan," kata Reka sambil mengelap mulutnya dengan tisu.


"Lire nama yang bagus buat bayi yang cacat seperti dia." Lisa melirik ke stroller.


"Bagus katamu, tapi kataku tidak!" Reka membanting sendoknya karena ia kesal. "Ganti namanya atau aku tidak akan pernah mau pulang kesini lagi." Reka mengancam Lisa berharap tidak memberikan bayi itu namanya.


(Hai kakak-kakak, jangan lupa mampir juga ke karya temanku ya, di jamain tidak kalah serunya😊).


Disini👇 Judul :Talak Aku! Author/Napen: Arion Alfattah


__ADS_1


__ADS_2